Sabtu, Juni 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ekosida, Etnosida, Epistemisida: Tiga Krisis di Balik Proyek Pangan Papua

by dimas
Mei 10, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter
Ekosida, etnosida, dan epistemisida mulai membayangi Papua Selatan ketika bentang hutan yang selama ini menjadi ruang hidup masyarakat adat menghadapi tekanan proyek pembangunan berskala raksasa. Pembukaan lahan untuk proyek pangan dan energi dalam skema Proyek Strategis Nasional (PSN) mengubah lanskap alam sekaligus kehidupan sosial masyarakat yang selama turun-temurun bergantung pada hutan.

Tabooo.id – Ekspansi proyek tersebut tidak hanya menggeser fungsi hutan. Perubahan ini juga memicu krisis yang menyentuh tiga lapisan sekaligus lingkungan, budaya, dan pengetahuan lokal. Banyak peneliti menggambarkan situasi ini sebagai rangkaian kehancuran berlapis yang meliputi ekosida, etnosida, dan epistemisida.

Di ujung timur Indonesia, hutan Papua tidak sekadar bentang alam hijau. Bagi masyarakat adat, hutan menjadi ruang hidup, ruang belajar, sekaligus ruang spiritual. Selama ratusan tahun komunitas lokal membangun hubungan ekonomi, budaya, dan kosmologis dengan alam di wilayah ini.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, negara dan investor mulai memandang kawasan tersebut sebagai wilayah ekspansi pembangunan berskala besar. Pemerintah kemudian memasukkan sebagian wilayah Papua Selatan ke dalam daftar Proyek Strategis Nasional.

Di Merauke dan sekitarnya, pemerintah merancang proyek pangan dan energi dalam skala luas. Program ini membuka kawasan hutan untuk pertanian industri dan perkebunan skala besar. Pemerintah mempromosikannya sebagai langkah memperkuat ketahanan pangan nasional.

Namun berbagai kajian lapangan menunjukkan gambaran yang lebih kompleks. Peneliti dan organisasi masyarakat sipil menemukan bahwa ekspansi ini berpotensi memicu krisis ekologis dan sosial yang serius.

Ini Belum Selesai

Mahasiswa, Nabi Jalanan yang Kelak Menjadi Bagian dari Sistem?

Seruan Reformasi Jilid 2: Aspirasi Publik atau Nostalgia Politik?

Ekosida: Ketika Hutan Hilang dari Lanskap Kehidupan

Ekosida merujuk pada kehancuran ekosistem dalam skala luas akibat aktivitas manusia. Di Papua Selatan, fenomena ini muncul melalui pembukaan hutan besar-besaran untuk pertanian industri, perkebunan monokultur, dan pembangunan infrastruktur proyek.

Pembukaan hutan menghilangkan habitat bagi berbagai spesies flora dan fauna. Ekosistem tropis Papua yang sebelumnya kompleks perlahan berubah menjadi lanskap produksi tunggal.

Perubahan ini meningkatkan kerentanan lingkungan. Tanah menjadi lebih mudah terdegradasi, sementara sistem air ikut terganggu.

Kerusakan juga muncul di berbagai daerah aliran sungai. Hilangnya tutupan hutan mempercepat erosi tanah serta meningkatkan risiko banjir dan kekeringan.

Padahal sebelumnya ekosistem hutan menopang kehidupan masyarakat adat secara berkelanjutan. Hutan menyediakan sumber pangan, tanaman obat, serta berbagai bahan kebutuhan sehari-hari.

Kini banyak kawasan hutan berubah fungsi menjadi wilayah produksi komoditas untuk pasar.

Etnosida: Ketika Budaya Kehilangan Tanahnya

Kerusakan ekologis kemudian merambat ke kehidupan sosial masyarakat. Ketika proyek industri mengambil alih hutan dan tanah adat, masyarakat kehilangan ruang hidupnya.

Fenomena ini dikenal sebagai etnosida, yaitu terkikisnya budaya dan struktur sosial akibat perubahan lingkungan yang drastis.

Dalam banyak komunitas adat Papua, hubungan manusia dengan alam tidak hanya bersifat ekonomi. Alam juga memiliki makna spiritual dan kosmologis.

Hutan, sungai, dan tanah membentuk sistem kepercayaan sekaligus struktur sosial masyarakat.

Ketika lanskap berubah, praktik budaya ikut terputus. Ritual adat yang mengikuti siklus alam kehilangan konteksnya. Struktur kekerabatan yang berakar pada wilayah adat mulai melemah.

Identitas komunitas sebagai penjaga tanah leluhur pun ikut terancam.

Dalam banyak kasus, perubahan ini mendorong masyarakat bermigrasi atau beradaptasi dengan sistem ekonomi baru. Namun proses adaptasi tersebut tidak selalu berjalan mudah.

Sebagian komunitas akhirnya menghadapi kerentanan sosial dan ekonomi setelah kehilangan sumber penghidupan tradisional.

Epistemisida: Hilangnya Pengetahuan Lokal

Lapisan kehancuran berikutnya sering tidak terlihat secara langsung, tetapi dampaknya sangat panjang. Fenomena ini dikenal sebagai epistemisida, yaitu hilangnya sistem pengetahuan lokal.

