Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

DPR Dapat Skors, Rakyat Dapat Tontonan Gratis

by dimas
November 9, 2025
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Edge – Pagi ini Indonesia terasa seperti sinetron jam prime time: plot twist di mana-mana, tapi aktornya itu-itu lagi. Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI resmi menjatuhkan sanksi kepada tiga anggota dewan Nafa Urbach, Eko Patrio, dan Ahmad Sahroni karena melanggar kode etik. Di timeline, warganet sibuk menebak, ini DPR atau stand-up comedy show dengan sponsor APBN?

MKD menjatuhkan sanksi nonaktif tiga bulan untuk Nafa, empat bulan untuk Eko, dan enam bulan untuk Sahroni. Sebuah versi lembut dari kalimat, “Lu cuti dulu deh, biar dramanya hidup.” Pengamat politik Mohammad Anas menyebut langkah MKD sudah tepat, tapi bisa lebih berani. Sebab kalau pelanggarannya berat dan mencoreng martabat lembaga, MKD sebenarnya punya wewenang buat minta partai politik asal langsung menendang mereka keluar dari DPR. Tapi ya begitulah politik Indonesia definisi “pelanggaran berat” sering kali selembut ucapan “maaf” di acara televisi: fleksibel, penuh tafsir, dan tergantung siapa yang ngomong.

“MKD: Mahkamah Kode Drakor”

Kalau MKD diadaptasi jadi serial Netflix, mungkin judulnya “Etika di Ujung Mikrofon.” Bayangkan ruang sidang penuh wajah serius, tapi dialognya kayak script drama: “Saudara anggota, Anda melanggar kehormatan dewan.” “Bukan, saya hanya jujur.” Lalu, tepuk tangan penonton virtual di belakang layar.

Rakyat di rumah cuma bisa geleng-geleng sambil nanya ke TV, bukannya kejujuran itu memang syarat dasar kerja mereka? Tapi ya di negeri +62, lembaga pengawas kadang mirip guru BK di sekolah yang sudah pasrah menghadapi murid bandel yang sama setiap minggu. Bedanya, murid sekolah bisa diskors tanpa gaji, sementara anggota dewan diskors sambil trending.

“Orang Tolol Sedunia dan Klub Kata Aneh”

Dari lima anggota DPR yang disidang, pengamat bilang yang paling layak di-kick adalah Ahmad Sahroni. Alasannya? Karena dengan sadar dan percaya diri, dia membalas kritik publik dengan kalimat legendaris: “orang tolol sedunia.” Sebuah ekspresi yang kayaknya bahkan belum sempat disetujui oleh editor etikanya sendiri. Tapi dunia politik memang penuh kejutan. Bukannya dikeluarkan, ia justru dapat sanksi enam bulan nonaktif kartu merah yang di dunia sepak bola berarti “keluar lapangan”, tapi di DPR artinya cuma “cuti sementara.”

Ini Belum Selesai

Listyo Sigit Mau Pensiun, Tapi Siap Demo jika Desk Buruh Mandek?

Investasi dan Harga Sebuah Kepercayaan

“Etika Itu Opsional, Asal Viral”

Fenomena DPR kena sanksi ini sebenarnya deja vu. Polanya selalu sama, salah ngomong, viral di media, minta maaf (kadang), diskors sebentar, lalu balik lagi seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Publik sudah seperti penonton sinetron yang tahu ending-nya dari episode pertama. “Tenang, nanti juga selesai begitu ada isu baru.” Dan benar saja, besok headline-nya mungkin sudah berganti: “Politisi salah sebut anggaran, netizen balas dengan meme.”

“Lembaga Kehormatan yang Butuh Rebranding”

Secara teori, MKD adalah penjaga marwah DPR. Tapi di lapangan, mereka lebih sering berperan sebagai pemadam kebakaran citra yang sudah kadung terbakar. Mereka harus menghadapi dua musuh sekaligus: anggota DPR yang hobi bikin ulah dan publik yang sudah terlalu kebal terhadap skandal. Di dunia normal, kode etik itu batas. Tapi di politik, kode etik sering lebih mirip notifikasi aplikasi bisa di-swipe kapan saja.

Kalau kata anak Twitter, MKD itu kayak reminder salat Jumat: muncul tiap minggu, tapi sering diabaikan dengan alasan “nanti aja.”

“DPR: Dewan yang Terhormat, Tapi Kadang Lupa Naskah”

Setiap kali DPR kena skors, yang rusak bukan cuma citra lembaga, tapi juga kesabaran publik. Ironisnya, dari semua drama ini, tidak ada satu pun permintaan maaf yang sungguh-sungguh terdengar. Padahal yang membayar gaji mereka bukan rating televisi, tapi pajak rakyat yang masih sabar menonton episode demi episode.

Mungkin beginilah DPR versi 2025, penuh plot twist, dialog absurd, dan ending yang menggantung. Karena di negeri ini, etika politik sering hanya jadi ornamen seindah baliho waktu kampanye, secepat dilupakan setelah menang. @dimas

Kamu Melewatkan Ini

Rajamala: Dari Canthik ke Ikon Solo

Rajamala: Dari Canthik ke Ikon Solo

by eko
Agustus 21, 2026

Rajamala menempuh perjalanan dari Canthik hingga menjadi ikon Solo. Namun, seberapa jauh masyarakat memahami cerita dan makna di balik wajah...

Karnaval Kemerdekaan dan Upaya Menumbuhkan Nasionalisme Anak

Karnaval Kemerdekaan dan Upaya Menumbuhkan Nasionalisme Anak

by eko
Agustus 21, 2026

Karnaval kemerdekaan memberi ruang bagi anak untuk mengenal budaya, keberagaman, kreativitas, dan kebersamaan sejak dini. Tabooo.id – Setiap Agustus, bendera...

Mulai 2027, Ibu Hamil Bayar Pajak? Ini Faktanya

Mulai 2027, Ibu Hamil Bayar Pajak? Ini Faktanya

by eko
Agustus 21, 2026

Klaim wanita hamil wajib membayar pajak Rp500 ribu per bulan mulai 2027 adalah hoaks. Tidak ada aturan resmi tentang pajak...

Next Post
Na Daehoon dan Jule: Drama Korea Asli, Tanpa Sutradara, Tanpa Ending Bahagia

Na Daehoon dan Jule: Drama Korea Asli, Tanpa Sutradara, Tanpa Ending Bahagia

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id