Harga pakan ayam melonjak, sementara harga telur stagnan. Peternak di Jogja terjepit biaya produksi dan mulai menanggung kerugian.
Tabooo.id – Senin pagi di Malioboro biasanya ramai oleh wisatawan, pedagang, dan lalu lintas manusia. Namun, pada 10 Agustus 2026, puluhan peternak membawa 1.600 ayam petelur ke kawasan tersebut.
Mereka tidak datang untuk menjual ayam.
Paguyuban Peternak Petelur Yogyakarta (P3Y) justru membagikan ayam itu secara gratis kepada warga. Aksi tersebut menjadi simbol keresahan setelah biaya pakan terus melonjak dalam dua hingga tiga bulan terakhir.
Di balik pembagian itu, ada persoalan yang jauh lebih besar.
Peternak ayam petelur di DIY menghadapi biaya produksi yang naik, sementara harga telur di tingkat peternak tetap tertahan.
Ketika Pakan Naik, Harga Telur Diam
Perwakilan P3Y, Andry Patra, menyebut harga pakan sebagai persoalan utama peternak dalam beberapa bulan terakhir.
Pakan ayam petelur terdiri atas jagung, konsentrat, dan bekatul. Komposisinya mencapai sekitar 50 persen jagung, 30 persen konsentrat, dan 20 persen bekatul.
Setiap ayam membutuhkan sekitar 120 gram pakan per hari.
Angka itu terlihat kecil untuk satu ekor ayam. Namun, hitungannya berubah ketika jumlah ternak mencapai jutaan ekor.
Andry mengatakan biaya pakan campuran kini hampir mencapai Rp8.000 per kilogram. Tiga bulan sebelumnya, biaya tersebut masih sekitar Rp6.200 per kilogram.
Artinya, biaya pakan naik sekitar 30 persen.
Sementara itu, harga telur di tingkat peternak masih berada di sekitar Rp20.000 per kilogram. Bahkan, harga tersebut pernah turun sampai Rp18.000 per kilogram.
Biaya produksi naik. Harga jual justru tertahan.
Kondisi itu membuat ruang keuntungan peternak semakin sempit.
Menjual Telur Belum Tentu Menghasilkan Untung
Menurut Andry, peternak membutuhkan harga telur sekitar Rp24.000-Rp25.000 per kilogram agar bisa mencapai titik impas.
Dengan harga sekitar Rp20.000, selisihnya mencapai Rp4.000-Rp5.000 per kilogram.
Sekilas, angka itu mungkin terlihat kecil.
Namun, peternak harus mengalikan selisih tersebut dengan jumlah produksi setiap hari. Karena itu, kerugian bisa membesar ketika volume produksi juga besar.
Persoalan lain muncul dari sisi populasi.
P3Y mencatat sekitar 1.000 peternak ayam petelur berada di seluruh DIY. Mereka memelihara sekitar 5 juta hingga 6 juta ayam petelur.
Dalam beberapa waktu terakhir, investor baru ikut masuk. Peternak lama pun menambah populasi.
Akibatnya, produksi telur meningkat ketika daya serap pasar tidak tumbuh dengan kecepatan yang sama.
Hukum pasarnya sederhana.
Ketika pasokan telur berlebih, harga sulit naik. Ketika pakan mahal, biaya produksi sulit turun.
Peternak akhirnya terjepit dari dua arah.
Gejolak Global Sampai ke Kandang
Kenaikan biaya pakan juga berkaitan dengan kondisi di luar peternakan.
Andry menyebut gejolak geopolitik global ikut mendorong kenaikan harga minyak dunia. Selain itu, pelemahan rupiah terhadap dolar AS turut memengaruhi harga bahan baku industri pakan yang masih berasal dari impor.
Dengan begitu, perubahan ekonomi global akhirnya masuk ke kandang peternak di Yogyakarta.
Konsumen mungkin tidak melihat hubungan tersebut.
Mereka hanya melihat harga telur di pasar. Sebaliknya, peternak harus menghitung seluruh biaya sebelum sebutir telur sampai ke tangan pembeli.
Pakan harus tersedia setiap hari.
Kesehatan ayam juga harus terjaga.
