Minggu, Agustus 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Sepinya Toko di Solo Ikut Gerus Penghasilan Tukang Parkir

by eko
Agustus 7, 2026
in Reality
A A
Home Reality
Share on Facebook
Share on Twitter
Sujiono, tukang parkir di Jalan Yos Sudarso Solo, mengaku penghasilannya terus turun. Sepinya pengunjung dan tutupnya sejumlah toko membuat uang Rp50 ribu sehari kini sulit ia dapatkan.

Tabooo.id – Deretan toko di Jalan Yos Sudarso masih berdiri. Namun, suasana di kawasan itu tidak lagi seramai beberapa tahun lalu. Kendaraan datang lebih sedikit. Pembeli juga semakin jarang terlihat. Perubahan itu langsung terasa bagi orang-orang yang mencari nafkah di pinggir jalan.

Sujiono menjadi salah satunya.

Pria yang akrab disapa Jiyono itu sudah lama menjaga area parkir di kawasan tersebut. Setiap hari ia datang sejak pagi. Ia berharap kendaraan terus berdatangan seperti dulu. Namun harapan itu kini semakin sulit menjadi kenyataan.

Menurut Jiyono, jumlah pengunjung terus menurun dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi itu membuat lahan parkir lebih sering kosong daripada terisi.

“Pengunjung sekarang sudah jarang. Kendaraan yang parkir juga semakin sedikit,” ujarnya kepada Tabooo.

Ini Belum Selesai

Bukan Cuma Soal Motor, Ketika Komunitas Jadi Tempat Mencari Arah

Desa Adat Sade Terbakar, Ratusan Rumah Sasak Ludes dalam Semalam

Toko Tutup, Penghasilan Ikut Turun

Jiyono melihat perubahan itu setiap hari. Ia menyebut sekitar tiga hingga empat toko di sekitar tempat kerjanya kini sudah tutup.

Penutupan toko tersebut langsung memengaruhi jumlah kendaraan yang masuk. Ketika toko kehilangan pembeli, lahan parkir juga kehilangan pengguna.

“Kalau tokonya tutup, orang yang datang juga berkurang. Parkiran akhirnya sepi,” katanya.

Baginya, setiap toko yang berhenti beroperasi berarti semakin sedikit kesempatan memperoleh uang parkir. Ia tidak memiliki gaji tetap. Ia hanya mengandalkan kendaraan yang datang setiap hari.

Sehari Hanya Membawa Pulang Rp20 Ribu

Pendapatan Jiyono kini jauh dari kata cukup.

Hari itu ia memperoleh uang parkir sekitar Rp30 ribu. Namun ia masih harus menyetor Rp10 ribu kepada pengelola.

Artinya, ia hanya membawa pulang Rp20 ribu.

Jumlah tersebut bahkan belum bisa ia nikmati sepenuhnya karena masih harus ia gunakan untuk membeli bensin.

“Hari ini dapat tiga puluh ribu, disetorkan sepuluh ribu. Pulang bawa uang dua puluh ribu. Itu pun buat bensin sudah habis,” jelasnya.

Ia mengaku sering pulang dengan uang yang hampir tidak tersisa. Setelah membeli bensin, ia harus kembali memikirkan kebutuhan makan dan biaya rumah tangga.

Rp50 Ribu Kini Terasa Sulit

Beberapa tahun lalu, Jiyono masih bisa membawa pulang sekitar Rp50 ribu dalam sehari. Kini kondisi itu berubah drastis.

Menurutnya, angka tersebut sekarang terasa sangat sulit dicapai.

Pendapatan Rp30 ribu justru menjadi hasil tertinggi yang paling sering ia dapatkan.

“Keadaan sekarang lima puluh ribu itu sulit banget. Tiga puluh ribu paling mentok,” ungkapnya.

Ia mengaku tidak hanya dirinya yang mengalami kondisi tersebut. Beberapa pekerja informal lain di kawasan perdagangan juga merasakan penurunan pendapatan karena aktivitas ekonomi belum kembali pulih.

