Tabooo.id: Entertainment – Selama ini, Dragon Ball selalu identik dengan masa lalu. Rambut emas. Jurus legendaris. Musuh datang, dikalahkan, lalu muncul yang lebih kuat. Namun kini, situasinya mulai berubah. Bagaimana jika Dragon Ball justru melompat jauh ke depan?
Lewat proyek baru berjudul Dragon Ball Age 1000, Bandai Namco mencoba menawarkan jawaban. Judulnya terdengar ekstrem. Usia seribu tahun. Artinya, ini bukan sekadar lanjutan cerita, melainkan perubahan arah yang cukup berani.
Karena itu, wajar jika reaksi fans langsung terbelah antara antusias dan waswas.
Dikembangkan Lama, Maka Bukan Proyek Asal Jadi
Pertama-tama, satu hal perlu ditegaskan. Dragon Ball Age 1000 bukan game dadakan.
Proyek ini dikembangkan selama enam hingga tujuh tahun, termasuk tahap konsep awal. Untuk industri game modern, durasi ini terbilang panjang.
Justru karena itu, ekspektasi ikut naik. Bandai Namco tampaknya tidak ingin sekadar mengulang formula lama. Sebaliknya, mereka mencoba membangun fondasi baru yang lebih segar.
Dengan kata lain, ini bukan proyek nostalgia instan.
Satu Karakter Baru yang Mengubah Peta Cerita
Lalu, perhatian publik tertuju pada satu fakta penting: karakter orisinal.
Bukan karakter lama. Bukan versi alternatif. Bahkan bukan turunan dari tokoh populer. Ini karakter baru yang belum pernah muncul di manga, anime, maupun game Dragon Ball sebelumnya.
Yang membuatnya semakin spesial, karakter ini dirancang langsung oleh Akira Toriyama.
Karena itu, kabar ini langsung terasa emosional. Bagi fans lama, ini bukan sekadar tambahan roster. Ini seperti pesan perpisahan yang dibungkus dalam bentuk game.
Sentuhan Toriyama yang Tidak Setengah-setengah
Lebih jauh lagi, peran Toriyama ternyata tidak berhenti di desain karakter.
Menurut Akio Iyoku, produser eksekutif sekaligus presiden Capsule Corporation Tokyo, Toriyama ikut menentukan dunia tempat game ini berlangsung. Selain itu, ia juga terlibat dalam pengembangan aspek fundamental sejak awal.
Dengan demikian, Dragon Ball Age 1000 tetap membawa DNA asli Dragon Ball. Bukan tiruan. Bukan interpretasi sembarangan.
Tak heran, ketika karakter barunya muncul di video promosi, respons fans langsung meledak. Media sosial penuh teori. Forum dipenuhi spekulasi.
Sekali lagi, Dragon Ball sukses jadi topik global.
Rekam Jejak Bandai Namco Jadi Modal Penting
Selanjutnya, kita tidak bisa melewatkan rekam jejak Bandai Namco.
Selama bertahun-tahun, mereka konsisten menggarap game Dragon Ball. Salah satu contoh terkuat tentu saja Dragon Ball Xenoverse 2.
Game ini rilis pada 2016 dan bertahan lintas generasi. Dari PS4 hingga PS5. Dari Xbox One hingga Xbox Series X|S. Bahkan sempat hadir di Google Stadia.
Dari sini, satu hal terlihat jelas. Bandai Namco paham cara menjaga umur panjang sebuah waralaba.
Namun demikian, Age 1000 terasa berbeda. Ini bukan soal bertahan lama, melainkan soal berani berubah.
Dragon Ball di Era Tanpa Penciptanya
Pada titik ini, ada realita yang tidak bisa dihindari.
Dragon Ball kini berjalan tanpa Akira Toriyama.
Karena itu, Dragon Ball Age 1000 terasa seperti jembatan. Ia menghubungkan masa lalu dan masa depan. Ia mencoba membuktikan bahwa Dragon Ball masih bisa hidup tanpa kehilangan jiwanya.
Tentu saja, langkah ini penuh risiko. Akan tetapi, stagnasi justru lebih berbahaya.
Saatnya Keluar dari Zona Nyaman
Akhirnya, Dragon Ball Age 1000 bukan hanya tentang game baru. Ini tentang keberanian untuk tumbuh.
Pertanyaannya sederhana, tapi menohok.
Apakah Dragon Ball boleh berubah?
Atau sebaliknya, apakah kita hanya ingin terus bernostalgia?
Mungkin sekarang waktunya jujur. Kita mencintai Dragon Ball bukan karena ia selalu sama, melainkan karena ia berani melangkah maju.
Jadi, sekarang giliran kamu.
Siap ikut melangkah ke usia seribu, atau masih nyaman di masa lalu? @eko




