Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ekonomi Katanya Tumbuh, Kenapa Pekerja Harian Justru Makin Sulit Bertahan?

by eko
Agustus 7, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter
Pertumbuhan ekonomi sering menjadi kabar baik. Namun, banyak pekerja harian justru mengaku semakin sulit memenuhi kebutuhan hidup. Mengapa jurang itu bisa terjadi?

Tabooo.id – Angka ekonomi sering memberi kabar yang terdengar optimistis. Pemerintah berbicara tentang pertumbuhan, investasi, hingga peluang usaha baru. Di atas kertas, semuanya tampak bergerak ke arah yang lebih baik.

Namun, suasana berbeda muncul ketika kita turun ke jalan.

Coba tanyakan kepada tukang parkir, pedagang kaki lima, sopir angkutan, atau buruh harian. Banyak dari mereka justru bercerita tentang penghasilan yang semakin menurun. Bagi mereka, istilah pertumbuhan ekonomi belum tentu berarti isi dompet ikut bertambah.

Di sinilah pertanyaan itu muncul.

Kalau ekonomi benar-benar tumbuh, mengapa banyak pekerja harian merasa hidup semakin berat?

Ini Belum Selesai

Rajamala: Dari Canthik ke Ikon Solo

Karnaval Kemerdekaan dan Upaya Menumbuhkan Nasionalisme Anak

Angka dan Realitas Tidak Selalu Berjalan Bersama

Pertumbuhan ekonomi menggambarkan aktivitas produksi barang dan jasa dalam suatu periode. Angka itu penting karena menunjukkan arah perekonomian secara umum.

Namun, angka tersebut tidak otomatis menggambarkan kondisi setiap orang.

Seseorang bisa melihat pertumbuhan ekonomi meningkat, tetapi pada saat yang sama kehilangan pelanggan. Orang lain mungkin membuka usaha baru, sementara pedagang di pasar tradisional justru menutup tokonya.

Pertumbuhan ekonomi memang terjadi. Masalahnya, manfaatnya tidak selalu sampai kepada semua kelompok masyarakat dengan kecepatan yang sama.

Kisah Jiyono Menjadi Gambaran

Jiyono, tukang parkir di Jalan Yos Sudarso, Solo, menjadi contoh sederhana.

Ia tidak menghitung kondisi ekonomi melalui grafik atau laporan resmi. Ia hanya menghitung kendaraan yang masuk ke area parkir.

Dulu, ia masih sering membawa pulang sekitar Rp50 ribu sehari.

Sekarang, memperoleh Rp30 ribu saja sudah terasa berat.

Hari itu, ia mendapat Rp30 ribu. Setelah menyetor Rp10 ribu, ia membawa pulang Rp20 ribu. Uang tersebut bahkan habis untuk membeli bensin.

Cerita Jiyono mungkin terdengar sederhana. Namun, kisah itu mewakili banyak pekerja sektor informal yang menggantungkan hidup pada ramainya aktivitas ekonomi.

Ketika toko kehilangan pembeli, mereka ikut kehilangan penghasilan.

Pekerja Harian Hidup dari Aktivitas Hari Ini

Pekerja harian tidak memiliki gaji bulanan.

Mereka juga tidak menikmati kepastian pendapatan setiap akhir bulan.

Mereka hidup dari aktivitas ekonomi yang terjadi hari itu juga.

Jika pengunjung ramai, mereka memperoleh uang.

Jika kawasan perdagangan sepi, penghasilan langsung turun.

Karena itu, pekerja informal menjadi kelompok yang paling cepat merasakan perubahan ekonomi.

Mereka tidak menunggu laporan tahunan untuk mengetahui kondisi ekonomi. Mereka sudah merasakannya sejak pagi ketika pelanggan mulai berkurang.

Pola Belanja Ikut Berubah

Perubahan pola belanja masyarakat juga ikut memengaruhi kehidupan pekerja harian.

