Tabooo.id: Regional – Dua pekan sebelum Ramadan, dapur warga Kota Palopo, Sulawesi Selatan, mulai menghadapi tekanan. Bukan karena harga daging atau cabai, tetapi karena gas elpiji 3 kilogram bahan bakar utama rumah tangga kecil menghilang dari peredaran.
Warga tidak lagi sekadar membeli. Mereka kini berburu.
Nurmi (43), seorang ibu rumah tangga di Kelurahan Lebang, merasakan langsung sulitnya mendapatkan gas subsidi tersebut. Ia tidak lagi mengandalkan satu pangkalan. Sebaliknya, ia harus berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, bahkan turun hingga ke pusat kota.
“Untuk mendapatkannya kami harus berkeliling, bahkan turun ke kota. Harga ecerannya bisa mencapai Rp 30.000 per tabung,” ujar Nurmi, pada Rabu (18/2/2026).
Padahal, pemerintah menetapkan gas elpiji 3 kilogram sebagai energi bersubsidi untuk masyarakat kecil. Namun, di lapangan, kelangkaan justru mendorong harga melampaui batas wajar.
Situasi ini langsung menekan kelompok paling rentan rumah tangga berpenghasilan rendah.
Ramadan Mendekat, Beban Rumah Tangga Ikut Meningkat
Menjelang Ramadan, kebutuhan rumah tangga selalu meningkat. Warga memasak lebih sering. Konsumsi makanan bertambah. Aktivitas dapur menjadi lebih intens.
Karena itu, kelangkaan gas datang pada waktu yang paling sensitif.
Nurmi merasakan dampaknya secara langsung. Ia harus mengeluarkan uang lebih banyak hanya untuk memastikan dapurnya tetap menyala.
Meski begitu, ia melihat sedikit perubahan dalam beberapa hari terakhir. Harga mulai turun ke kisaran Rp 25.000 hingga Rp 27.000 per tabung. Namun, pasokan tetap belum stabil.
Artinya, warga masih belum merasa aman.
Nurmi berharap pemerintah segera memperbaiki distribusi. Ia ingin pangkalan kembali memiliki stok yang cukup, sehingga warga tidak lagi panik setiap kali gas habis.
“Kalau bisa, distribusinya diperbanyak. Apalagi mau masuk Ramadan, kebutuhan pasti bertambah,” ujarnya.
Keluhan ini tidak hanya datang dari satu orang. Banyak warga Palopo menghadapi kecemasan yang sama.
Pertamina Klaim Stok Aman, Tapi Warga Masih Kesulitan
Di tengah keluhan warga, Pertamina justru menyampaikan pesan berbeda. Perusahaan energi milik negara itu memastikan stok energi tetap aman.
Sales Branch Manager (SBM) Sulselbar I Fuel, Muhammad Yoga Prabowo, menyatakan bahwa Pertamina telah memperkuat suplai menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Ia menjelaskan bahwa Pertamina mengandalkan tiga terminal utama, yaitu Integrated Terminal Makassar, Fuel Terminal Parepare, dan Fuel Terminal Palopo. Melalui jalur ini, Pertamina berupaya menjaga kelancaran distribusi energi di Sulawesi Selatan.
Ia menegaskan bahwa perusahaan telah menyiapkan sistem distribusi untuk menghadapi lonjakan konsumsi.
Namun, pernyataan itu belum sepenuhnya menjawab kenyataan di lapangan.
Sebab, warga tetap kesulitan mendapatkan gas.
Kontras ini memperlihatkan jarak antara laporan resmi dan pengalaman masyarakat.
Ratusan Ribu Tabung Ditambah, Distribusi Jadi Kunci
Selain memperkuat distribusi BBM, Pertamina juga menambah suplai elpiji. Perusahaan itu menyalurkan tambahan 426.840 tabung elpiji 3 kilogram selama Februari 2026 di Sulawesi Selatan.
SBM Sulselbar VI Gas, Wahyu Purwatmo, menyebutkan bahwa konsumsi elpiji memang meningkat menjelang Ramadan. Oleh karena itu, Pertamina meningkatkan pasokan untuk menjaga keseimbangan.
Ia memastikan timnya terus mengawasi distribusi, bahkan pada hari libur. Ia juga menyatakan bahwa koordinasi dengan pemerintah daerah dan aparat terus berjalan.
Langkah ini bertujuan menjaga stabilitas pasokan hingga tingkat pangkalan.
Namun, sekali lagi, persoalan utama bukan hanya jumlah.
Distribusi menentukan segalanya.
Jika distribusi tidak merata, tambahan pasokan hanya menjadi angka dalam laporan.
Warga Kecil Selalu Jadi yang Pertama Merasakan Dampaknya
Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram tidak pernah menjadi sekadar isu energi. Kelangkaan ini selalu berubah menjadi isu sosial.
Sebab, warga kecil tidak memiliki alternatif.
Mereka tidak bisa beralih ke gas non-subsidi. Mereka juga tidak bisa menunda kebutuhan memasak.
Akibatnya, setiap gangguan distribusi langsung memukul dapur mereka.
Ramadan seharusnya menjadi bulan ketenangan. Namun, bagi sebagian warga Palopo, Ramadan justru dimulai dengan kecemasan apakah dapur mereka masih bisa menyala besok.
Sementara itu, di atas kertas, stok tetap disebut aman.
Mungkin, di negara ini, yang sering langka bukan hanya gas tetapi juga kepastian. @dimas




