Tabooo.id: Sports – Sorak lampu panggung menyala, lalu musik menghentak tanpa jeda. Di tengah arena, oktagon berdiri gagah layaknya medan perang modern. Namun bukan cuma pukulan yang jadi sorotan. Di saat yang sama, layar ponsel di tangan ribuan anak muda ikut bersinar karena mereka menonton lewat streaming. Dengan kata lain, dunia combat sport Indonesia bergerak cepat dan Generasi Z langsung mengambil posisi di barisan depan.
Gen Z Serbu Layar Streaming
Seiring tren itu, Vidio mencatat lonjakan penonton Gen Z sepanjang 2025. Bahkan, Managing Director Vidio, Hermawan Sutanto, menyebut jumlah audiens dari generasi ini naik tiga kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
“Pada 2025, penonton Gen Z kami berlipat tiga kali,” ujar Hermawan di HW Livehouse, Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (13/02/2026).
Artinya, kenaikan ini bukan sekadar statistik tahunan. Sebaliknya, angka tersebut menunjukkan perubahan selera yang nyata. Memang, sepak bola masih jadi tontonan utama. Namun kini, generasi muda mulai melirik konten sport lain yang terasa lebih cepat, lebih intens, dan tentu saja lebih “imaging”.
Selain itu, Hermawan menegaskan bahwa Gen Z tidak lagi terpaku pada satu jenis hiburan. “Mereka semakin menonton konten-konten yang beragam. Yang sudah mainstream di Indonesia adalah bola, tapi konten sport ini sesuatu yang baru dan refreshing buat Gen Z,” tambahnya.
Dengan demikian, pergeseran ini memperlihatkan bahwa sport entertainment sedang memasuki babak baru.
ONE Pride Jadi Magnet Baru
Dalam konteks itu, ONE Pride MMA muncul sebagai indikator penting. Ajang ini konsisten membangun kualitas sekaligus karakter sebagai pionir combat sport Tanah Air.
Lebih jauh, Hermawan melihat transformasi nyata di tahun kedua kolaborasi dengan Vidio. Kini konsep tampil lebih segar, fighter makin beragam, dan target audiens pun semakin muda.
“ONE Pride benar-benar bertransformasi untuk memiliki audiens Gen Z, dengan fighter-fighter yang beragam dan konsep baru,” katanya.
Oleh karena itu, musim 2026 menjadi babak krusial. ONE Pride tidak hanya meningkatkan kualitas pertandingan, tetapi juga menjaga konsistensi kejuaraan. Di saat yang sama, mereka membidik pembinaan atlet nasional menuju level internasional melalui program seperti Road to UFC dan beasiswa UFC Performance Institute.
OP 89: Sabuk, Reputasi, dan Harga Diri
Sementara itu, tahun ini empat Fight Night siap digelar. Sebagai pembuka, seri bertajuk OP 89 akan berlangsung pada Sabtu, 11 April 2026 di HW Superhouse Satrio, Jakarta.
Sorotan utama tentu mengarah pada duel perebutan gelar Lightweight antara Windri Patilima (11-2-0) dan Ronald Mastrana Siahaan (8-2-0). Di satu sisi, Windri datang dengan rekor impresif. Di sisi lain, Ronald membawa ambisi besar untuk merebut sabuk. Jadi, laga ini bukan sekadar pertandingan, melainkan pertaruhan reputasi.
Selain partai utama, laga Hystrike antara Pinter Berantem kontra Preman Pensiun juga ikut memanaskan suasana. Dengan demikian, atmosfer dipastikan membara sejak ronde pertama.
Menariknya lagi, musim ini ONE Pride merampingkan divisi. Mereka menonaktifkan kelas Welterweight, Woman Class, Atomweight, dan Strawweight. Sebagai gantinya, kompetisi kini terpusat pada Flyweight, Bantamweight, Featherweight, dan Lightweight. Dari lebih 450 petarung terdata, hanya 50 fighter terpilih masuk roster inti 2026 setelah melalui seleksi ketat berbasis performa dan rekam jejak.
Adapun seluruh laga disiarkan eksklusif lewat sistem pay-per-view di Vidio, sehingga penonton bisa merasakan intensitasnya secara langsung.
Lebih dari Sekadar Pertarungan
Pada akhirnya, lonjakan penonton Gen Z menegaskan satu hal olahraga bukan lagi sekadar hiburan akhir pekan. Kini, olahraga menjelma menjadi bagian dari identitas dan gaya hidup.
Generasi ini tumbuh dengan konten cepat dan visual kuat. Karena itu, mereka mencari cerita perjuangan, keberanian, dan transformasi. Combat sport menghadirkan semuanya dalam satu paket disiplin, mental baja, dan mimpi besar.
Di dalam oktagon, petarung bertarung demi sabuk. Sementara itu, di luar arena, Gen Z menemukan energi dan representasi diri.
Tahun 2026 memang baru dimulai. Namun lonceng sudah berbunyi. Dan kini, bukan hanya fighter yang siap bertarung melainkan juga generasi muda yang siap menghidupkan panggungnya. @teguh




