Jumat, September 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Emas di Tangan, Keisya Pecatur Cilik Gunung Kidul Tantang Panggung Nasional

by teguh
September 8, 2026
in Reality, Sports
A A
Home Reality
Share on Facebook
Share on Twitter
Keisya pecatur cilik, siswi kelas III SD Negeri Kenteng 1, Kalurahan Kenteng, Kapanewon Ponjong, Gunungkidul, meraih medali emas dalam Kejuaraan Daerah (Kejurda) Catur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Tabooo.id: Wonosari – Kemenangan keysa pecatur cilik asak Gunung Kidul itu sekaligus membuka jalan bagi pecatur berusia sembilan tahun tersebut untuk mewakili DIY dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) di Banten.

Bakat dari wilayah Ponjong itu mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menerima Keisya di kantornya pada Senin, 07/09/2026. Keisya datang mengenakan seragam sekolah bersama ibunya, Wahyuni, dan pelatihnya, Isrori Teguh.

Pertemuan tersebut menjadi bentuk apresiasi pemerintah daerah atas capaian Keisya. Di usia sembilan tahun, ia sudah melewati persaingan tingkat DIY dan kini bersiap menghadapi lawan dari berbagai daerah di tingkat nasional.

Keiysa Pacatur Cilik: Bakat Tumbuh dari Ekstrakurikuler

Keisya mulai mengenal latihan catur ketika duduk di kelas I SD. Ia memilih mengikuti ekstrakurikuler tersebut atas kemauannya sendiri.

Wahyuni kemudian melihat kemampuan anaknya berkembang cukup cepat. Ia pun mencoba memetakan kemampuan Keisya dibandingkan anak-anak lain yang mengikuti kegiatan tersebut.

Ini Belum Selesai

Pemerintah Tarik 25 Merek Beras Fortifikasi, Ada Apa?

Bakar Sampah Berujung Kebakaran Kabel PT Sangsaka di Bantul

“Awalnya saya memetakan anak-anak, dan Keisya ini terlihat memiliki kemampuan di atas rata-rata teman seusianya,” ujar Wahyuni.

Perjalanan itu sempat menemui hambatan. Keisya pernah ingin berhenti berlatih ketika masih duduk di kelas I. Melihat potensi tersebut, Isrori Teguh terus memberikan dorongan agar Keisya melanjutkan latihan.

Memasuki kelas II SD, semangat Keisya kembali tumbuh. Ia mulai lebih tekun mengikuti latihan dan pertandingan. Konsistensi tersebut kemudian membawanya menembus persaingan catur tingkat DIY.

Kini, medali emas Kejurda menjadi pijakan baru. Keisya tidak lagi hanya bermain untuk lingkungan sekolah atau daerahnya. Ia akan membawa nama DIY sekaligus Gunungkidul ke arena Kejurnas di Banten.

Pemerintah Mulai Memetakan Atlet

Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mengapresiasi capaian Keisya. Menurutnya, Keisya menunjukkan bahwa anak dari wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan tetap mampu mengejar prestasi.

Endah juga menyebut Keisya pecatur cilik sebagai salah satu potensi generasi muda Gunungkidul. Selain menekuni catur, Keisya memiliki cita-cita menjadi dokter.

“Keisya adalah turbo kekuatan bagi daerah kita. Kami memohon doa seluruh warga Gunungkidul agar Keisya bisa mengharumkan nama daerah di tingkat nasional,” ungkap Endah pada 07/09/2026.

Pemkab Gunungkidul melalui Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) mulai memetakan atlet-atlet berprestasi. Keisya masuk dalam perhatian pembinaan tersebut.

Langkah itu penting karena prestasi usia dini membutuhkan kesinambungan. Pemerintah daerah tidak cukup hanya mencatat nama atlet setelah mereka meraih medali. Sistem pembinaan perlu mengikuti perkembangan atlet sejak tahap pencarian bakat hingga kompetisi tingkat nasional.

Pelatih Tak Hanya Menjaga Teknik

Ketua Pengkab Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Gunungkidul, Kurniawan Fahmi, mengatakan pihaknya akan mendampingi Keisya menghadapi persaingan nasional.

Pendampingan tersebut mencakup aspek teknis dan psikologis. Tim pembina perlu memastikan Keisya memiliki kemampuan bermain yang terus berkembang sekaligus kesiapan mental ketika menghadapi tekanan pertandingan.

Kebutuhan itu menjadi semakin penting karena Keisya masih berada pada usia sekolah dasar. Ia harus menjalankan dua peran sekaligus: belajar sebagai siswa dan berlatih sebagai atlet.

Di sinilah pembinaan daerah mendapat tantangan sebenarnya. Prestasi di Kejurda memang menunjukkan hasil latihan. Namun, kesinambungan prestasi membutuhkan program yang lebih panjang, termasuk akses latihan, pengalaman bertanding, pendampingan pelatih, dukungan keluarga, serta perhatian terhadap kondisi psikologis atlet muda.

Dari Kenteng Menuju Panggung Nasional

Kisah Keisya memperlihatkan bahwa bakat olahraga tidak selalu muncul dari pusat kota atau sekolah dengan fasilitas besar. Lingkungan sekolah dasar di Kenteng mampu menjadi titik awal perjalanan seorang atlet muda menuju kompetisi nasional.

Emas Kejurda sudah menjadi bukti pertama. Tiket menuju Kejurnas Banten menjadi tantangan berikutnya.

Tabooo Take medali sudah berada di tangan. Sekarang, pembinaan harus membuktikan bahwa prestasi Keisya bukan sekadar kemenangan satu pertandingan.

Keisya baru berusia sembilan tahun. Karena itu, pemerintah, KONI, Percasi, keluarga, sekolah, dan pelatih perlu menjaga proses perkembangannya dalam jangka panjang.

Dari papan catur sekolah, Keisya kini membawa nama Gunungkidul ke level nasional. Ia sudah mendapatkan tiket. Tantangan berikutnya adalah memastikan sistem pembinaan ikut berjalan bersamanya. @teguh

Tags: Atlet CilikAtlet MudaCatur DIYCatur Gunung kidulGunung kidul PonjongKeisyaKejurda CaturKejurnas CaturPercasi

Kamu Melewatkan Ini

Keisya Juara Catur, Tapi Berapa Banyak Bakat Desa yang Belum Terlihat?

Keisya Juara Catur, Tapi Berapa Banyak Bakat Desa yang Belum Terlihat?

by teguh
September 8, 2026

Papan catur di sebuah sekolah dasar di Ponjong mempertemukan seorang anak bernama Keisya juara catur cilik dengan dunia yang kemudian...

Kota Tanpa Arena Memanah: Ironi di Balik Prestasi Atlet Panahan Solo

Kota Tanpa Arena Memanah: Ironi di Balik Prestasi Atlet Panahan Solo

by teguh
Agustus 7, 2026

Sore mulai turun di sebuah lahan kosong di Kota Solo. Puluhan anak calon atlet panahan Solo berdiri berjajar sambil menggenggam...

Solo Cetak Juara, Lapangan Panahan Masih Jadi Harapan

Solo Cetak Juara, Lapangan Panahan Masih Jadi Harapan

by teguh
Agustus 6, 2026

Di kota yang identik dengan panahan lewat Stadion Manahan, para atlet justru masih berlatih di lahan seadanya. Di tengah lahirnya...

Next Post
RUU Reforma Agraria: Tanah untuk Rakyat, Desa atau Negara?

RUU Reforma Agraria: Tanah untuk Rakyat, Desa atau Negara?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id