• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Jumat, Maret 27, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home News Nasional

Gerindra 18 Tahun: Dari Cibiran ke Pusat Kekuasaan

Februari 7, 2026
in Nasional, News
A A
Gerindra 18 Tahun: Dari Cibiran ke Pusat Kekuasaan

Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Sugiono menyampaikan sambutan saat peringatan HUT ke-18 Partai Gerindra di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (6/2/2026). Fraksi Gerindra di DPR menggelar doa lintas agama dan syukuran dalam rangka memperingati HUT ke-18 Partai Gerindra dengan tema Kompak, Bergerak, dan Berdampak. Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Sugiono menyampaikan sambutan saat peringatan HUT ke-18 Partai Gerindra di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (6/2/2026). Fraksi Gerindra di DPR menggelar doa lintas agama dan syukuran dalam rangka memperingati HUT ke-18 Partai Gerindra dengan tema Kompak, Bergerak, dan Berdampak. (ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasioanal – Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) genap berusia 18 tahun pada 6 Februari 2026. Usia ini menandai fase kedewasaan sebuah partai yang sejak lahir kerap dicap nekat, diragukan, bahkan diremehkan. Namun kini, arah cerita berubah. Gerindra berdiri sebagai kekuatan utama politik nasional sekaligus kendaraan ideologis Presiden ke-8 RI, Prabowo Subianto.

Dengan kata lain, partai yang dulu dianggap eksperimen kini justru mengemudi negara.

RelatedPosts

Sekali Balas, Langsung Panas: Iran Guncang Jantung Nuklir Israel

Ruang Aman yang Dikhianati: Kasus Pemerkosaan Guncang Pariwisata Bali

Manifesto Besar, Risiko Besar

Sejak awal, Gerindra mengusung manifesto ambisius: kemandirian ekonomi, kedaulatan politik, dan pembangunan karakter bangsa. Di atas kertas, gagasan ini terdengar heroik. Namun di lapangan, jalannya penuh rintangan. Terlebih lagi, publik melekatkan Gerindra pada satu figur sentral: Prabowo Subianto.

Sebagai pemimpin nasionalis-populis, Prabowo tampil konsisten membawa narasi kerakyatan. Meski demikian, ia juga memikul kontroversi dan resistensi politik yang tidak kecil.

Nama Besar dan Beban Sejarah

Prabowo tidak datang dari ruang hampa. Ia adalah putra begawan ekonomi Soemitro Djojohadikoesoemo dan menantu Presiden Soeharto. Warisan ini memberinya modal simbolik, tetapi sekaligus membebaninya dengan sejarah panjang Orde Baru.

Karena itu, setiap langkah politik Prabowo selalu berada di bawah sorotan. Ia bukan hanya diuji sebagai politisi, tetapi juga sebagai representasi masa lalu yang belum sepenuhnya selesai.

Kalah Dulu, Baru Mendirikan Jalan

Faktanya, jalan Prabowo menuju kekuasaan tidak dimulai dari karpet merah. Pada 2004, ia kalah di Konvensi Capres Partai Golkar. Elite partai menolak gagasan ekonomi kerakyatannya yang menekankan pertanian sebagai fondasi industrialisasi. Golkar memilih Wiranto.

Alih-alih menyerah, Prabowo memilih keluar dari zona nyaman. Pada 2008, ia mendirikan Gerindra. Saat itu, banyak pihak menilai langkah ini irasional. Prabowo meninggalkan partai besar demi membangun kendaraan politik dari nol.

Yang diuntungkan dari keputusan ini adalah kader-kader yang mendambakan alternatif. Sebaliknya, status quo politik lama justru merasa terusik.

Konsistensi yang Mengubah Persepsi

Seiring waktu, cap “nekat” berubah menjadi bukti konsistensi. Gerindra selalu lolos parliamentary threshold dan terus menaikkan perolehan suara:

  • 2009: 4,46% (26 kursi)
  • 2014: 11,81% (73 kursi)
  • 2019: 12,57% (78 kursi)
  • 2024: 13,22% (86 kursi)

Tren ini memperlihatkan satu realitas politik: Gerindra dan Prabowo sulit dipisahkan. Prabowo bukan sekadar ketua umum, melainkan simbol ideologis partai.

Di satu sisi, personifikasi ini memperkuat militansi dan loyalitas kader. Di sisi lain, partai menjadi sangat bergantung pada satu figur. Namun sejauh ini, mesin itu terus berjalan.

Dari Narasi ke Kebijakan

Setelah Prabowo resmi menjadi Presiden, dampak politik Gerindra langsung menyentuh masyarakat. Program Makan Bergizi Gratis, sekolah rakyat, pemeriksaan kesehatan gratis, kenaikan gaji guru, hingga penertiban kawasan hutan menunjukkan terjemahan konkret manifesto lama.

Negara kini memihak masyarakat bawah anak sekolah, guru, petani, dan warga pinggiran. Pada saat yang sama, negara mencabut kenyamanan kelompok elite yang selama ini hidup dari kebijakan setengah hati.

Oposisi Rasional dan Politik Belajar

Menariknya, Gerindra tidak pernah memainkan oposisi buta. Saat berada di luar pemerintahan, partai ini tetap mendukung kebijakan pro-rakyat dan aktif mengkritik kebijakan yang melenceng. Selain itu, tiga kali kekalahan Prabowo di Pilpres justru menjadi ruang evaluasi, bukan alasan perpecahan.

Kekalahan itu mengeras menjadi daya tahan politik dan loyalitas ideologis.

Ujian Sesungguhnya Baru Dimulai

Kini, di usia 18 tahun, Gerindra bukan lagi partai pendatang baru. Ia telah merasakan pahitnya oposisi dan manisnya kekuasaan. Namun pertanyaan terpenting justru muncul sekarang apakah konsistensi ideologis itu mampu bertahan ketika kekuasaan sudah digenggam penuh?

Sebab sejarah politik Indonesia berulang kali mengingatkan, banyak partai tidak runtuh saat kalah melainkan saat terlalu lama merasa menang. @tabooo

Tags: GerindraPartaiPartai Gerakan Indonesia RayaPrabowo SubiantoPrabowo Subianto.Presiden ke-8 RISekjenSugionoulang tahun
Next Post
Jalur Impor yang Direkayasa: Barang KW dan Wajah Gelap Bea Cukai

Jalur Impor yang Direkayasa: Barang KW dan Wajah Gelap Bea Cukai

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Bersua Sang Raja: Momen Langka Warga Bisa Bertatap Langsung dengan Raja Surakarta

    Bersua Sang Raja: Momen Langka Warga Bisa Bertatap Langsung dengan Raja Surakarta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bersua Sang Raja: No Jeans, No Kaos

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mudik Belum Selesai? 71 Persen Kendaraan Masih di Jawa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KRI Prabu Siliwangi Masuk Surabaya: Kekuatan Baru atau Sinyal Laut Makin Memanas?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mutasi Elite TNI Bergerak: Regenerasi atau Sekadar Rotasi Kekuasaan?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.