Tabooo.id: Regional – Bencana datang tanpa aba-aba. Air naik, tanah runtuh, dan rumah berubah jadi kenangan. Di Aceh, hari-hari pascabencana masih berjalan pelan. Warga bertahan dengan apa yang tersisa. Dalam situasi seperti ini, bantuan bukan sekadar logistik. Ia menjadi tanda negara masih melihat, atau justru lupa.
Pekan ini, Gubernur Aceh Muzakir Manaf angkat suara. Ia menyampaikan apresiasi terbuka kepada Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman. Bantuan kemanusiaan yang masuk ke Aceh, kata Mualem, termasuk yang terbesar dalam penanganan bencana kali ini. Di tengah kondisi darurat, ukuran bantuan sering menentukan satu hal sederhana bisa makan hari ini atau tidak.
Bantuan Tiba Saat Luka Masih Terbuka
Mualem menyampaikan terima kasih itu saat meninjau langsung kedatangan bantuan melalui jalur laut, Kamis (18/12/2025). Ia tidak menunggu situasi benar-benar aman. Ia datang ketika lumpur belum kering dan warga masih membersihkan sisa banjir dari rumah mereka.
“Terima kasih Bapanas, terima kasih banyak yang sebesar-besarnya karena sudah ada bantuan seperti ini,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di Aceh, kata “tepat waktu” punya arti panjang. Bantuan yang datang cepat sering kali lebih berharga daripada janji yang datang belakangan.
KRI Surabaya dan Logistik yang Bicara Lebih Keras
Bantuan tersebut tiba menggunakan KRI Surabaya 591 yang berlayar langsung dari Jakarta. Kapal perang itu kali ini tidak membawa senjata. Ia membawa beras, kebutuhan pokok, dan pesan yang lebih penting negara masih bergerak.
Pemerintah memilih jalur laut karena akses darat dan udara kerap terhambat saat bencana. Di saat seperti ini, laut menjadi jalur harapan. Setiap peti logistik yang diturunkan menjadi bukti bahwa kehadiran negara tidak selalu berbentuk pidato.
Di Balik Bantuan, Ada Kerja Sunyi
Mualem juga menyebut mereka yang jarang disorot kamera. Kru kapal yang mengangkut bantuan, petugas distribusi, hingga relawan di lapangan. Mereka bekerja tanpa banyak kata, tetapi memastikan bantuan benar-benar sampai.
“Terima kasih kepada kru-kru kapal semuanya. Semoga kita diselamatkan dan diberi panjang umur,” tambahnya.
Ucapan itu mengingatkan satu hal bantuan tidak pernah turun dari langit. Ia sampai karena ada orang-orang yang memilih tetap bekerja di tengah risiko dan kelelahan.
Bantuan Tahap Kedua dan Ujian Konsistensi
Penyaluran ini merupakan bagian dari bantuan tahap kedua hasil kolaborasi Kementerian Pertanian, Bapanas, dan mitra strategis. Pemerintah juga menyalurkan bantuan serupa ke Medan, Sumatera Utara, dan Padang, Sumatera Barat. Tujuannya jelas menjangkau wilayah terdampak secara lebih merata.
Namun bantuan selalu punya batas. Ia meringankan, tapi tidak menyembuhkan sepenuhnya. Setelah logistik habis dibagikan, warga masih menghadapi pekerjaan panjang membangun hunian sementara, memulihkan ekonomi, dan menata ulang hidup yang sempat hanyut.
Negara Dinilai dari Kelanjutannya
Pemerintah Aceh berharap dukungan pusat tidak berhenti pada pengiriman bantuan. Publik menilai negara bukan dari satu kapal yang merapat, melainkan dari konsistensi setelah sorotan kamera pergi.
Aceh tahu betul soal ini. Bencana sering datang cepat, tetapi pemulihan kerap berjalan lambat. Di titik inilah negara diuji, bukan oleh pujian hari ini, melainkan oleh kehadiran esok hari.
Sebab bagi warga terdampak, bantuan terbaik bukan yang paling besar angkanya. Bantuan terbaik adalah yang datang tepat waktu dan tidak menghilang setelah berita selesai dibaca. @dimas







