Sabtu, Juni 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Gerindra 18 Tahun: Dari Cibiran ke Pusat Kekuasaan

by sigit
Februari 7, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasioanal – Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) genap berusia 18 tahun pada 6 Februari 2026. Usia ini menandai fase kedewasaan sebuah partai yang sejak lahir kerap dicap nekat, diragukan, bahkan diremehkan. Namun kini, arah cerita berubah. Gerindra berdiri sebagai kekuatan utama politik nasional sekaligus kendaraan ideologis Presiden ke-8 RI, Prabowo Subianto.

Dengan kata lain, partai yang dulu dianggap eksperimen kini justru mengemudi negara.

Manifesto Besar, Risiko Besar

Sejak awal, Gerindra mengusung manifesto ambisius: kemandirian ekonomi, kedaulatan politik, dan pembangunan karakter bangsa. Di atas kertas, gagasan ini terdengar heroik. Namun di lapangan, jalannya penuh rintangan. Terlebih lagi, publik melekatkan Gerindra pada satu figur sentral: Prabowo Subianto.

Sebagai pemimpin nasionalis-populis, Prabowo tampil konsisten membawa narasi kerakyatan. Meski demikian, ia juga memikul kontroversi dan resistensi politik yang tidak kecil.

Nama Besar dan Beban Sejarah

Prabowo tidak datang dari ruang hampa. Ia adalah putra begawan ekonomi Soemitro Djojohadikoesoemo dan menantu Presiden Soeharto. Warisan ini memberinya modal simbolik, tetapi sekaligus membebaninya dengan sejarah panjang Orde Baru.

Ini Belum Selesai

Kirab Pusaka di Tengah Dualisme: Tradisi atau Legitimasi?

Bank Dunia: Orang Kaya Nikmati Mayoritas Subsidi BBM

Karena itu, setiap langkah politik Prabowo selalu berada di bawah sorotan. Ia bukan hanya diuji sebagai politisi, tetapi juga sebagai representasi masa lalu yang belum sepenuhnya selesai.

Kalah Dulu, Baru Mendirikan Jalan

Faktanya, jalan Prabowo menuju kekuasaan tidak dimulai dari karpet merah. Pada 2004, ia kalah di Konvensi Capres Partai Golkar. Elite partai menolak gagasan ekonomi kerakyatannya yang menekankan pertanian sebagai fondasi industrialisasi. Golkar memilih Wiranto.

Alih-alih menyerah, Prabowo memilih keluar dari zona nyaman. Pada 2008, ia mendirikan Gerindra. Saat itu, banyak pihak menilai langkah ini irasional. Prabowo meninggalkan partai besar demi membangun kendaraan politik dari nol.

Yang diuntungkan dari keputusan ini adalah kader-kader yang mendambakan alternatif. Sebaliknya, status quo politik lama justru merasa terusik.

Konsistensi yang Mengubah Persepsi

Seiring waktu, cap “nekat” berubah menjadi bukti konsistensi. Gerindra selalu lolos parliamentary threshold dan terus menaikkan perolehan suara:

  • 2009: 4,46% (26 kursi)
  • 2014: 11,81% (73 kursi)
  • 2019: 12,57% (78 kursi)
  • 2024: 13,22% (86 kursi)

Tren ini memperlihatkan satu realitas politik: Gerindra dan Prabowo sulit dipisahkan. Prabowo bukan sekadar ketua umum, melainkan simbol ideologis partai.

Di satu sisi, personifikasi ini memperkuat militansi dan loyalitas kader. Di sisi lain, partai menjadi sangat bergantung pada satu figur. Namun sejauh ini, mesin itu terus berjalan.

Dari Narasi ke Kebijakan

Setelah Prabowo resmi menjadi Presiden, dampak politik Gerindra langsung menyentuh masyarakat. Program Makan Bergizi Gratis, sekolah rakyat, pemeriksaan kesehatan gratis, kenaikan gaji guru, hingga penertiban kawasan hutan menunjukkan terjemahan konkret manifesto lama.

Negara kini memihak masyarakat bawah anak sekolah, guru, petani, dan warga pinggiran. Pada saat yang sama, negara mencabut kenyamanan kelompok elite yang selama ini hidup dari kebijakan setengah hati.

Oposisi Rasional dan Politik Belajar

Menariknya, Gerindra tidak pernah memainkan oposisi buta. Saat berada di luar pemerintahan, partai ini tetap mendukung kebijakan pro-rakyat dan aktif mengkritik kebijakan yang melenceng. Selain itu, tiga kali kekalahan Prabowo di Pilpres justru menjadi ruang evaluasi, bukan alasan perpecahan.

Kekalahan itu mengeras menjadi daya tahan politik dan loyalitas ideologis.

Ujian Sesungguhnya Baru Dimulai

Kini, di usia 18 tahun, Gerindra bukan lagi partai pendatang baru. Ia telah merasakan pahitnya oposisi dan manisnya kekuasaan. Namun pertanyaan terpenting justru muncul sekarang apakah konsistensi ideologis itu mampu bertahan ketika kekuasaan sudah digenggam penuh?

Sebab sejarah politik Indonesia berulang kali mengingatkan, banyak partai tidak runtuh saat kalah melainkan saat terlalu lama merasa menang. @tabooo

Tags: GerindraPartaiPrabowo SubiantoSugiono

Kamu Melewatkan Ini

Investor Sudah Datang, Tapi Mesin Negara Masih Pemanasan?

Investor Sudah Datang, Tapi Mesin Negara Masih Pemanasan?

by teguh
Juni 12, 2026

"Rakyat tidak membutuhkan narasi kemenangan. Rakyat membutuhkan bukti bahwa negara bekerja." Pernyataan pengamat politik Rocky Gerung itu mungkin terdengar sederhana....

Chatib Basri Dipanggil ke Istana, Apakah Purbaya Akan Diganti?

Chatib Basri Dipanggil ke Istana, Apakah Purbaya Akan Diganti?

by dimas
Juni 9, 2026

Chatib Basri bertemu Prabowo selama dua jam di Istana. Apakah ini sekadar konsultasi ekonomi atau sinyal perubahan di Dewan Ekonomi...

Investasi Menjadi Kesejahteraan: Tantangan Terbesar di Balik Isu Reshuffle

Investasi Menjadi Kesejahteraan: Tantangan Terbesar di Balik Isu Reshuffle

by teguh
Juni 8, 2026

Investasi menjadi kesejahteraan adalah ujian terbesar yang sedang dihadapi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Di tengah ramainya spekulasi reshuffle kabinet, tantangan...

Next Post
Jalur Impor yang Direkayasa: Barang KW dan Wajah Gelap Bea Cukai

Jalur Impor yang Direkayasa: Barang KW dan Wajah Gelap Bea Cukai

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id