Tenaga kerja tetap membutuhkan biaya.
Distribusi pun memerlukan ongkos.
Pada saat yang sama, harga telur bisa berubah mengikuti kondisi pasar.
Akibatnya, kenaikan satu komponen biaya saja dapat memangkas keuntungan.
Geopolitik yang berlangsung jauh dari Yogyakarta akhirnya terasa di kandang dalam bentuk harga pakan.
Mengapa Harus Membagi 1.600 Ayam?
Di tengah tekanan tersebut, P3Y membawa 1.600 ayam ke kawasan Malioboro.
Kemudian, mereka membagikan ayam itu secara gratis kepada masyarakat.
Bagi sebagian orang, aksi tersebut mungkin terlihat seperti kegiatan sosial.
Namun, peternak membawa pesan yang berbeda.
Mereka ingin pemerintah melihat beban yang muncul ketika populasi ternak terlalu besar sementara biaya pakan terus naik.
Karena itu, pembagian ayam juga menjadi cara untuk mengurangi jumlah ternak.
Semakin sedikit ayam, semakin kecil kebutuhan pakan.
Langkah tersebut tentu bukan solusi ideal.
Peternak justru melepas aset yang seharusnya menghasilkan pendapatan. Namun, pilihan itu bisa menjadi cara untuk mengurangi beban ketika biaya pemeliharaan terus berjalan.
Ayam yang semestinya menjadi sumber pendapatan berubah menjadi beban biaya.
Di titik tersebut, krisis tidak lagi hanya soal harga.
Krisis mulai menyentuh kemampuan peternak untuk mempertahankan usaha.
Pemerintah Mencoba Menekan Harga Jagung
Pemerintah DIY bersama Bulog kini mendorong stabilisasi pasokan dan harga pangan atau SPHP jagung.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian DIY Agung Ludiro menyebut harga jagung di tingkat petani sekitar Rp6.800 per kilogram.
Melalui SPHP jagung, pemerintah menargetkan penyaluran 4.000 ton dengan harga Rp5.000 per kilogram.
Kebijakan tersebut bisa membantu menekan salah satu komponen biaya.
Namun, jumlah tersebut belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan peternak ayam di DIY.
Karena itu, kebijakan tersebut baru menyentuh sebagian persoalan.
Peternak masih menghadapi biaya konsentrat dan bekatul. Mereka juga harus menghadapi tekanan harga telur akibat tingginya populasi.
Dengan demikian, menurunkan harga jagung saja belum cukup.
Peternak membutuhkan ekosistem produksi yang membuat usaha mereka kembali masuk akal.
MBG Bisa Menjadi Jalan Keluar
Pemerintah juga mencoba memperbesar permintaan telur melalui program Makan Bergizi Gratis.
Kementerian Pertanian tengah mendorong kemitraan antara peternak dan satuan pelayanan pemenuhan gizi atau SPPG.
Menurut Agung, sebagian besar SPPG selama ini memperoleh telur melalui pedagang perantara.
Jika SPPG membeli langsung dari peternak, rantai distribusi dapat menjadi lebih pendek. Dengan begitu, peternak berpeluang memperoleh harga yang lebih baik.
Namun, skema tersebut tetap membutuhkan kepastian penyerapan.
Produksi harus terserap secara konsisten.
Harga pembelian juga harus memberi ruang bagi peternak untuk menutup biaya produksi.
Jika kedua hal itu berjalan, MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Program tersebut juga bisa membantu menjaga keberlanjutan usaha peternak.
Masalahnya Lebih Besar dari Harga Pakan
Anggota Komisi A DPRD DIY Sofyan Darmawan mengatakan pihaknya akan mengkaji persoalan tersebut bersama organisasi perangkat daerah.
Targetnya jelas: mencari harga pakan yang lebih terjangkau dan masuk akal secara keekonomian.
Langkah itu penting.
Namun, pemerintah perlu melihat rantai produksi secara menyeluruh.
Masalahnya tidak berhenti pada harga jagung. Rantai tersebut mencakup bahan baku, industri pakan, distribusi, peternak, pedagang, dan konsumen.
Jika pemerintah hanya menekan satu titik, tekanan bisa berpindah ke titik lain.
