Sujiono, tukang parkir di Jalan Yos Sudarso Solo, mengaku penghasilannya terus turun. Sepinya pengunjung dan tutupnya sejumlah toko membuat uang Rp50 ribu sehari kini sulit ia dapatkan.
Tabooo.id – Deretan toko di Jalan Yos Sudarso masih berdiri. Namun, suasana di kawasan itu tidak lagi seramai beberapa tahun lalu. Kendaraan datang lebih sedikit. Pembeli juga semakin jarang terlihat. Perubahan itu langsung terasa bagi orang-orang yang mencari nafkah di pinggir jalan.
Sujiono menjadi salah satunya.
Pria yang akrab disapa Jiyono itu sudah lama menjaga area parkir di kawasan tersebut. Setiap hari ia datang sejak pagi. Ia berharap kendaraan terus berdatangan seperti dulu. Namun harapan itu kini semakin sulit menjadi kenyataan.
Menurut Jiyono, jumlah pengunjung terus menurun dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi itu membuat lahan parkir lebih sering kosong daripada terisi.
“Pengunjung sekarang sudah jarang. Kendaraan yang parkir juga semakin sedikit,” ujarnya kepada Tabooo.
Toko Tutup, Penghasilan Ikut Turun
Jiyono melihat perubahan itu setiap hari. Ia menyebut sekitar tiga hingga empat toko di sekitar tempat kerjanya kini sudah tutup.
Penutupan toko tersebut langsung memengaruhi jumlah kendaraan yang masuk. Ketika toko kehilangan pembeli, lahan parkir juga kehilangan pengguna.
“Kalau tokonya tutup, orang yang datang juga berkurang. Parkiran akhirnya sepi,” katanya.
Baginya, setiap toko yang berhenti beroperasi berarti semakin sedikit kesempatan memperoleh uang parkir. Ia tidak memiliki gaji tetap. Ia hanya mengandalkan kendaraan yang datang setiap hari.
Sehari Hanya Membawa Pulang Rp20 Ribu
Pendapatan Jiyono kini jauh dari kata cukup.
Hari itu ia memperoleh uang parkir sekitar Rp30 ribu. Namun ia masih harus menyetor Rp10 ribu kepada pengelola.
Artinya, ia hanya membawa pulang Rp20 ribu.
Jumlah tersebut bahkan belum bisa ia nikmati sepenuhnya karena masih harus ia gunakan untuk membeli bensin.
“Hari ini dapat tiga puluh ribu, disetorkan sepuluh ribu. Pulang bawa uang dua puluh ribu. Itu pun buat bensin sudah habis,” jelasnya.
Ia mengaku sering pulang dengan uang yang hampir tidak tersisa. Setelah membeli bensin, ia harus kembali memikirkan kebutuhan makan dan biaya rumah tangga.
Rp50 Ribu Kini Terasa Sulit
Beberapa tahun lalu, Jiyono masih bisa membawa pulang sekitar Rp50 ribu dalam sehari. Kini kondisi itu berubah drastis.
Menurutnya, angka tersebut sekarang terasa sangat sulit dicapai.
Pendapatan Rp30 ribu justru menjadi hasil tertinggi yang paling sering ia dapatkan.
“Keadaan sekarang lima puluh ribu itu sulit banget. Tiga puluh ribu paling mentok,” ungkapnya.
Ia mengaku tidak hanya dirinya yang mengalami kondisi tersebut. Beberapa pekerja informal lain di kawasan perdagangan juga merasakan penurunan pendapatan karena aktivitas ekonomi belum kembali pulih.
Lesunya Ekonomi Terasa Sampai Pinggir Jalan
Orang sering membahas kondisi ekonomi melalui angka pertumbuhan, inflasi, atau daya beli. Namun Jiyono melihatnya dengan cara yang jauh lebih sederhana.
Ia cukup menghitung kendaraan yang masuk ke area parkir.
Semakin sedikit kendaraan datang, semakin kecil pula uang yang bisa ia bawa pulang.
Bagi pekerja sektor informal, keramaian kota menjadi sumber penghasilan utama. Ketika pusat perdagangan kehilangan pengunjung, mereka menjadi kelompok pertama yang merasakan dampaknya.
Tidak ada gaji bulanan yang menunggu. Tidak ada tunjangan yang bisa menutup kekurangan. Mereka hanya mengandalkan aktivitas masyarakat setiap hari.
Karena itu, perubahan kecil di kawasan perdagangan bisa langsung memengaruhi dapur keluarga mereka.
Berharap Orang Kecil Ikut Merasakan Perbaikan
Meski menghadapi kondisi yang sulit, Jiyono tetap datang bekerja setiap hari. Ia percaya keadaan suatu saat bisa berubah.
Ia berharap pemerintah menghadirkan kebijakan yang mampu menggerakkan kembali roda ekonomi. Menurutnya, kebijakan itu tidak hanya membantu pemilik usaha, tetapi juga menghidupkan kembali pekerjaan orang-orang kecil.
“Semoga ada kebijakan baru yang berpihak kepada orang-orang kecil supaya ekonomi bisa ramai lagi,” harapnya.
Harapan itu terdengar sederhana.
Ia tidak meminta penghasilan besar. Ia juga tidak berharap hidup mewah. Ia hanya ingin kawasan tempatnya mencari nafkah kembali ramai sehingga ia bisa membawa pulang uang yang cukup untuk keluarganya.
Di balik lahan parkir yang mulai lengang, tersimpan cerita tentang pekerja informal yang ikut menanggung beban perlambatan ekonomi. Ketika toko kehilangan pembeli, tukang parkir kehilangan kendaraan. Ketika aktivitas perdagangan melambat, penghasilan mereka ikut menyusut. Bagi Jiyono, ukuran ekonomi bukan grafik atau statistik, melainkan berapa rupiah yang berhasil ia bawa pulang setelah bekerja seharian. @eko








