Tabooo.id: Nasional – Perayaan Natal Gereja Tiberias Indonesia kembali memilih Stadion Utama Gelora Bung Karno sebagai pusat ibadahnya. Pada Sabtu (6/12/2025) malam, panitia menargetkan sekitar 75.000 jemaat memenuhi stadion. Ibadah berlangsung mulai pukul 18.00 WIB, namun pintu sudah dibuka sejak pukul 14.00. Pola tahun-tahun sebelumnya menunjukkan keramaian biasanya hadir lebih cepat dari jadwal resmi.
Dari agenda yang dirilis gereja, panitia menyiapkan rangkaian liturgi dengan skala besar. Penyalaan lilin Natal dan momen Malam Kudus membuka suasana. Setelah itu, Pdt. Darniaty Pariadji menyampaikan khotbah. Jemaat lalu mengikuti perjamuan kudus dan menerima minyak urapan. Iringan orkestra, Boanerges Worship, Tiberias Singers, serta Choir Natal Tiberias membuat seluruh rangkaian terasa seperti festival rohani. Pesta kembang api serta pembagian lilin dan snack gratis menutup perayaan malam itu.
Pengamanan Diperketat, Lalu Lintas Melambat
Sementara panitia mengurus persiapan rohani, aparat keamanan bekerja mengatur kondisi lapangan. Polda Metro Jaya menurunkan 1.600 personel gabungan yang terdiri dari polisi, TNI, tenaga medis, Pemprov DKI, dan relawan. Mereka berjaga untuk memastikan arus massa tetap terkendali.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyebut acara ini sebagai salah satu agenda keagamaan terbesar di Jakarta. Ia memprediksi lalu lintas di Senayan bergerak lebih lambat dari biasanya. Pada jam tertentu, arus kendaraan bahkan bisa terhenti total. Budi mengingatkan bahwa rekayasa lalu lintas bersifat situasional. Arah jalan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi di lapangan.
Parkir Terbatas, Transportasi Umum Jadi Pilihan
Masalah muncul dari sisi parkir. Kapasitas yang tersedia tidak bertambah meski jumlah jemaat meningkat. AKBP Robby Hefadus dari Ditlantas Polda Metro menegaskan bahwa jemaat hanya bisa menggunakan area parkir standar di dalam kompleks GBK.
Kondisi makin berat karena tiga acara lain berlangsung pada waktu yang hampir sama: konser di Lapangan Tenis, kegiatan di Lapangan Madya, dan pameran di JICC. Situasi ini membuat Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Komarudin memberi imbauan tegas. Ia meminta jemaat meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih ke transportasi umum. Menurut Komarudin, peluang penuh di seluruh kantong parkir nyaris tidak bisa dihindari.
Siapa Untung dan Siapa Terbebani
Situasi padat ini menciptakan gelombang dampak yang berbeda bagi tiap kelompok. Pelaku transportasi umum dan ojek online berpotensi menikmati lonjakan permintaan. UMKM yang berjualan di sekitar GBK juga mendapatkan keuntungan dari arus pengunjung. Gereja sendiri memperoleh dukungan keamanan penuh sehingga acara dapat berjalan tertib.
Namun pengguna jalan yang melintas di kawasan Sudirman–Senayan harus bersiap menghadapi kemacetan. Jemaat yang membawa mobil atau datang terlambat kemungkinan besar mengalami hambatan panjang. Penyelenggara acara lain di sekitar GBK juga perlu menyesuaikan alur dan jadwal karena jumlah massa yang berlipat.
Penutup: Kota Besar, Masalah Klasik
Jakarta kembali menunjukkan kemampuannya mengelola acara besar, tetapi kota ini juga memperlihatkan kelemahannya. Urusan parkir dan lalu lintas selalu menjadi titik rapuh setiap kali ribuan orang berkumpul di satu lokasi. Jika Sabtu malam nanti GBK berubah menjadi lautan manusia dan jalanan menyerupai parkiran raksasa, anggap saja itu bagian dari ritme kota. Natal di ibu kota bukan hanya soal kekhidmatan ibadah, tetapi juga soal ketahanan menghadapi rekayasa lalu lintas yang sering kali lebih menegangkan dibanding pesta kembang apinya. @dimas




