Tabooo.id: Sports – Akhirnya, momen yang ditunggu publik sepak bola Indonesia benar-benar terjadi. Sabtu (10/01/2026) siang WIB, John Herdman menginjakkan kaki di Bandara Soekarno-Hatta. Kamera ponsel menyala, video beredar cepat, dan harapan ikut turun dari langit. Bukan sekadar kedatangan pelatih baru, ini terasa seperti awal lembaran baru Timnas Indonesia.
Menariknya, Herdman datang tidak sendiri. Ia membawa istri dan dua anaknya. Karena itu, banyak yang membaca sinyal kuat pelatih asal Kanada ini tidak datang untuk singgah sebentar. Ia datang untuk menetap, mengenal, dan membangun.
Kontrak Jelas, Target Nyata
Sebelumnya, PSSI telah memastikan Herdman menandatangani kontrak berdurasi dua tahun. Selain itu, federasi juga menyematkan opsi perpanjangan dua tahun berikutnya. Dengan skema ini, PSSI menaruh kepercayaan penuh pada proses, bukan hasil instan semata.
Tak berhenti di situ, Herdman juga memegang tanggung jawab besar lain. Ia tidak hanya melatih Timnas Indonesia senior, tetapi juga Timnas Indonesia U-23. Artinya, ia langsung mengendalikan arah jangka pendek dan masa depan sekaligus. Oleh sebab itu, proyek ini menuntut konsistensi, keberanian, dan visi yang jelas.
Diperkenalkan Resmi, Waktu Tak Menunggu
Selanjutnya, Ketua Badan Tim Nasional (BTN) Sumardji memastikan publik akan melihat Herdman secara resmi pada Senin (12/01/2026). Momen perkenalan itu akan menjadi titik awal kerja nyata di lapangan.
“John Herdman diperkenalkan pada 12 Januari 2026,” ujar Sumardji.
Pernyataan singkat itu menegaskan satu hal PSSI ingin bergerak cepat. Maka dari itu, ekspektasi publik pun langsung naik. Waktu tidak menunggu, dan tantangan sudah berdiri di depan mata.
Herdman Bicara Terbuka soal Garuda
Tak lama setelah kepastian itu, Herdman angkat bicara lewat wawancara dengan The Canadian Press News. Dalam kesempatan tersebut, ia berbicara jujur dan lugas. Ia tidak menjanjikan keajaiban, tetapi menekankan proyek yang hidup.
“Ini tentang menemukan proyek yang tepat, proyek yang punya gairah dan intensitas penggemar,” kata Herdman.
Lebih jauh, ia menyoroti pentingnya memahami budaya lokal. Menurutnya, sepak bola tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dari masyarakat, emosi, dan kebiasaan. Karena alasan itu, Herdman ingin benar-benar menyatu, bukan sekadar mengatur strategi.
“Untuk membangun koneksi, Anda harus memahami orang-orang dan adat istiadatnya,” lanjutnya.
Lebih dari Kedatangan, Ini Simbol Harapan
Pada akhirnya, belum ada skor yang tercipta. Belum ada laga yang dimenangkan. Namun, kedatangan Herdman sudah memantik optimisme. Publik melihat keseriusan, bukan janji kosong.
Kini, Garuda memiliki arah. Jalan di depan memang terjal. Akan tetapi, dengan proses yang konsisten, dukungan publik, dan kepemimpinan yang jelas, perjalanan ini pantas dinantikan. Kickoff memang belum dimulai, namun babak baru sudah resmi berjalan. @teguh




