Jumat, September 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dua Orang Tewas dalam Insiden Ledakan Petasan di Situbondo

by dimas
Februari 27, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Regional – Duka kembali menyelimuti Dusun Mimbo, Desa Sumberanyar, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Pekan lalu, ledakan petasan merenggut satu nyawa. Kini, jumlah korban meninggal bertambah satu orang lagi. Akibatnya, total korban jiwa menjadi dua orang, sementara lima korban lain masih memulihkan diri dari luka bakar serius.

Peristiwa tragis itu terjadi pada Rabu (18/2/2026) sekitar pukul 12.00 WIB. Saat itu, ledakan keras mengguncang rumah milik Ibu Kulsum (60). Serbuk petasan yang ia simpan di dalam rumah tiba-tiba meledak dan langsung merobohkan bangunan hingga rata dengan tanah. Seketika, warga berlarian. Sebagian mencoba mengevakuasi korban, sedangkan yang lain menyelamatkan diri karena takut terjadi ledakan susulan.

Kapolres Situbondo, AKBP Bayu Anuwar Sidiqie, memastikan bahwa Abdurrahman (15) meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di RSUD dr. Soebandi Jember. Remaja itu menderita luka bakar hingga 90 persen di tubuhnya. Tim medis sempat berupaya menyelamatkan nyawanya. Namun akhirnya, kondisinya terus memburuk hingga ia mengembuskan napas terakhir.

“Hari ini kami menerima laporan bahwa satu korban meninggal dunia setelah dirawat di rumah sakit di Jember,” ujar Bayu, Kamis (26/2/2026).

Sebelumnya, Supriyadi (50) meninggal lebih dulu di lokasi kejadian karena reruntuhan bangunan menimpanya. Ledakan itu tidak hanya merobohkan rumah, tetapi juga melukai tujuh orang lainnya dengan luka bakar dan patah tulang. Dengan kata lain, dampaknya tidak hanya menghancurkan fisik bangunan, tetapi juga merusak kehidupan satu keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Ini Belum Selesai

Pemerintah Tarik 25 Merek Beras Fortifikasi, Ada Apa?

Bakar Sampah Berujung Kebakaran Kabel PT Sangsaka di Bantul

Kini, lima korban selamat Samsul (22), Riko (25), Faiz (20), Fino (25), dan Ibu Kulsum (60) telah meninggalkan RSUD Asembagus Situbondo. Dokter memperbolehkan mereka menjalani rawat jalan karena kondisi mereka berangsur membaik. Meski begitu, mereka tetap harus menjalani kontrol rutin. Selain memulihkan luka fisik, mereka juga harus menghadapi trauma akibat ledakan yang terjadi begitu cepat dan brutal.

Ledakan yang Terus Berulang

Peristiwa ini kembali menyoroti persoalan lama, yakni peredaran dan penyimpanan bahan petasan yang minim pengawasan. Setiap tahun, terutama menjelang Ramadan dan Lebaran, aparat rutin mengingatkan warga tentang bahaya petasan. Namun demikian, praktik penyimpanan serbuk peledak di rumah warga tetap terjadi.

Kasus di Situbondo menunjukkan risiko nyata ketika seseorang menyimpan bahan berbahaya tanpa standar keamanan. Rumah tinggal berubah menjadi pusat ledakan. Permukiman padat berubah menjadi area rawan bencana. Karena itu, kelalaian satu orang bisa mengancam banyak jiwa sekaligus.

Selain keluarga korban, warga sekitar menjadi pihak yang paling terdampak. Mereka kehilangan rasa aman. Mereka juga harus menanggung ketakutan setiap kali mendengar suara keras. Sementara itu, keluarga korban menghadapi beban ganda: duka kehilangan anggota keluarga dan tekanan ekonomi akibat biaya pengobatan.

Bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, biaya perawatan luka bakar jelas tidak ringan. Mereka harus menyiapkan ongkos transportasi, obat, hingga kebutuhan sehari-hari yang tetap berjalan. Dengan demikian, ledakan ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga mengguncang stabilitas ekonomi keluarga.

Penegakan Hukum Jangan Hanya Datang Setelah Ledakan

Secara hukum, undang-undang melarang penyimpanan bahan peledak tanpa izin. Namun pada praktiknya, aparat sering bergerak setelah insiden terjadi. Artinya, penegakan hukum masih bersifat reaktif.

Karena itu, aparat perlu menelusuri lebih jauh asal-usul serbuk petasan tersebut. Siapa yang memasok? Dari mana bahan itu diperoleh? Apakah ada jaringan distribusi ilegal yang selama ini beroperasi tanpa pengawasan ketat?

Jika aparat tidak memutus rantai pasok, maka tragedi serupa berpotensi terulang di daerah lain. Selain itu, pemerintah daerah juga perlu meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai risiko menyimpan bahan peledak di rumah.

Ledakan di Situbondo seharusnya menjadi peringatan keras. Petasan bukan sekadar hiburan musiman. Ketika seseorang menyimpannya secara sembarangan, ia mengubahnya menjadi bom waktu di tengah permukiman.

Kini dua orang meninggal dunia. Lima orang lainnya menanggung luka dan trauma. Satu rumah hancur rata dengan tanah. Oleh sebab itu, publik berhak bertanya: sampai kapan peringatan hanya berhenti sebagai imbauan tanpa pengawasan nyata?

Setiap kali ledakan terjadi, kita menyebutnya musibah. Namun jika kelalaian terus dibiarkan, bukankah kita sebenarnya sedang menunggu tragedi berikutnya? @dimas

Tags: DukaIlegalInvestigasiJawa TimurKeamanan NegaraKecelakaanLedakanPetasanPolisiRamadhanSosial & Publik

Kamu Melewatkan Ini

Sound Horeg Diatur Negara, Setelah Tiga Orang Meninggal

Sound Horeg Diatur Negara, Setelah Tiga Orang Meninggal

by dimas
September 17, 2026

Sound horeg mulai diatur pemerintah setelah tiga orang meninggal di Jawa Timur. Regulasi desibel disiapkan untuk menekan risiko kesehatan dan...

Pemilik Warung Mie Babi Tepi Sawah: Kerugian Capai Rp50 Juta

Warung Mi dan Babi Sukoharjo Dibakar, 12 Saksi Diperiksa Polisi

by dimas
September 16, 2026

Warung Mi dan Babi di Sukoharjo dibakar OTK. Polisi memeriksa 12 saksi dan menggandeng Densus 88 untuk mengungkap pelaku serta...

Karhutla Menerjang Jatim dan Kaltara, 38 Hektare Lahan Terbakar

Karhutla Menerjang Jatim dan Kaltara, 38 Hektare Lahan Terbakar

by dimas
September 14, 2026

Karhutla menerjang Jawa Timur dan Kalimantan Utara. BNPB mencatat sekitar 38 hektare lahan terbakar di Ponorogo, Pasuruan, dan Bulungan. Tabooo.id...

Next Post
Tablet Rp60 Juta? Ini Bukan Cuma Gadget, Ini Simbol Status

Tablet Rp60 Juta? Ini Bukan Cuma Gadget, Ini Simbol Status

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id