Tabooo.id; Nasional – Di tengah tekanan ekonomi dan sanksi global, pasar Iran justru membuka pintu lebar untuk produk Indonesia. Sepanjang Januari–Desember 2025, ekspor RI ke Iran menembus US$249,1 juta atau sekitar Rp4,2 triliun (kurs Rp16.850). Angka itu melonjak 20,79% secara tahunan.
Lonjakan ini mempertebal surplus dagang Indonesia. Pasalnya, impor dari Iran hanya berkisar satu digit juta dolar AS. Artinya, neraca jelas berpihak ke Jakarta.
Namun di balik angka itu, struktur ekspor Indonesia masih terkonsentrasi pada komoditas konsumsi dan bahan baku ringan.
Buah Jadi Raja, Kopi Melonjak Tajam
Buah dan buah bertempurung (HS 08) menjadi primadona dengan nilai US$86,4 juta, tumbuh 49,6% yoy. Porsinya bahkan menembus sepertiga total ekspor. Dengan kata lain, meja makan Iran banyak diisi produk hortikultura Indonesia.
Di bawahnya, kendaraan dan suku cadang (HS 87) menyumbang US$34,1 juta, meski pertumbuhannya tipis 2%. Lemak dan minyak nabati (HS 15) mencapai US$21,9 juta dan naik hampir 20%. Kayu dan produk kayu (HS 44) ikut menguat 22,3% ke angka US$20 juta.
Yang paling mencolok justru kopi, teh, dan rempah (HS 09). Nilainya US$19,15 juta dan melonjak 79,4% dalam setahun. Angka ini menunjukkan permintaan konsumsi cepat di Iran tetap solid meski kondisi domestik mereka tidak stabil.
Produk kimia (HS 38) menyentuh US$20,25 juta, sementara olahan makanan (HS 21) menembus US$12 juta. Mesin dan peralatan mekanis (HS 84) serta bahan kimia organik (HS 29) juga tumbuh masing-masing 48,7% dan 56,5%, walau basis nilainya lebih kecil.
Memang ada lonjakan ekstrem di sektor kecil. Kendaraan udara (HS 88) melonjak lebih dari 4.000% menjadi US$0,55 juta. Produk tembakau olahan (HS 24) naik 1.412%. Kaca (HS 70) dan barang logam (HS 83) juga meroket ratusan persen. Namun kenaikan persentase tinggi itu tidak mengubah peta besar: buah, kendaraan, minyak nabati, kayu, dan rempah tetap mendominasi.
Perang Datang, Risiko Mengintai
Masalahnya, peta geopolitik berubah drastis pada 28 Februari 2026. Presiden AS Donald Trump mengumumkan operasi militer besar bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Serangan menyasar fasilitas nuklir Iran dan kepemimpinan negara tersebut.
Laporan menyebut Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas dalam serangan di Teheran. Sebagai balasan, Iran meluncurkan ratusan rudal dan drone ke Israel serta titik-titik di kawasan Teluk.
Eskalasi ini langsung menimbulkan pertanyaan bagaimana nasib ekspor Indonesia?
Jika konflik meluas dan mengganggu jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz, biaya logistik bisa melonjak. Premi asuransi pengiriman berpotensi naik. Harga energi global bisa kembali liar. Dalam skenario terburuk, arus barang tersendat dan pembayaran makin berisiko.
Siapa yang diuntungkan? Eksportir komoditas konsumsi cepat mungkin masih punya bantalan karena produk mereka relatif tidak membutuhkan pembiayaan kompleks. Namun pelaku usaha kecil dan menengah yang bergantung pada stabilitas pembayaran jelas berada di posisi rentan.
Di sisi lain, lonjakan harga energi global bisa menguntungkan negara eksportir energi. Tapi bagi importir energi seperti Indonesia, volatilitas tetap menjadi ancaman terhadap stabilitas harga domestik.
Singkatnya, 2025 menjadi tahun manis bagi ekspor RI ke Iran. Namun 2026 membuka babak yang jauh lebih penuh ketidakpastian.
Pasar boleh sedang lapar buah dan kopi dari Indonesia. Tetapi ketika meriam mulai berbunyi, yang pertama goyah biasanya bukan permintaan melainkan jalur distribusi dan kepercayaan. @teguh




