Rabu, Juli 29, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Di Balik Lonjakan BBM dan Drama Ekonomi di Bulan Suci

by dimas
Maret 3, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Di pasar tradisional yang panas itu, ibu-ibu menatap papan harga yang berganti setiap hari. Pedagang cabe menunduk gelisah, sementara seorang bapak pembawa gas elpiji bergumam, “Sekarang naik lagi bagaimana kami bertahan?” Suasana Ramadhan yang seharusnya dipenuhi berkah berubah menjadi drama ekonomi rakyat.

PT Pertamina (Persero) mendadak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), mengguncang seluruh rantai distribusi. Dari SPBU hingga warung kelontong, masyarakat langsung merasakan dampaknya. Harga Pertamax (RON 92) melonjak dari Rp 11.800 menjadi Rp 12.350 per liter, Pertamax Green (RON 95) naik ke Rp 12.900, sementara solar nonsubsidi Dexlite dan Pertamina Dex melompat ke Rp 14.500 per liter. SPBU swasta juga menyesuaikan harga: Shell Super Rp 12.390, BP 92 Rp 12.390.

Politikus senior dan anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Anam, mengekspresikan kekecewaannya secara terbuka. Ia menilai kebijakan ini menambah beban rakyat yang tengah menghadapi tekanan ekonomi gelombang PHK, daya beli menipis, dan UMKM yang masih rapuh.

“Hari ini rakyat menghadapi kenyataan pahit. PHK terjadi di mana-mana, daya beli lemah, UMKM belum bertumbuh,” ujarnya.

Momentum Sensitif yang Terlupakan

Kenaikan BBM terjadi pada waktu yang ironis: bulan Ramadhan. Saat kebutuhan rumah tangga melonjak, Pertamina menaikkan harga bahan bakar, padahal harga beras, minyak goreng, dan cabe sudah melambung. Mufti mengingatkan, “Sekarang BBM ikut naik. Ongkos distribusi naik, harga bahan pokok ikut terdorong. Rakyat jadi shock absorber kebijakan yang terburu-buru.”

Ini Belum Selesai

Kabinet Bayangan: Alarm Demokrasi di Tengah Minimnya Oposisi

MBG Dilarang Pakai Subsidi, Siapa Menanggung Selisih Biayanya?

Ia bahkan mempertanyakan alasan Pertamina yang mengaitkan kenaikan dengan konflik Timur Tengah. Baginya, penyesuaian harga mendadak mustahil tanpa perencanaan sebelumnya.

“Jika memang sudah dirancang, kenapa tidak jujur dari awal? Ini terkesan sembunyi-sembunyi, bukan karena perang,” tegasnya.

Jejak Global, Dampak Lokal

Pertamina menyebut fluktuasi harga minyak dunia sebagai alasan kenaikan. Namun konsumen di tanah air langsung merasakan dampaknya. Dari Pertamax hingga solar, lonjakan harga antara Rp 340 hingga Rp 1.000 per liter menggerus dompet masyarakat menengah ke bawah.

Pemilik warung, sopir ojol, dan petani merasakan efeknya setiap hari. Seorang pedagang kelontong di Jakarta Timur mengeluh, “Setiap kali BBM naik, ongkos kirim sayur dan sembako ikut naik. Kami hanya bisa menahan harga sebentar, tapi akhirnya konsumen yang menanggung.”

Korban yang Diam

Di sisi lain kota, pekerja kontrak dan buruh harian tetap berangkat ke tempat kerja, membayar transportasi lebih mahal, sambil berharap PHK tidak menimpa mereka. Seorang sopir truk logistik bercerita, “Gaji tetap sama, tapi bensin naik, biaya hidup naik. Kita yang merasakan langsung, sementara keputusan ada jauh di atas.”

Efek domino ini menimbulkan dilema sosial. Rakyat menanggung risiko setiap kali pemerintah dan Pertamina mengambil keputusan ekonomi yang seharusnya melindungi mereka. Ironi itu terasa ketika kenaikan disebut sebagai respons terhadap “tekanan global.” Di mata rakyat, tekanan itu terdengar megah, tapi tidak mengurangi beban sehari-hari.

Tabooo Bicara

Fenomena ini menyingkap satu kenyataan pahit: rakyat menjadi bantalan setiap kali keputusan ekonomi yang tidak populer diterapkan. Apakah rakyat harus selalu menahan risiko global? Apakah Ramadhan harus menjadi bulan kesengsaraan ekonomi?

Kritik Mufti Anam menyorot keberpihakan, tapi keputusan strategis sering muncul tanpa melibatkan parlemen. Rakyat bukan sekadar statistik; mereka manusia dengan kebutuhan harian, tanggung jawab keluarga, dan asa yang rapuh di tengah badai inflasi.

Rantai yang Rapuh

Dari SPBU ke warung, dari pasar ke rumah tangga, kenaikan BBM memantik efek domino yang sulit dihindari. Ongkos distribusi naik, harga sembako ikut terdorong, daya beli menipis. Ibu-ibu membeli sayur sambil menghitung tiap rupiah; bapak-bapak sopir menekan gas sambil menahan kantong belanja; anak-anak menatap lauk seadanya di meja. Semua itu terjadi karena keputusan yang dianggap “teknis” ternyata menyentuh hidup mereka secara langsung.

Penutup yang Menggigit

Di negeri yang katanya demokrasi, rakyat sering menjadi penyangga, bukan prioritas. BBM naik di tengah Ramadhan bukan sekadar angka di layar SPBU, tapi simbol ketidakadilan ekonomi yang menempel di tubuh masyarakat. Sejauh mana pemerintah bisa menyeimbangkan tekanan global dan beban lokal tanpa mengorbankan rakyat?

Ibu-ibu di pasar menatap papan harga, berharap Ramadhan berikutnya membawa berkah, bukan kenaikan BBM mendadak. Pertanyaan itu tetap menggantung di udara, menunggu jawaban nyata dari mereka yang duduk jauh di gedung tinggi siapa sebenarnya yang dilayani oleh kebijakan ini? @dimas

Tags: BBMDampakDaya BeliEkonomi IndonesiaEnergiInflasiKebijakanKenaikanKritikmasyarakatNasionalPertaminaPolitik IndonesiarakyatRamadhanTerdampak

Kamu Melewatkan Ini

Mundurnya Perry Warjiyo, Alarm bagi Independensi Bank Indonesia

Mundurnya Perry Warjiyo, Alarm bagi Independensi Bank Indonesia

by dimas
Juli 28, 2026

Mundurnya Perry Warjiyo memicu pertanyaan tentang independensi Bank Indonesia. Di tengah tekanan rupiah, kepercayaan pasar menjadi ujian terbesar bagi bank...

Perry Warjiyo Mundur: Mampukah BI Menjaga Rupiah?

Perry Warjiyo Mundur: Mampukah BI Menjaga Rupiah?

by dimas
Juli 27, 2026

Pengunduran diri Perry Warjiyo menjadi ujian baru bagi Bank Indonesia. Mampukah BI menjaga stabilitas rupiah, mempertahankan kepercayaan pasar, dan tetap...

Kudatuli: Ketika Jakarta Bangun dalam Kepungan

Kudatuli: Ketika Jakarta Bangun dalam Kepungan

by Tabooo
Juli 27, 2026

Peristiwa Kudatuli pada 27 Juli 1996 bukan sekadar konflik internal PDI. Penyerbuan di Jalan Diponegoro membuka kekerasan, perburuan aktivis, dan...

Next Post
Jalur Sutra: Dari Rempah hingga Wabah

Jalur Sutra: Dari Rempah hingga Wabah

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id