Peternak juga tidak meminta harga telur naik tanpa batas.
Mereka membutuhkan harga yang memungkinkan usaha tetap berjalan.
Sebaliknya, konsumen membutuhkan harga yang tetap terjangkau.
Di antara dua kepentingan itu, pemerintah harus menjaga keseimbangan.
Harga murah tidak boleh berarti peternak harus terus menjual rugi.
1.600 Ayam Itu Sebuah Alarm
Pembagian ayam di Malioboro seharusnya tidak berhenti sebagai foto unik.
Aksi tersebut menunjukkan tekanan yang sedang terjadi di tingkat produsen.
Ketika peternak mulai mengurangi populasi karena biaya pakan terlalu tinggi, masalahnya tidak lagi berhenti di kandang.
Produksi telur bisa ikut terpengaruh.
Pasokan kemudian bisa berubah.
Pada akhirnya, konsumen juga berpotensi merasakan dampaknya melalui perubahan harga.
Karena itu, keberlangsungan peternak berkaitan langsung dengan rantai pangan.
Telur bukan sekadar komoditas.
Bahan pangan tersebut hadir di meja makan keluarga. Telur juga masuk dalam berbagai kebutuhan pangan masyarakat.
Jika produsen tidak mampu bertahan, persoalannya akan bergerak lebih jauh.
Hari ini peternak menghitung kerugian. Besok masyarakat bisa menghitung dampaknya.
Ayam Tidak Mengenal Geopolitik
Konsumen tentu menginginkan telur dengan harga terjangkau.
Keinginan itu wajar.
Namun, harga murah di pasar memiliki cerita berbeda di tingkat peternak.
Peternak tetap harus membeli pakan ketika harga naik. Mereka juga harus memberi makan ayam ketika harga telur turun.
Ayam tidak mengenal pelemahan rupiah.
Ayam tidak memahami konflik geopolitik.
Setiap hari, ayam tetap membutuhkan pakan.
Karena itu, peternak menjadi pihak yang menanggung berbagai perubahan yang tidak bisa mereka kendalikan.
Pada akhirnya, tekanan itu memaksa peternak menghitung ulang kelayakan usahanya. Kenaikan harga bahan baku ikut menggerus margin, sementara pasar menekan harga jual. Pertumbuhan populasi ayam yang semakin tinggi membuat persaingan semakin ketat. Semua tekanan itu bertemu di satu titik: biaya terus naik, tetapi ruang keuntungan semakin sempit.
Yang terlihat murah di pasar bisa berarti margin yang semakin tipis di kandang.
Ini Bukan Sekadar Pembagian Ayam
Pada akhirnya, 1.600 ayam di Malioboro membawa pesan yang jauh lebih besar.
Pada akhirnya, tekanan itu terasa di banyak sisi. Peternak mulai menghitung ulang kelayakan usaha mereka ketika biaya pakan terus meningkat dan harga telur tetap tertahan. Populasi ayam yang berlebih turut mempersempit ruang keuntungan. Di saat yang sama, gejolak global ikut menekan harga bahan baku. Pemerintah pun kini mencari jalan keluar agar tekanan tersebut tidak semakin dalam.
Semua persoalan itu bertemu pada satu titik.
Peternak tidak bisa terus menjual rugi.
Karena itu, pembagian ayam tersebut layak dibaca sebagai alarm.
Ini bukan sekadar aksi protes.
Ini adalah tanda bahwa sistem produksi pangan mulai tertekan ketika biaya terus naik, sementara produsen kehilangan ruang untuk menentukan harga.
Jika peternak terus mengurangi populasi, siapa yang menjaga pasokan?
Jika usaha peternakan berhenti karena tidak lagi ekonomis, siapa yang mengisi kandang?
Lalu, jika produsen pangan tidak mampu bertahan, masihkah harga murah menjadi kabar baik?
Sebab, telur yang sampai ke meja makan tidak muncul begitu saja.
Ada kandang di belakangnya.
Ada peternak di balik kandang.
Dan hari ini, mereka sedang meminta satu hal sederhana jangan biarkan usaha mereka mati pelan-pelan hanya karena biaya untuk bertahan terus naik. @dimas