Masyarakat adat Papua jarang mendokumentasikan pengetahuan mereka dalam bentuk tulisan. Mereka mewariskannya melalui praktik hidup sehari-hari.

Hutan menjadi ruang belajar yang menyimpan berbagai pengetahuan. Di sana masyarakat mengenal tanaman obat, memahami pola migrasi satwa, membaca siklus musim, serta mempraktikkan teknik konservasi tradisional.

Ketika hutan hilang, pengetahuan itu ikut memudar.

Tanaman obat yang dulu mudah ditemukan tidak lagi tumbuh di kawasan perkebunan monokultur. Pengetahuan tentang ritme musim menjadi tidak relevan karena lanskap telah berubah.

Teknik pengelolaan alam berbasis kearifan lokal juga mulai tergantikan oleh sistem produksi industri yang menekankan efisiensi ekonomi dan eksploitasi sumber daya.

Akibatnya bukan hanya ekosistem yang hilang. Cara masyarakat memahami alam juga perlahan memudar.

Ketika Tiga Krisis Bertemu

Ekosida, etnosida, dan epistemisida tidak berdiri sendiri. Ketiganya saling terkait dan saling memperkuat.

Kerusakan ekosistem menghilangkan ruang hidup masyarakat adat. Kehilangan ruang hidup melemahkan struktur budaya. Ketika budaya melemah, pengetahuan lokal ikut memudar.

Dalam situasi seperti ini, pembangunan tidak hanya merusak lingkungan. Ia juga berpotensi memutus rantai pengetahuan yang berkembang selama ratusan tahun.

Papua dikenal sebagai salah satu wilayah dengan keanekaragaman biokultural tertinggi di dunia. Kawasan ini sering disejajarkan dengan Amazon dan Afrika Tengah.

Keanekaragaman tersebut tidak hanya mencakup flora dan fauna. Papua juga menyimpan keragaman pengetahuan serta cara hidup masyarakat adat.

Namun ketika wilayah seperti Merauke diposisikan sebagai frontier pembangunan, muncul narasi bahwa wilayah tersebut merupakan tanah kosong yang siap dieksploitasi.

Padahal masyarakat adat telah lama mengelola wilayah itu.

Jika ekspansi proyek terus berlangsung, yang terancam bukan hanya hutan. Masa depan keanekaragaman budaya manusia juga ikut dipertaruhkan.

Pembangunan atau Reproduksi Krisis?

Sejarah pembangunan di Indonesia menunjukkan pola yang berulang. Sejak akhir 1990-an, berbagai proyek food estate skala besar sering gagal mencapai target produksi pangan.

Namun proyek-proyek tersebut tetap meninggalkan kerusakan ekologis dan sosial yang luas.

Pengalaman di Kalimantan Tengah pada akhir 1990-an menjadi contoh nyata. Proyek pembukaan lahan gambut kala itu meninggalkan kerusakan lingkungan yang berlangsung hingga kini.

Situasi serupa juga muncul dalam proyek Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) pada dekade berikutnya.

Pengalaman tersebut menunjukkan satu pelajaran penting. Pembangunan yang mengabaikan kondisi ekologis dan sosial sering kali justru melahirkan krisis baru.

Jika pola yang sama kembali terulang di Papua Selatan, proyek pangan nasional berpotensi memicu tiga krisis sekaligus krisis ekologi, krisis sosial, dan krisis pengetahuan.

Pada akhirnya, pertanyaan yang muncul bukan hanya soal keberhasilan proyek pembangunan.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah model pembangunan seperti apa yang akan dijalankan di wilayah yang menjadi rumah bagi masyarakat adat sekaligus salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia.

Di tengah hutan Papua yang perlahan terbuka oleh proyek pembangunan, masa depan itu kini sedang dipertaruhkan. @dimas

Tags: Hutan PapuaMasyarakat AdatPapua SelatanTanah Adat

Kamu Melewatkan Ini

Mama Sinta, Film Pesta Babi dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Pulang

Mama Sinta, Film Pesta Babi dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Pulang

by dimas
Juni 1, 2026

Polemik Mama Sinta dan film Pesta Babi membuka pertanyaan tentang hak atas identitas, masyarakat adat, dan perebutan narasi di Papua...

Pemerintah Tak Melarang Pesta Babi, Tapi Mengapa Nobar Mahasiswa Tetap Dihentikan?

Pemerintah Tak Melarang Pesta Babi, Tapi Mengapa Nobar Mahasiswa Tetap Dihentikan?

by teguh
Mei 14, 2026

Pemerintah menyebut tidak ada pelarangan. Namun mahasiswa justru kehilangan ruang menonton. Film dokumenter Pesta Babi Kolonialisme di Zaman Kita memicu...

Boven Digoel: Nasibmu Dulu dan Kini

Boven Digoel: Nasibmu Dulu dan Kini

by Tabooo
Mei 11, 2026

Boven Digoel, nama yang menghantui para tokoh pergerakan dan pemberontakan di masa lalu. Dulu pemerintah kolonial Belanda membuang orang-orang yang...

Next Post
Kenaikan Yesus Kristus: Ketika Langit Jadi Pengingat, Bumi Diminta Berubah

Kenaikan Yesus Kristus: Ketika Langit Jadi Pengingat, Bumi Diminta Berubah

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id