Di Malioboro, ayam dibagikan gratis kepada warga. Tapi ini bukan cerita soal peternak yang sedang berbagi rezeki. Di balik ribuan ayam afkir itu, ada biaya pakan yang melonjak dan harga telur yang jatuh hingga membuat peternak terus menanggung rugi.
Tabooo.id: Ada yang terasa janggal di Malioboro pada 10 Agustus 2026.
Sekilas, aksi itu terlihat seperti bentuk berbagi.
Masalahnya, peternak tidak sedang kelebihan ayam.
Mereka sedang kesulitan membiayainya.
Ayam Tetap Makan Saat Harga Telur Jatuh
Peternak yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Petelur Yogyakarta membawa ayam afkir ke kawasan Malioboro dan DPRD DIY.
Aksi dimulai pada pagi hari. Mereka membagikan ayam berusia lebih dari 80 hingga 90 minggu kepada masyarakat.
Namun, di balik aksi tersebut ada hitungan ekonomi yang brutal.
Ayam tetap membutuhkan pakan setiap hari. Sementara itu, harga pakan sudah melonjak 30 hingga 40 persen dalam beberapa bulan terakhir.
Harga pakan jadi berada di sekitar Rp7.900 hingga Rp8.000 per kilogram. Biaya pakan sendiri menyumbang sekitar 60 hingga 70 persen dari total biaya operasional peternakan layer.
Pada saat yang sama, harga telur justru bergerak ke arah sebaliknya.
Harga telur di tingkat peternak sempat jatuh hingga Rp12.000–Rp15.000 per kilogram. Setelah itu, harga bertahan di sekitar Rp22.000 per kilogram.
Padahal, pemerintah menetapkan Harga Acuan Pembelian sebesar Rp26.500 per kilogram. Peternak memperkirakan titik impas usaha berada di sekitar Rp24.000–Rp25.000 per kilogram.
Artinya, setiap kilogram telur bisa membuat peternak kehilangan sekitar Rp4.000 hingga Rp6.000.
Semakin banyak produksi, semakin besar pula lubang kerugiannya.
Yang Naik Pakan, Yang Jatuh Harga Jual
Inilah tekanan sebenarnya.
Peternak menghadapi dua pukulan sekaligus yaitu biaya produksi naik ketika pendapatan dari hasil produksi justru turun.
Dalam ekonomi, kondisi ini dikenal sebagai double squeeze.
Bahan baku pakan seperti soybean meal ikut terdorong naik. Jagung pakan lokal juga mencapai sekitar Rp7.000 per kilogram.
Peternak tidak punya banyak ruang untuk menghindar.
Mereka tetap harus membeli pakan agar ayam bertahan. Namun, mereka juga harus menjual telur yang mudah rusak meski harga pasar sedang buruk.
Di sinilah posisi peternak rakyat menjadi rapuh.
Pabrik pakan memiliki ruang lebih besar untuk meneruskan kenaikan biaya bahan baku. Peternak mandiri justru menghadapi posisi tawar yang lebih lemah ketika menjual hasil produksinya.
Telur tidak bisa disimpan selamanya.
Peternak akhirnya berhadapan dengan pilihan yang sama-sama buruk: menjual murah atau menanggung biaya penyimpanan dan pakan lebih lama.
Ayam Gratis Ternyata Lebih Murah daripada Memeliharanya
Di titik tertentu, ayam afkir bukan lagi aset.
Ia berubah menjadi biaya berjalan.
Ayam tua menghasilkan telur lebih sedikit. Namun, kebutuhan pakannya tidak berhenti.
Ketika harga ayam afkir hidup juga turun ke sekitar Rp13.000–Rp14.000 per kilogram, menjualnya tidak lagi memberi jalan keluar yang layak.
Karena itu, membagikan ayam secara gratis menjadi bentuk pengurangan kerugian.
Kedengarannya absurd.
Tetapi secara ekonomi, logikanya sederhana: lebih baik kehilangan nilai ayam sekali daripada terus membayar pakan untuk ternak yang produktivitasnya rendah.
Jadi, ayam yang berpindah tangan di Malioboro bukan simbol kelimpahan.
Itu simbol ketika biaya mempertahankan produksi sudah terasa lebih mahal daripada kehilangan asetnya.
Bukan Sekadar Aksi Peternak, Tapi Senggol Struktur
Persoalannya tidak berhenti pada harga telur hari ini.
Dokumen analisis menunjukkan adanya ketimpangan dalam rantai pasok perunggasan. Peternak mandiri menghadapi pedagang perantara dan penyalur grosir dengan daya tawar yang terbatas.
Peternak rakyat tidak berada dalam posisi yang sama.
Mereka membeli input dengan harga pasar. Setelah itu, mereka menjual hasil produksi dalam pasar yang harga jualnya tidak sepenuhnya berada di tangan mereka.
Ruang di tengahnya semakin sempit.
Dan ketika ruang itu hilang, yang pertama dikorbankan bukan margin keuntungan.
Modal hidup peternak yang terkikis.
Harga Acuan Ada, Tapi Peternak Tetap Merugi
Di atas kertas, angka HAP Rp26.500 per kilogram terlihat seperti perlindungan.
Namun, harga acuan tidak otomatis menjadi harga yang benar-benar diterima peternak.
Ketika harga lapangan turun jauh di bawah angka tersebut, selisihnya tetap harus ditanggung pelaku usaha di kandang.
Karena itu, persoalan utamanya bukan sekadar berapa harga telur hari ini.
Pertanyaannya jauh lebih keras:
Siapa yang menanggung selisih ketika harga pasar tidak lagi masuk akal bagi orang yang memproduksinya?
Pemerintah dan sejumlah lembaga terkait telah menampung tuntutan peternak. Isinya mencakup penurunan harga pakan, stabilisasi harga telur, jaminan pasokan jagung, penanganan populasi ayam tua, serta penguatan kelembagaan peternak.
Tetapi langkah sementara tidak otomatis mengubah struktur yang membuat peternak terus rentan.
Yang Dibagikan di Malioboro Sebenarnya Bukan Ayam
Malioboro hari itu menerima ayam gratis.
Namun pesan yang dibawa peternak jauh lebih mahal.
Mereka sedang menunjukkan bahwa sebuah usaha bisa tetap menghasilkan telur, tetapi kehilangan kemampuan untuk menghasilkan kehidupan yang layak bagi pemiliknya.
Ini bukan soal ayam yang terlalu banyak.
Ini soal biaya yang terus berjalan ketika harga jual tidak mampu mengejarnya.
Dan ketika peternak memilih memberikan ayam secara cuma-cuma, publik seharusnya tidak hanya bertanya, “Lumayan dapat ayam gratis.”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Seberapa rusak sebuah rantai usaha sampai menjual hasil produksi sendiri terasa lebih merugikan daripada memberikannya?
Karena kalau ayam mulai dibagikan untuk mengurangi kerugian, masalahnya bukan lagi kandang.
Masalahnya sudah masuk ke sistem. @waras