Semakin banyak orang memilih berbelanja secara daring.

Sebagian lain lebih sering datang ke pusat perbelanjaan modern daripada toko-toko kecil di kawasan lama.

Akibatnya, beberapa toko kehilangan pelanggan.

Ketika toko berhenti beroperasi, tukang parkir kehilangan kendaraan. Pedagang kaki lima kehilangan pembeli. Jasa angkut kehilangan pekerjaan.

Satu toko yang tutup sering kali memengaruhi lebih banyak orang daripada yang terlihat.

Pertumbuhan Tidak Selalu Terasa Merata

Banyak orang menganggap pertumbuhan ekonomi pasti membawa kesejahteraan.

Kenyataannya tidak sesederhana itu.

Pertumbuhan bisa terkonsentrasi pada sektor tertentu, sementara sektor lain masih menghadapi tekanan.

Sebagian perusahaan berkembang.

Sebagian pekerja memperoleh kesempatan baru.

Namun, pekerja sektor informal sering kali harus berjuang lebih keras hanya untuk mempertahankan penghasilan yang sama.

Karena itu, muncul perasaan bahwa ekonomi terlihat baik dari kejauhan, tetapi terasa berat ketika dijalani setiap hari.

Pertanyaan yang Layak Kita Renungkan

Cerita Jiyono bukan sekadar kisah tentang tukang parkir.

Cerita itu mengajak kita melihat sisi lain dari angka-angka ekonomi.

Barangkali pertumbuhan memang terjadi.

Namun, pertanyaan yang lebih penting ialah siapa yang benar-benar menikmati pertumbuhan itu?

Ketika pekerja harian masih kesulitan membawa pulang uang yang cukup untuk membeli kebutuhan pokok, pembahasan tentang ekonomi belum selesai.

Karena pada akhirnya, ukuran ekonomi bukan hanya soal grafik yang naik.

Ukuran ekonomi juga terlihat dari apakah seorang tukang parkir masih bisa pulang dengan senyum setelah bekerja seharian.

Mungkin di situlah kita perlu mulai melihat ekonomi dari sudut yang berbeda. Bukan hanya dari laporan yang penuh angka, tetapi juga dari cerita orang-orang kecil yang setiap hari menjaga denyut kehidupan kota. Sebab, pertumbuhan baru terasa berarti ketika manfaatnya hadir hingga ke mereka yang bekerja tanpa kepastian, tetapi tetap datang setiap pagi demi mencari nafkah. @eko

Tags: EkonomiSoloSurakartaTukang Parkir

Kamu Melewatkan Ini

Rajamala: Dari Canthik ke Ikon Solo

Rajamala: Dari Canthik ke Ikon Solo

by eko
Agustus 21, 2026

Rajamala menempuh perjalanan dari Canthik hingga menjadi ikon Solo. Namun, seberapa jauh masyarakat memahami cerita dan makna di balik wajah...

Pawai Pembangunan Solo Digelar, Lingkungan Jadi Pesan Utama

Pawai Pembangunan Solo Digelar, Lingkungan Jadi Pesan Utama

by eko
Agustus 21, 2026

45 peserta meriahkan Pawai Pembangunan Solo 2026 dari Perempatan Gendengan menuju depan Bank Indonesia Solo dengan tema Sayangi Semesta, Hidup...

Ketika Regenerasi Putus, Budaya Bisa Kehilangan Masa Depannya

Ketika Regenerasi Putus, Budaya Bisa Kehilangan Masa Depannya

by eko
Agustus 20, 2026

Wayang Potehi kembali hidup di Solo. Namun, pelestarian tidak cukup dengan membuka panggung. Budaya membutuhkan generasi yang mau belajar dan...

Next Post
Ketika Toko Tutup, Orang Kecil Kehilangan Nafkah

Ketika Toko Tutup, Orang Kecil Kehilangan Nafkah

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id