Tabooo.id: Edge – Suatu pagi yang harusnya tenang, sebuah rumah mendadak berubah menjadi panggung telenovela dengan rating tinggi. Dari ruang tengah terdengar suara jeritan dramatis ala final episode anime. Seorang anak kelas 3 SD memegangi tablet seperti memeluk harapan hidup terakhirnya. WiFi mati. Lengkap dengan ikon segitiga kuning yang menyakitkan mata dan harga diri.
“Mah, hidup aku nggak ada artinya kalau sinyalnya cuma 1 bar!” teriaknya, suara bergetar seolah narasi film dokumenter tentang punahnya dinosaurus.
Ibunya terpaku. Bukan karena teriakannya, tapi karena intensitas dramanya mengalahkan konten FYP. Sang bapak, dengan heroisme yang muncul dari kepanikan, mendekati router dan menepuk-nepuk perangkat itu layaknya dokter yang sedang melakukan resusitasi jantung:
“Ayo Nak… bertahan… kita butuh kamu… sinyal plisss…”
Di sudut ruangan, seekor kucing memandang semua itu dengan tatapan yang sangat manusiawi:
“Bro, aku dulu bahagia cuma lompat ke kardus. Kalian manusia makin hari makin glitch.”
Selamat datang di Indonesia 2025, di mana dopamin dari gawai jadi komoditas paling dicari, dan tantrum anak bisa dipicu oleh penurunan sinyal lebih efektif daripada nilai rapor merah.
Data yang Lebih Menyeramkan dari Notifikasi ‘Storage Almost Full’
Mari buka statistik yang bikin kita ingin mencabut kabel internet sesaat demi kesehatan mental:
- 48% pengguna internet Indonesia adalah anak di bawah 18 tahun.
- Rata-rata screen time anak: 7 jam sehari. Mirip jam lembur pegawai, cuma tanpa THR.
- 50,3% anak pernah melihat konten dewasa entah disengaja, atau “nyasar tapi senang”.
- 48% pernah dibully online. Terkadang oleh teman sekelas, terkadang oleh anonim yang sok bijak.
- BPS 2024, bahkan anak usia dini sudah pegang ponsel.
- UNICEF, anak 8-18 tahun rata-rata online 5,4 jam per hari, cukup untuk khatamin mini serial.
Dan di tengah belantara digital yang kacau ini, lahirlah PP TUNAS 2025, regulasi yang katanya siap jadi “payung negara” untuk melindungi anak dari konten negatif, adiksi layar, eksploitasi data, sampai jebakan digital yang bentuknya kadang lebih menakutkan dari soal matematika.
Kata Menkomdigi Meutya Hafid:
“Tunas adalah bentuk keberpihakan negara terhadap anak-anak. Kita ingin ruang digital yang aman dan sehat.”
Kedengarannya manis. Tapi internet kita masih kayak rimba Amazon: hijau, liar, penuh makhluk aneh, dan sesekali… predator digital yang suka menyamar.
Realitas Gelap: Internet Kita Mirip Mall Besar Tanpa Satpam
Fenomena adiksi digital anak Indonesia sudah seperti sitcom nasional.
kacau, lucu, tragis, dan tayang tanpa jeda iklan.
Fakta pahit pertama:
Otak anak itu belum punya tombol rem. Dopamin datang, happy, scroll, happy lagi, scroll lagi, crash.
Hasilnya: tantrum, agresi kecil, atau ekspresi datar ala NPC yang baru respawn.
Fakta pahit kedua:
Ruang digital Indonesia ibarat mall tanpa satpam.
Konten dewasa muncul semudah brosur “promo cuci gudang”.
Algoritma bekerja seperti sales yang tidak pernah tahu kapan harus berhenti menawarkan.
Fakta pahit ketiga:
Platform digital sering berperilaku seperti anak kos.
Berantakan dulu, rapikan nanti kalau ditegur.
Lalu muncullah PP TUNAS membawa sederet aturan:
- verifikasi umur,
- filter konten,
- kontrol orangtua,
- fitur screen time,
- larangan profiling anak,
- bahkan kewajiban PSE menyediakan jalur pelaporan yang cepat.
Masalahnya?
Orang tua lebih rajin upload foto anak ketimbang baca manual fitur kontrol orangtua.
Makanya, tunasdigital.id dibuat seperti panduan penyintas “Parenting for Dummies versi Dunia Maya”. Diisi tips pakar, pengalaman ibu-ibu, sampai rekomendasi aplikasi ramah anak.
Tapi realitas di lapangan jauh dari ideal.
Konten liar masih berkeliaran seperti setan gentayangan di malam Jumat:
- chat seksual,
- ujaran kebencian,
- video kekerasan,
- hingga promosi judi yang nempel di timeline seperti kutu.
Seto Mulyadi dari LPAI berkata tegas:
“Platform digital yang melanggar perlu dicabut izinnya.”
Kedengarannya heroik.
Tapi, ya… beberapa platform itu seperti mantan toxic: salah terus, tapi sulit benar-benar ditinggalkan.
Akhir Cerita: Dunia Makin Canggih, Kita Masih Sering Nge-lag
Pada akhirnya, masalah ini bukan cuma soal server, algoritma, atau regulasi.
Ini tentang kita orang dewasa yang yakin “melek digital”, padahal sering kalah cepat dari anak umur 10 tahun yang bisa menembus parental control seperti buka bungkus ciki.
Kita ingin ruang digital aman, sehat, bersih dari predator, bebas dari jebakan konten, dan ramah untuk tumbuh kembang anak.
Tapi bisakah?
Sungguh-sungguh bisakah?
Atau akhirnya kita hanya akan menyaksikan layar menyala, anak-anak semakin tenggelam, orang dewasa semakin bingung, dan kita berkata lirih.
“Ya gimana… dunia makin maju, tapi otak kita masih buffering.” @dimas