Lesunya Ekonomi Terasa Sampai Pinggir Jalan

Orang sering membahas kondisi ekonomi melalui angka pertumbuhan, inflasi, atau daya beli. Namun Jiyono melihatnya dengan cara yang jauh lebih sederhana.

Ia cukup menghitung kendaraan yang masuk ke area parkir.

Semakin sedikit kendaraan datang, semakin kecil pula uang yang bisa ia bawa pulang.

Bagi pekerja sektor informal, keramaian kota menjadi sumber penghasilan utama. Ketika pusat perdagangan kehilangan pengunjung, mereka menjadi kelompok pertama yang merasakan dampaknya.

Tidak ada gaji bulanan yang menunggu. Tidak ada tunjangan yang bisa menutup kekurangan. Mereka hanya mengandalkan aktivitas masyarakat setiap hari.

Karena itu, perubahan kecil di kawasan perdagangan bisa langsung memengaruhi dapur keluarga mereka.

Berharap Orang Kecil Ikut Merasakan Perbaikan

Meski menghadapi kondisi yang sulit, Jiyono tetap datang bekerja setiap hari. Ia percaya keadaan suatu saat bisa berubah.

Ia berharap pemerintah menghadirkan kebijakan yang mampu menggerakkan kembali roda ekonomi. Menurutnya, kebijakan itu tidak hanya membantu pemilik usaha, tetapi juga menghidupkan kembali pekerjaan orang-orang kecil.

“Semoga ada kebijakan baru yang berpihak kepada orang-orang kecil supaya ekonomi bisa ramai lagi,” harapnya.

Harapan itu terdengar sederhana.

Ia tidak meminta penghasilan besar. Ia juga tidak berharap hidup mewah. Ia hanya ingin kawasan tempatnya mencari nafkah kembali ramai sehingga ia bisa membawa pulang uang yang cukup untuk keluarganya.

Di balik lahan parkir yang mulai lengang, tersimpan cerita tentang pekerja informal yang ikut menanggung beban perlambatan ekonomi. Ketika toko kehilangan pembeli, tukang parkir kehilangan kendaraan. Ketika aktivitas perdagangan melambat, penghasilan mereka ikut menyusut. Bagi Jiyono, ukuran ekonomi bukan grafik atau statistik, melainkan berapa rupiah yang berhasil ia bawa pulang setelah bekerja seharian. @eko

Tags: parkirSoloSurakartaToko SepiTukang Parkir

Kamu Melewatkan Ini

Keris Tak Pernah Diam: Di Museum Keris Ini, Ingatan Masih Dijaga

Keris Tak Pernah Diam: Di Museum Keris Ini, Ingatan Masih Dijaga

by teguh
Agustus 23, 2026

Di balik 1.012 pusaka yang menurut pengelola Museum keris telah teregistrasi, ada pekerjaan sunyi untuk merawat benda, menjaga cerita, dan...

Bukan Cuma Soal Motor, Ketika Komunitas Jadi Tempat Mencari Arah

Bukan Cuma Soal Motor, Ketika Komunitas Jadi Tempat Mencari Arah

by eko
Agustus 23, 2026

Bukan cuma soal motor, Bikers Iqro Solo Raya menjadikan komunitas sebagai ruang belajar Al-Qur'an, membangun persaudaraan, dan mencari arah hidup...

BBMC Central Java Genap 26 Tahun, Bikers Se-Indonesia Berkumpul di Solo

BBMC Central Java Genap 26 Tahun, Bikers Se-Indonesia Berkumpul di Solo

by eko
Agustus 23, 2026

BBMC Central Java rayakan 26 tahun di Taman Sriwedari Solo bersama 500 bikers dari berbagai daerah dan kegiatan sosial untuk...

Next Post
Museum Radya Pustaka, Saat Sejarah Tetap Hidup di Tengah Kota

Museum Radya Pustaka, Saat Sejarah Tetap Hidup di Tengah Kota

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id