Tabooo.id: Nasional – Menjelang Ramadan, satu komoditas kembali bikin gelisah: minyak goreng rakyat, Minyakita. Harga rata-rata nasionalnya masih melampaui harga eceran tertinggi (HET) yang pemerintah tetapkan.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengakui fakta itu. Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), harga rata-rata nasional Minyakita saat ini menyentuh Rp16.020 per liter. Padahal pemerintah mematok HET di angka Rp15.700 per liter.
“Memang yang di atas HET, misalnya Minyakita, hari ini harganya Rp16.020. HET-nya Rp15.700,” kata Budi di Kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Rabu (18/02/2026).
Selisihnya memang “hanya” Rp320 per liter. Namun menjelang Ramadan, setiap rupiah punya arti bagi jutaan rumah tangga.
Sudah Turun, Tapi Belum Sampai Target
Meski harga masih di atas HET, Budi menegaskan tren sudah membaik. Sebelum terbitnya Permendag Nomor 43 Tahun 2025, harga rata-rata Minyakita bahkan sempat menyentuh Rp16.800 per liter.
Regulasi itu mewajibkan produsen melalui BUMN pangan menyalurkan minimal 35 persen Domestic Market Obligation (DMO) untuk pasar dalam negeri. Dengan kebijakan tersebut, pemerintah berharap pasokan bertambah dan harga terkendali.
Saat ini, realisasi penyaluran DMO baru mencapai sekitar 30 persen. Artinya, pasokan memang bergerak naik, tetapi belum memenuhi batas minimal.
“Semua berproses. Dari sisi ketersediaan sudah hampir 30 persen, minimal 35 persen,” ujar Budi.
Namun bagi konsumen, proses tak selalu berarti harga turun cepat.
Tangerang Sudah Rp17.500 per Liter
Di lapangan, situasinya lebih panas. Di Kabupaten Tangerang, Banten, harga Minyakita bahkan melonjak ke Rp17.500 per liter. Angka ini jauh melampaui HET Rp15.700.
Neni, pedagang sembako di Pasar Tradisional Mauk, mengaku sudah menjual di harga tersebut sejak pertengahan Januari.
“Memang setiap mau Ramadan pasti naik. Dari distributor sudah naik sekitar Rp5 ribu per karton,” ujarnya.
Kenaikan ini bukan hanya soal momentum musiman. Distributor menaikkan harga lebih dulu, lalu pedagang menyesuaikan agar tetap mendapat margin.
Sementara itu, Bupati Tangerang Maesyal Rasyid menyebut keterlambatan distribusi dari Bulog sebagai penyebab lonjakan.
“Hanya memang ada kenaikan Rp1.000 karena distribusinya telat datang dari Bulog,” katanya.
Di sinilah persoalan klasik muncul ketika distribusi tersendat, harga langsung melonjak.
Siapa Diuntungkan, Siapa Dirugikan?
Dalam situasi ini, produsen relatif diuntungkan karena permintaan naik menjelang Ramadan. Distributor pun memiliki ruang tawar lebih besar saat pasokan belum stabil.
Sebaliknya, masyarakat kecil menanggung beban paling besar. Minyak goreng bukan barang mewah. Hampir semua rumah tangga membutuhkannya setiap hari, apalagi saat Ramadan ketika aktivitas memasak meningkat.
Pedagang kecil juga terjepit. Mereka harus membeli lebih mahal dari distributor, tetapi tetap menghadapi tekanan pembeli yang menuntut harga sesuai HET.
Pemerintah berada di tengah. Regulasi sudah keluar, DMO sudah diwajibkan, namun implementasi belum sepenuhnya menutup celah distribusi.
Ramadan dan Ujian Stabilitas Harga
Lonjakan harga menjelang hari besar bukan cerita baru. Namun publik berharap pemerintah belajar dari pola berulang ini.
Jika rata-rata nasional saja masih di atas HET, maka potensi lonjakan di daerah jelas lebih besar. Apalagi ketika distribusi belum mencapai target 35 persen.
Ramadan seharusnya membawa ketenangan, bukan kecemasan soal harga kebutuhan pokok.
Kini pertanyaannya sederhana apakah kebijakan cukup kuat menekan harga, atau Minyakita akan kembali jadi ritual tahunan naik saat rakyat paling membutuhkannya?. @teguh




