Tabooo.id: Vibes – Lampu meredup, lalu suara ramai perlahan naik.
Di satu sudut, seseorang mulai bergerak di luar kendali. Seketika, semua mata tertuju.
Aneh? Mungkin. Tapi rasanya dekat.
Di dunia Para Perasuk, momen seperti itu tidak dihindari. Justru, orang-orang menunggunya.
Dan tanpa sadar, kita pun hidup dalam pola yang serupa.
Desa, Ritual, dan Kerumunan yang Setia
Di sebuah desa, warga tidak berkumpul untuk menjauh. Sebaliknya, mereka datang untuk menyaksikan.
Mereka membentuk lingkaran. Fokus pada satu titik.
Tubuh bergerak liar, sementara suara berubah pelan-pelan. Pada saat yang sama, kesadaran mulai memudar.
Namun, alih-alih takut, suasana justru semakin hidup.
Tak ada yang mundur. Semua tetap menatap, seolah tidak ingin melewatkan apa pun.
Dari Lapangan ke Layar
Sekilas, cerita ini tampak jauh. Desa, ritual, dan kerasukan seperti dunia yang berbeda.
Namun, jika diperhatikan lebih dekat, polanya terasa akrab.
Hari ini, orang-orang tetap berkumpul. Bedanya, mereka tidak lagi berdiri di lapangan, melainkan di depan layar.
Mereka menonton, lalu bereaksi.
Sebagian memberi penilaian, sementara yang lain menunggu sesuatu yang lebih ekstrem.
Di desa Bayu, tubuh menjadi pusat perhatian.
Di dunia kita, identitas mengambil peran itu.
Perbedaannya tipis. Bahkan, hampir tak terasa.
Ironisnya, semakin ekstrem seseorang tampil, semakin besar perhatian yang ia dapatkan.
Dari Cerita Lokal ke Panggung Dunia
Cerita ini tidak berhenti di satu tempat.
Wregas Bhanuteja membawa Para Perasuk melangkah lebih jauh. Ia bekerja sama dengan Rekata Studio dan tim lintas negara.
Awalnya, film ini tampil di Festival Film Internasional Busan dan menarik perhatian.
Setelah itu, langkahnya berlanjut ke Sundance 2026.
Dengan perjalanan itu, cerita lokal mulai berbicara ke audiens global.
Dan ternyata, rasa yang dibawa tetap sama: kebutuhan untuk dilihat.
Yang Sebenarnya Kita Kejar
Film ini tidak hanya berbicara tentang roh. Sebaliknya, ia menyentuh sesuatu yang lebih dekat.
Bayu memang mengejar kerasukan. Namun, yang ia cari adalah pengakuan.
Di titik ini, cerita terasa relevan.
Banyak orang ingin terlihat.
Sebagian ingin dianggap penting.
Ada juga yang rela berubah demi perhatian.
Tanpa disadari, hampir semua pernah berada di posisi itu.
Penutup
Para Perasuk tidak sekadar menyajikan cerita. Film ini mengajak kamu melihat ulang realitas.
Manusia tidak selalu nyaman menjadi dirinya sendiri. Karena itu, banyak yang memilih tampil sebagai versi lain.
Bukan karena itu jujur, tapi karena itu diperhatikan.
Dan pada akhirnya, ketika pengakuan menjadi tujuan, kehilangan kendali tidak lagi terasa menakutkan.
Justru, itu terasa seperti sesuatu yang… diperlukan. @jeje






