Tabooo.id: Sports – Panas matahari Merida belum seterik tensi di lapangan. Jumat siang waktu Indonesia (27/02/2026), napas penonton seakan tertahan ketika Janice Tjen dan pasangannya, Katarzyna Piter, memasuki tie break set pertama. Satu poin bisa mengubah arah pertandingan. Satu kesalahan bisa memupus mimpi. Janice tak berkedip. Ia menggenggam raketnya lebih erat.
Duel Alot, Mental Baja
Menghadapi pasangan tangguh Marie Bouzkova/Ann Li di perempat final ganda putri Merida Open 2026, Janice/Piter langsung diseret ke pertarungan panjang. Set pertama berjalan ketat sejak awal. Kedua pasangan saling menjaga servis, saling menekan di net, dan tak memberi ruang sedikit pun. Skor 6-6 memaksa laga masuk tie break.
Di momen krusial itu, Janice/Piter tampil lebih tenang. Mereka mengontrol reli, memanfaatkan celah kecil, lalu menutup set pertama dengan kemenangan 7-6 (7-3). Sorakan meledak. Momentum berpindah.
Set kedua pun tidak mudah. Skor kembali imbang hingga 3-3. Namun setelah itu, kombinasi agresivitas Janice di baseline dan ketenangan Piter di depan net mulai meredam perlawanan Bouzkova/Li. Mereka meningkatkan tempo, memaksa lawan bertahan, dan akhirnya mengunci kemenangan 6-3. Dua set langsung. Tiket semifinal di tangan.
Kepercayaan Diri yang Terus Tumbuh
Janice Tjen kembali menunjukkan mental kompetitifnya. Petenis 23 tahun itu terus berkembang di sektor ganda. Ia sudah mengoleksi tiga gelar, dua di antaranya bersama Piter. Pada Januari lalu, pasangan ini bahkan menjuarai Hobart International.
Kemenangan di Merida bukan sekadar soal skor. Ini tentang konsistensi dan chemistry yang makin matang. Janice tampil percaya diri, berani mengambil risiko saat poin-poin penting, dan tak ragu memimpin komunikasi di lapangan.
Semifinal nanti, tantangan lebih besar sudah menunggu. Janice/Piter akan menghadapi unggulan kedua, Xinyu Jiang/Cristina Bucsa. Pasangan Asia-Eropa itu melangkah ke empat besar setelah menaklukkan Rutuja Bhosale/Makoto Ninomiya 6-2 dan 6-3.
Laga lain akan mempertemukan Tang Qianhui/Xu Yifan melawan Isabelle Haverlag/Maia Lumsden. Peta persaingan makin panas.
Lebih dari Sekadar Langkah ke Empat Besar
Bagi Janice, setiap semifinal berarti peluang menambah sejarah pribadi. Namun lebih dari itu, pencapaian ini membawa pesan bahwa petenis Indonesia bisa bersaing konsisten di level internasional.
Ia tidak sekadar bertahan. Ia menyerang. Ia mengambil peluang. Ia memaksimalkan momentum.
Di tengah kerasnya tur dunia, Janice menunjukkan bahwa kerja keras dan kepercayaan diri bisa mengantar langkah lebih jauh. Kini, satu kemenangan lagi akan membuka pintu final.
Pertanyaannya tinggal satu mampukah Janice menjaga api semangat itu dan melangkah lebih tinggi? Merida sudah menjadi saksi keberaniannya. Selanjutnya, dunia menunggu bab berikutnya. @teguh




