Tabooo.id: Regional – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi membuka Festival Imlek Jakarta 2026 di kawasan Bundaran HI, pada Jumat (13/2/2026) malam. Pemerintah tidak hanya merayakan pergantian Tahun Baru Imlek, tetapi juga mengirim pesan politik dan ekonomi Jakarta ingin tampil sebagai kota global yang menjual budaya, bukan sekadar beton dan gedung pencakar langit.
Festival ini langsung mengubah wajah pusat ibu kota. Lampu warna-warni membanjiri jalan protokol, instalasi cahaya berdiri di berbagai titik, sementara pertunjukan seni dan musik komunitas menarik ribuan warga yang memadati kawasan tersebut. Pemerintah memanfaatkan momentum ini untuk menunjukkan stabilitas sosial sekaligus daya tarik wisata Jakarta di tengah persaingan kota-kota besar Asia.
Simbol Harapan di Tengah Tantangan Kota Besar
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyebut perayaan Imlek tahun ini membawa pesan optimisme bagi masa depan ibu kota. Ia menegaskan bahwa Tahun Kuda Api melambangkan keberanian, perubahan, dan momentum pembaruan bagi Jakarta.
Pramono menilai festival ini bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga bagian dari strategi membangun rasa aman dan nyaman bagi warga. Ia ingin memastikan Jakarta tetap menjadi kota yang layak huni di tengah tekanan urbanisasi, kemacetan, dan ketimpangan ekonomi yang terus menghantui kehidupan masyarakat perkotaan.
Namun, lebih dari itu, festival ini juga menjadi panggung politik simbolik. Pemerintah menunjukkan komitmen terhadap keberagaman sebagai fondasi stabilitas kota. Pesan ini penting, terutama ketika Jakarta terus bersaing menarik investasi dan mempertahankan statusnya sebagai pusat ekonomi nasional.
Budaya Jadi Modal, Bukan Sekadar Ornamen
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menegaskan arah pembangunan Jakarta mulai bergeser. Pemerintah tidak lagi hanya mengejar pembangunan fisik, tetapi juga berfokus pada kualitas hidup manusia dan kekuatan budaya.
Menurutnya, kota global tidak hanya dinilai dari infrastruktur, tetapi juga dari kebahagiaan warganya. Ia menekankan bahwa budaya memiliki peran strategis dalam membangun identitas kota sekaligus memperkuat kohesi sosial.
Pernyataan ini mengandung pesan jelas. Pemerintah ingin menjadikan budaya sebagai aset ekonomi sekaligus alat diplomasi kota. Festival seperti Imlek bukan hanya acara seremonial, melainkan juga instrumen untuk meningkatkan citra Jakarta di mata dunia.
Festival Jadi Mesin Ekonomi dan Pariwisata
Pemerintah merancang rangkaian acara secara luas untuk menjangkau berbagai wilayah Jakarta. Pertunjukan Ensemble Simfoni Imlek berlangsung di depan Plaza Indonesia, sementara lomba dekorasi Imlek melibatkan 98 gedung di seluruh ibu kota.
Selain itu, Festival Pecinan digelar di Taman Mini Indonesia Indah dan kawasan Harmoni. Pemerintah juga menyiapkan pertunjukan video mapping di Monumen Nasional, yang menjadi simbol kekuasaan sekaligus identitas nasional.
Langkah ini bukan tanpa tujuan ekonomi. Pemerintah ingin meningkatkan aktivitas wisata, mendorong konsumsi masyarakat, dan menghidupkan sektor UMKM yang sangat bergantung pada keramaian publik.
Di sisi lain, festival cahaya juga berlangsung di Kota Tua Jakarta, kawasan yang selama ini menjadi magnet wisata sejarah. Perayaan kemudian mencapai puncaknya saat Cap Go Meh pada 3 Maret 2026 di kawasan Glodok, pusat komunitas Tionghoa tertua di Jakarta.
Warga Jadi Penonton Sekaligus Penopang
Festival ini memberi dampak langsung bagi masyarakat, terutama pelaku usaha kecil, pedagang kaki lima, pekerja sektor informal, dan pelaku industri kreatif. Mereka mendapatkan peluang ekonomi dari meningkatnya jumlah pengunjung dan aktivitas publik.
Namun, di sisi lain, festival ini juga mengingatkan realitas kontras Jakarta. Pemerintah mampu menghadirkan cahaya dan kemeriahan di pusat kota, tetapi banyak warga masih bergulat dengan biaya hidup tinggi, akses hunian terbatas, dan tekanan ekonomi sehari-hari.
Festival Imlek memang menghadirkan harapan dan kebahagiaan. Namun, bagi sebagian warga, cahaya lampion itu juga menjadi pengingat bahwa Jakarta masih harus bekerja keras agar kemakmuran tidak hanya terlihat indah di pusat kota tetapi juga terasa nyata di seluruh sudut kehidupan warganya. @dimas





