Tabooo.id: Global – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak agar perang Rusia Ukraina berakhir paling lambat Juni 2026. Tekanan itu langsung disusul langkah konkret Washington mengusulkan pertemuan tatap muka antara delegasi Rusia dan Ukraina di Amerika Serikat, kemungkinan besar di Miami, dalam waktu sepekan.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkapkan, ini pertama kalinya AS secara terbuka mengajak kedua pihak duduk satu meja di wilayahnya sendiri.
“Amerika Serikat mengusulkan agar tim negosiasi Ukraina dan Rusia bertemu di AS, mungkin di Miami, dalam waktu seminggu,” kata Zelensky kepada wartawan, Sabtu (7/2/2026).
Trump, kata Zelensky, ingin “menyelesaikan semuanya pada Juni.”
Mediasi Mandek, AS Naikkan Level
Tawaran ini muncul setelah upaya mediasi sebelumnya di Abu Dhabi gagal menghasilkan terobosan, terutama soal isu paling sensitif: wilayah.
Perang Rusia–Ukraina sudah berjalan hampir empat tahun. Saat ini, Rusia menguasai sekitar 20 persen wilayah Ukraina. Moskwa disebut mengincar kendali penuh atas Donetsk timur sebagai bagian dari kesepakatan damai.
Namun Kyiv menolak keras.
“Kami tidak akan menandatangani perjanjian yang gagal mencegah Rusia menyerang lagi,” tegas Zelensky.
Bagi Ukraina, ini bukan sekadar soal menghentikan tembakan. Ini soal jaminan keamanan jangka panjang.
Zelensky Waspada: Jangan Ada Deal di Belakang Kyiv
Zelensky juga menyuarakan kekhawatiran besar: kemungkinan AS dan Rusia membuat kesepakatan tanpa melibatkan Ukraina.
Ia menegaskan, keputusan apa pun yang menyangkut kedaulatan negaranya wajib melibatkan Kyiv.
“Saya tidak akan mentolerir Washington dan Moskwa membuat kesepakatan di belakang Ukraina,” ujarnya.
Nada ini mencerminkan trauma lama. Dalam banyak konflik global, negara yang jadi medan perang sering kali hanya menjadi penonton saat kekuatan besar bernegosiasi.
PLTN Zaporizhzhia Jadi Batu Sandungan
Selain wilayah dan gencatan senjata, satu isu krusial masih menggantung: pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia.
Fasilitas terbesar di Eropa itu telah diduduki pasukan Rusia sejak 2022. Hingga kini, belum ada kesepahaman siapa yang akan mengendalikannya jika damai tercapai.
Padahal, nasib PLTN ini menyangkut jutaan warga sipil bukan cuma di Ukraina, tapi juga negara-negara Eropa Timur yang berada dalam radius risiko jika terjadi insiden nuklir.
Siapa yang Paling Terdampak?
Yang paling menanggung beban tentu rakyat Ukraina: jutaan pengungsi, kota-kota yang hancur, ekonomi yang compang-camping.
Namun dampaknya juga terasa global. Harga energi sempat melonjak, rantai pasok pangan terganggu, dan ketegangan geopolitik membuat dunia hidup dalam mode siaga berkepanjangan.
Jika pertemuan Miami benar-benar terwujud, itu bisa menjadi titik balik. Atau sekadar bab baru dari negosiasi panjang yang penuh tarik-ulur.
Satu hal pasti: rakyat di garis depan sudah terlalu lama menunggu damai. Dan sementara para elite dunia sibuk mengatur meja perundingan, warga biasa hanya berharap satu hal sederhana agar perang berhenti, bukan cuma pindah lokasi. @eko




