Sabtu, Juni 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Di Balik Lonjakan BBM dan Drama Ekonomi di Bulan Suci

by dimas
Maret 3, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Di pasar tradisional yang panas itu, ibu-ibu menatap papan harga yang berganti setiap hari. Pedagang cabe menunduk gelisah, sementara seorang bapak pembawa gas elpiji bergumam, “Sekarang naik lagi bagaimana kami bertahan?” Suasana Ramadhan yang seharusnya dipenuhi berkah berubah menjadi drama ekonomi rakyat.

PT Pertamina (Persero) mendadak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), mengguncang seluruh rantai distribusi. Dari SPBU hingga warung kelontong, masyarakat langsung merasakan dampaknya. Harga Pertamax (RON 92) melonjak dari Rp 11.800 menjadi Rp 12.350 per liter, Pertamax Green (RON 95) naik ke Rp 12.900, sementara solar nonsubsidi Dexlite dan Pertamina Dex melompat ke Rp 14.500 per liter. SPBU swasta juga menyesuaikan harga: Shell Super Rp 12.390, BP 92 Rp 12.390.

Politikus senior dan anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Anam, mengekspresikan kekecewaannya secara terbuka. Ia menilai kebijakan ini menambah beban rakyat yang tengah menghadapi tekanan ekonomi gelombang PHK, daya beli menipis, dan UMKM yang masih rapuh.

“Hari ini rakyat menghadapi kenyataan pahit. PHK terjadi di mana-mana, daya beli lemah, UMKM belum bertumbuh,” ujarnya.

Momentum Sensitif yang Terlupakan

Kenaikan BBM terjadi pada waktu yang ironis: bulan Ramadhan. Saat kebutuhan rumah tangga melonjak, Pertamina menaikkan harga bahan bakar, padahal harga beras, minyak goreng, dan cabe sudah melambung. Mufti mengingatkan, “Sekarang BBM ikut naik. Ongkos distribusi naik, harga bahan pokok ikut terdorong. Rakyat jadi shock absorber kebijakan yang terburu-buru.”

Ini Belum Selesai

G30S, PKI dan Ingatan yang Dibentuk Kekuasaan

Danyang dan Roh Leluhur: Mengapa Masih Dipercaya?

Ia bahkan mempertanyakan alasan Pertamina yang mengaitkan kenaikan dengan konflik Timur Tengah. Baginya, penyesuaian harga mendadak mustahil tanpa perencanaan sebelumnya.

“Jika memang sudah dirancang, kenapa tidak jujur dari awal? Ini terkesan sembunyi-sembunyi, bukan karena perang,” tegasnya.

Jejak Global, Dampak Lokal

Pertamina menyebut fluktuasi harga minyak dunia sebagai alasan kenaikan. Namun konsumen di tanah air langsung merasakan dampaknya. Dari Pertamax hingga solar, lonjakan harga antara Rp 340 hingga Rp 1.000 per liter menggerus dompet masyarakat menengah ke bawah.

Pemilik warung, sopir ojol, dan petani merasakan efeknya setiap hari. Seorang pedagang kelontong di Jakarta Timur mengeluh, “Setiap kali BBM naik, ongkos kirim sayur dan sembako ikut naik. Kami hanya bisa menahan harga sebentar, tapi akhirnya konsumen yang menanggung.”

Korban yang Diam

Di sisi lain kota, pekerja kontrak dan buruh harian tetap berangkat ke tempat kerja, membayar transportasi lebih mahal, sambil berharap PHK tidak menimpa mereka. Seorang sopir truk logistik bercerita, “Gaji tetap sama, tapi bensin naik, biaya hidup naik. Kita yang merasakan langsung, sementara keputusan ada jauh di atas.”

Efek domino ini menimbulkan dilema sosial. Rakyat menanggung risiko setiap kali pemerintah dan Pertamina mengambil keputusan ekonomi yang seharusnya melindungi mereka. Ironi itu terasa ketika kenaikan disebut sebagai respons terhadap “tekanan global.” Di mata rakyat, tekanan itu terdengar megah, tapi tidak mengurangi beban sehari-hari.

Tabooo Bicara

Fenomena ini menyingkap satu kenyataan pahit: rakyat menjadi bantalan setiap kali keputusan ekonomi yang tidak populer diterapkan. Apakah rakyat harus selalu menahan risiko global? Apakah Ramadhan harus menjadi bulan kesengsaraan ekonomi?

Kritik Mufti Anam menyorot keberpihakan, tapi keputusan strategis sering muncul tanpa melibatkan parlemen. Rakyat bukan sekadar statistik; mereka manusia dengan kebutuhan harian, tanggung jawab keluarga, dan asa yang rapuh di tengah badai inflasi.

Rantai yang Rapuh

Dari SPBU ke warung, dari pasar ke rumah tangga, kenaikan BBM memantik efek domino yang sulit dihindari. Ongkos distribusi naik, harga sembako ikut terdorong, daya beli menipis. Ibu-ibu membeli sayur sambil menghitung tiap rupiah; bapak-bapak sopir menekan gas sambil menahan kantong belanja; anak-anak menatap lauk seadanya di meja. Semua itu terjadi karena keputusan yang dianggap “teknis” ternyata menyentuh hidup mereka secara langsung.

Penutup yang Menggigit

Di negeri yang katanya demokrasi, rakyat sering menjadi penyangga, bukan prioritas. BBM naik di tengah Ramadhan bukan sekadar angka di layar SPBU, tapi simbol ketidakadilan ekonomi yang menempel di tubuh masyarakat. Sejauh mana pemerintah bisa menyeimbangkan tekanan global dan beban lokal tanpa mengorbankan rakyat?

Ibu-ibu di pasar menatap papan harga, berharap Ramadhan berikutnya membawa berkah, bukan kenaikan BBM mendadak. Pertanyaan itu tetap menggantung di udara, menunggu jawaban nyata dari mereka yang duduk jauh di gedung tinggi siapa sebenarnya yang dilayani oleh kebijakan ini? @dimas

Tags: BBMDampakDaya BeliEkonomi IndonesiaEnergiInflasiKebijakanKenaikanKritikmasyarakatNasionalPertaminaPolitik IndonesiarakyatRamadhanTerdampak

Kamu Melewatkan Ini

Bank Dunia: Orang Kaya Nikmati Mayoritas Subsidi BBM

Bank Dunia: Orang Kaya Nikmati Mayoritas Subsidi BBM

by teguh
Juni 13, 2026

Pemerintah selama bertahun-tahun mengandalkan subsidi bahan bakar minyak (BBM) untuk menjaga daya beli masyarakat. Namun, temuan terbaru Bank Dunia menunjukkan...

Seruan Reformasi Jilid 2: Aspirasi Publik atau Nostalgia Politik?

Seruan Reformasi Jilid 2: Aspirasi Publik atau Nostalgia Politik?

by teguh
Juni 13, 2026

Beberapa hari ini publik kembali mendengar sebuah istilah yang pernah mengubah arah sejarah Indonesia yaitu, Reformasi. Bedanya, kali ini istilah...

Reformasi Jilid 2: Gerakan Moral atau Sekadar Label Politik?

Reformasi Jilid 2: Gerakan Moral atau Sekadar Label Politik?

by teguh
Juni 12, 2026

Aksi mahasiswa kembali memenuhi jalanan. Spanduk kritik bermunculan. Tagar perlawanan beredar luas di media sosial. Di tengah suasana itu, satu...

Next Post
Jalur Sutra: Dari Rempah hingga Wabah

Jalur Sutra: Dari Rempah hingga Wabah

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id