• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Deep

Guru BK, Orangtua, dan Negara: Pilar Baru Melawan Kekerasan di Sekolah

November 23, 2025
in Deep
A A
Guru BK, Orangtua, dan Negara: Pilar Baru Melawan Kekerasan di Sekolah

Ilustrasi seorang siswa yang terdampak perundungan, menggambarkan urgensi regulasi anti-bullying di sekolah. (Foto ilustrasi Dimas P Tabooo.id)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Ada satu kalimat dari Hetifah Sjaifudian yang terasa seperti alarm darurat “Kita sudah darurat kekerasan.” Kalimat itu bukan hiperbola. Ia terdengar seperti seseorang yang akhirnya mengakui bahwa rumah besar bernama sekolah yang seharusnya menjadi tempat tumbuh sudah mulai retak dari fondasinya.

Pengakuan itu muncul di tengah rencana penyusunan Permendikdasmen anti-bullying yang baru. Bukan sekadar revisi teknis di balik meja kementerian, melainkan upaya menambal luka sosial yang makin melebar. Dan untuk pertama kalinya, DPR membuka pintu lebih lebar: guru BK, psikolog, orangtua, hingga himpunan pemerhati kekerasan akan ikut bicara.

Di atas kertas, ini tampak seperti prosedur birokrasi biasa. Tapi jika diperiksa lebih dekat, langkah ini menggambarkan satu hal negara akhirnya sadar bahwa bullying bukan kasus per kasus melainkan ekosistem.

RelatedPosts

Kiamat Tidak Menunggu Zona Waktu

Pantai yang Kita Banggakan, atau yang Kita Abaikan?

Sekolah: Ruang Aman yang Sudah Lama Tidak Aman

Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial dipenuhi video anak-anak dipukul, diarak, ditelanjangi, atau dipermalukan. Semua dalam bentuk rekaman HD yang diunggah tanpa rasa bersalah. Di balik layar, kita menyaksikan bagaimana kekerasan berubah wujud dari bayangan gelap lorong sekolah menjadi tontonan viral.

Hetifah menyebut toilet gelap, lorong-lorong sekolah yang sepi, dan minimnya pengawasan. Hal-hal sederhana yang mungkin dianggap sepele, tetapi dalam kasus bullying, detail adalah medan perang. Tempat yang gelap bisa berubah menjadi arena intimidasi. Bangku yang jauh dari pandangan guru bisa menjadi kursi penghakiman.

Kalau sekolah adalah panggung, maka selama ini anak-anak tampil tanpa sutradara. Banyak dari mereka meniru apa yang mereka lihat di rumah atau di lingkungan: kekerasan sebagai bahasa sehari-hari.

Guru BK dan Orangtua: Dua Pihak yang Harus Berhenti Cuek

Di bagian lain, Hetifah menyentil peran guru BK. Bukan untuk menyalahkan, melainkan menunjukkan blind spot besar yang sering dilupakan: pelaku bullying kerap kali adalah korban yang tak terlihat.

Cerita tentang anak yang berperan sebagai “penguasa” di sekolah, tapi menjadi korban bentakan atau bahkan kekerasan fisik di rumah, bukan hal baru. Namun, sistem pendidikan sering bekerja seperti alat scan otomatis mendeteksi gejala tanpa membaca riwayat.

Di sinilah kritik Hetifah terasa relevan anak-anak tak bisa lagi diperlakukan sebagai baris data mereka adalah cerita penuh variabel.

Orangtua juga berada di garis depan. Selama bertahun-tahun, banyak kasus bullying hanya ditangani lewat rapat mendadak di ruang BK, pesan singkat yang dipenuhi saling tuding, atau permintaan maaf formal yang tidak pernah menyentuh akar persoalan. Sekarang, keterlibatan mereka bukan lagi opsi melainkan syarat agar sekolah tidak menjadi arena kekerasan yang diwariskan lintas generasi.

Regulasi Baru: Humanis, Partisipatif, dan Harus Realistis

Menteri Abdul Mu’ti menyebut regulasi baru akan lebih humanis dan partisipatif. Kata yang indah, tetapi tantangannya nyata bagaimana memastikan nilai-nilai itu bekerja di sekolah yang jumlah muridnya 3.000, guru BK-nya hanya dua, dan anggaran kesejahteraannya pas-pasan?

Pendekatan humanis tak bisa berhenti di modul. Ia butuh pelatihan, ruang konsultasi yang layak, relasi yang lebih egaliter antara guru dan murid, dan pengakuan bahwa kekerasan sering tumbuh diam-diam di ruang yang tidak pernah diperiksa.

Partisipatif berarti tidak ada suara yang diabaikan. Termasuk suara murid yang sering dianggap terlalu kecil untuk diperhitungkan, padahal merekalah yang berada di medan pertempuran sehari-hari.

Implikasinya? Besar. Sangat besar.

Secara sosial, langkah ini bisa menjadi titik balik saat negara mengakui bahwa kekerasan bukan hanya “kenakalan remaja” melainkan cermin keretakan relasi sosial yang lebih besar.

Secara politik, DPR dan Kemendikdasmen sedang mencoba menghapus citra bahwa sekolah adalah dunia steril. Mereka mengakui bahwa sistem lama gagal, dan keberanian mengaku gagal adalah langkah pertama untuk memperbaiki.

Secara ekonomi, bullying adalah beban jangka panjang. Kesehatan mental yang rusak menciptakan generasi pekerja yang rapuh di dunia kerja yang makin brutal persaingannya.

Regulasi Saja Tidak Cukup

Permen anti-bullying ini penting. Tetapi regulasi hanya peta dan peta tidak akan mengubah apa pun jika para penggunanya tidak mau bergerak.

Sekolah yang aman bukan produk kebijakan, tapi hasil gotong-royong guru yang lebih peka, orangtua yang lebih hadir, murid yang berani bersuara, masyarakat yang berhenti menormalisasi kekerasan.

Indonesia darurat kekerasan. Tapi darurat juga berarti satu hal: semua orang akhirnya harus turun tangan. @dimas

Tags: Anti BullyingDarurat KekerasanGuru BKKekerasan di SekolahOrang Tua PeduliPencegahan BullyingPerlindungan AnakPermendikdasmenSekolah AmanStop Perundungan
Next Post
Kapal Tua, Harga Premium: Akuisisi yang Menggoyang Wibawa BUMN

Kapal Tua, Harga Premium: Akuisisi yang Menggoyang Wibawa BUMN

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Kiamat Tidak Menunggu Zona Waktu

    Kiamat Tidak Menunggu Zona Waktu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pantai yang Kita Banggakan, atau yang Kita Abaikan?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jubir IRGC Tewas Diserang AS-Israel, Konflik Iran Kian Memanas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • ASUS Bawa AI ke Level Baru: Zenbook S14 OLED Bisa “Mikir Sendiri” Tanpa Internet

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lebaran 2026: Prabowo Undang Ribuan Warga ke Istana Kepresidenan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.