Sabtu, Mei 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Empat Nama Muncul, Nol Kepastian: Hukum Tersandera Kuasa?

by dimas
Maret 31, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Sudah dua pekan sejak pelaku menyiram air keras ke wajah Andrie Yunus, aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Serangan itu tidak hanya melukai fisiknya, tetapi juga mengirim teror terbuka ke ruang sipil.

Fakta paling mencolok muncul dari identitas pelaku. Empat anggota aktif TNI dari Badan Intelijen Strategis (BAIS) Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW, dan Serda ES masuk dalam daftar terduga sejak 18 Maret 2026.

Namun setelah pengungkapan itu, proses hukum justru melambat. Aparat belum mengumumkan perkembangan berarti. Publik terus menunggu kejelasan, sementara motif pelaku masih gelap.

Komnas HAM Mengejar, Jawaban Menghindar

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia bergerak cepat untuk menelusuri kasus ini. Pada Senin (30/3/2026), mereka mengajukan belasan pertanyaan kepada Polda Metro Jaya.

Namun langkah itu belum menghasilkan jawaban baru. Komnas HAM masih membutuhkan data tambahan, terutama dari TNI. Minimnya informasi memperlihatkan bahwa koordinasi antar lembaga belum berjalan efektif.

Ini Belum Selesai

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Situasi ini menegaskan satu hal negara belum berbicara dengan satu suara dalam kasus besar yang menyita perhatian publik.

Koordinasi Tersendat, Penanganan Dipertanyakan

Kasus ini melibatkan aparat militer aktif. Karena itu, penyelidikan tidak bisa berjalan dengan pola biasa. Polisi dan TNI harus membangun komunikasi setara agar proses hukum tetap kredibel.

Komnas HAM menilai Polda Metro Jaya tidak lagi cukup kuat menangani perkara ini sendirian. Mereka mendorong Bareskrim Polri mengambil alih agar koordinasi dengan Polisi Militer TNI berjalan seimbang.

Tanpa koordinasi yang setara, penyelidikan akan terus tersendat. Waktu berjalan, tetapi kejelasan tidak kunjung datang.

Sorotan Global, Tekanan Kian Nyata

Kasus ini kini melampaui batas domestik. Dewan HAM PBB di Jenewa mulai menyoroti perkembangan penyelidikan. Sejumlah organisasi sipil juga terus mendesak transparansi.

Sorotan internasional menambah tekanan bagi pemerintah. Jika proses hukum terus mandek, kepercayaan global terhadap komitmen Indonesia pada HAM bisa ikut tergerus.

Di dalam negeri, publik juga menuntut jawaban. Mereka tidak hanya ingin pelaku dihukum, tetapi juga ingin melihat proses hukum berjalan terbuka dan adil.

TGPF Menguat sebagai Jalan Keluar

Di tengah kebuntuan, desakan pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) semakin menguat. Amnesty International Indonesia dan SETARA Institute menilai langkah ini bisa memecah kebuntuan.

Dorongan juga mengarah langsung ke Presiden Prabowo Subianto. Banyak pihak menilai situasi ini membutuhkan keputusan politik tingkat tinggi agar penyelidikan kembali bergerak.

Perkembangan internal turut memperkeruh keadaan. Mundurnya Kepala BAIS TNI memicu tafsir baru di publik, alih-alih meredakan kecurigaan.

Korban Meluas, Rasa Aman Menyusut

Andrie Yunus menanggung dampak paling nyata. Ia menghadapi luka fisik dan trauma yang tidak ringan.

Namun efek kasus ini menjalar lebih luas. Para aktivis HAM mulai merasa terancam. Rasa aman mereka menyusut, sementara ruang kritik terhadap kekuasaan terasa semakin sempit.

Publik pun menangkap pesan yang sama: kekerasan bisa menyasar siapa saja yang bersuara.

Ujian Terbuka bagi Penegakan Hukum

Kasus ini menguji keberanian negara dalam menegakkan hukum. Aparat sudah mengantongi nama pelaku, tetapi proses hukum belum menunjukkan arah yang jelas.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat. Apakah hukum benar-benar berdiri tegak, atau justru berhenti ketika berhadapan dengan kekuasaan?

Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya keadilan untuk Andrie, tetapi juga kepercayaan publik. Dan ketika kepercayaan itu retak, memperbaikinya jauh lebih sulit daripada sekadar mengungkap satu kasus. @dimas

Tags: AktivisAndrie YunusDemokrasiKeadilanKontraSKriminal & HukumPidanaSanksi

Kamu Melewatkan Ini

Main Game Saat Rapat DPRD: Human Error atau Bentuk Tidak Hormat ke Publik?

Main Game Saat Rapat DPRD: Human Error atau Bentuk Tidak Hormat ke Publik?

by teguh
Mei 15, 2026

Saat rapat DPRD membahas stunting, kematian ibu, dan layanan kesehatan warga, publik justru melihat video anggota dewan diduga bermain game...

Main Game Saat Bahas Kesehatan: Kelalaian Biasa atau Krisis Empati Politik?

Main Game Saat Bahas Kesehatan: Kelalaian Biasa atau Krisis Empati Politik?

by teguh
Mei 14, 2026

Ruang rapat itu seharusnya bicara soal hidup anak-anak, kesehatan ibu, dan masa depan keluarga miskin. Namun perhatian publik justru tersedot...

Benarkah Kritik Pemerintah Bisa Langsung Dipidana? Ini Faktanya

Benarkah Kritik Pemerintah Bisa Langsung Dipidana? Ini Faktanya

by eko
Mei 10, 2026

“Kritik pemerintah bisa bikin masuk penjara.” Kalimat itu kini semakin sering muncul di media sosial Indonesia. Di grup WhatsApp keluarga,...

Next Post
Soft Rejection: Cara Halus Bilang “Tidak” Tanpa Drama

Soft Rejection: Cara Halus Bilang “Tidak” Tanpa Drama

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Mei 15, 2026

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Mei 15, 2026

“Sepatu Kekecilan” dan Tragedi Siswa SMK Samarinda yang Mengguncang Publik

Mei 15, 2026

300 Rumah Terendam Saat Warga Tidur: Banjir Lumajang Datang dari Hulu

Mei 15, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id