Sabtu, Juni 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ganjar Pranowo Tegaskan Sikap PDI-P Dukung Pilkada Langsung

by dimas
Januari 10, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Ketua DPP PDI Perjuangan Ganjar Pranowo menegaskan sikap partainya yang tetap mendukung pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara langsung oleh rakyat, bukan melalui DPRD. Ganjar menyampaikan sikap tersebut saat ditemui di sela Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PDI-P di Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta, Sabtu (10/1/2026).

“Jadi sikap PDI Perjuangan sangat jelas, kami mendukung pemilihan kepala daerah secara langsung,” ujar Ganjar.

Ia menegaskan seluruh kader PDI-P sudah satu suara dalam isu ini. Menurut Ganjar, perdebatan mengenai mekanisme Pilkada memang sudah berlangsung lama, tetapi partainya memilih berdiri pada prinsip partisipasi langsung rakyat.

Jejak Sejarah Pilkada di Indonesia

Ganjar mengulas perjalanan panjang sistem Pilkada di Indonesia. Pada masa Orde Baru, pemerintah memilih kepala daerah melalui DPRD. Namun, setelah reformasi, masyarakat mendorong perubahan mendasar dalam sistem demokrasi lokal.

Tekanan publik tersebut melahirkan Pilkada langsung yang kemudian diatur dalam undang-undang dan diperkuat melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Mahkamah Konstitusi juga menguatkan mekanisme tersebut melalui proses pengujian undang-undang.

Ini Belum Selesai

Kirab Pusaka di Tengah Dualisme: Tradisi atau Legitimasi?

Bank Dunia: Orang Kaya Nikmati Mayoritas Subsidi BBM

“Perdebatannya panjang. Saat itu rakyat menuntut pilkada langsung, dan negara merespons tuntutan tersebut melalui undang-undang,” jelas Ganjar.

PDI-P Nilai Wacana DPRD sebagai Kemunduran

Ganjar menilai wacana pengembalian Pilkada ke DPRD sebagai langkah mundur bagi demokrasi Indonesia. Ia menekankan bahwa mekanisme Pilkada langsung sudah melewati berbagai pengujian konstitusional dan menjadi bagian dari rezim pemilu nasional.

“Sistem ini sudah diuji di Mahkamah Konstitusi dan diakui sebagai bagian dari pemilu langsung. Jika kita mengembalikannya ke DPRD, kita mengabaikan aspirasi rakyat,” tegasnya.

PDI-P, kata Ganjar, tidak melihat urgensi untuk mengubah sistem yang sudah berjalan dan diterima publik selama ini.

Perbedaan Sikap Antarpartai

Di sisi lain, sejumlah partai politik seperti Gerindra, Golkar, PKB, NasDem, dan Demokrat menyatakan dukungan terhadap wacana Pilkada melalui DPRD. Sikap tersebut memicu perdebatan luas di ruang publik.

Perbedaan pandangan ini menajamkan diskursus mengenai arah demokrasi Indonesia, khususnya terkait hak rakyat untuk memilih langsung pemimpinnya di daerah.

Dampak Langsung bagi Rakyat

Ganjar menegaskan bahwa perdebatan Pilkada bukan sekadar persoalan teknis atau kepentingan elite politik. Menurutnya, perubahan mekanisme pemilihan akan berdampak langsung pada masyarakat.

Pilkada melalui DPRD berpotensi mempersempit ruang partisipasi publik dan memperlebar jarak antara pemimpin daerah dan warga. Kondisi tersebut, kata Ganjar, dapat melemahkan kepercayaan rakyat terhadap demokrasi lokal.

Karena itu, PDI-P berkomitmen terus memperjuangkan Pilkada langsung sekaligus mendorong partai lain agar mendengarkan aspirasi publik.

“Kalau rakyat tidak didengar, demokrasi kita akan stagnan. Jangan sampai kemajuan reformasi tergerus oleh wacana yang meminggirkan suara rakyat,” pungkasnya.

Di tengah dinamika politik nasional, rakyat tetap menjadi pengawas utama. Publik akan menilai partai mana yang konsisten menjaga keterbukaan demokrasi dan mana yang lebih mengutamakan kalkulasi politik praktis. Pilkada bukan sekadar kontestasi kekuasaan, melainkan ujian nyata bagi kualitas demokrasi Indonesia. @dimas

Tags: DemokrasiDemokratdprdGerindraGolkarJakartanasdemNasionalpdipPolitik IndonesiaRakernas

Kamu Melewatkan Ini

Seruan Reformasi Jilid 2: Aspirasi Publik atau Nostalgia Politik?

Seruan Reformasi Jilid 2: Aspirasi Publik atau Nostalgia Politik?

by teguh
Juni 13, 2026

Beberapa hari ini publik kembali mendengar sebuah istilah yang pernah mengubah arah sejarah Indonesia yaitu, Reformasi. Bedanya, kali ini istilah...

Reformasi Jilid 2: Gerakan Moral atau Sekadar Label Politik?

Reformasi Jilid 2: Gerakan Moral atau Sekadar Label Politik?

by teguh
Juni 12, 2026

Aksi mahasiswa kembali memenuhi jalanan. Spanduk kritik bermunculan. Tagar perlawanan beredar luas di media sosial. Di tengah suasana itu, satu...

Melawan Simplifikasi Sejarah: Indonesia Sedang Menuju Reformasi Jilid 2?

Melawan Simplifikasi Sejarah: Indonesia Sedang Menuju Reformasi Jilid 2?

by teguh
Juni 12, 2026

Di bawah terik siang yang membakar aspal ibu kota, mahasiswa kembali berdiri di jalanan. Mereka membawa poster, pengeras suara, dan...

Next Post
Aroma Laut, Maskulinitas Baru, dan Gaya Hidup Tenang di Tengah Dunia yang Berisik

Aroma Laut, Maskulinitas Baru, dan Gaya Hidup Tenang di Tengah Dunia yang Berisik

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id