Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Di Balik Jaket Bekas, Ada Cerita Eksistensi: Kenapa Gen Z Tak Mau Berhenti Thrift

by dimas
Mei 8, 2026
in Culture
A A
Home Culture
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Fahsion – Pernah nggak sih kamu ngerasa nggak jadi diri sendiri gara-gara baju yang kamu pakai? Kayak, outfit kamu rapi banget tapi kok rasanya kayak bukan kamu aja. Nah, di situlah thrifting muncul jadi penyelamat bukan cuma buat isi dompet, tapi juga buat identitas diri. Tapi kabar buruknya, gaya hidup ini lagi di ujung tanduk gara-gara wacana larangan impor pakaian bekas ilegal.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bilang kalau pengawasan barang impor termasuk pakaian bekas bakal diperketat. Tujuannya sih mulia, melindungi produk lokal dan mencegah penyelundupan. Tapi di lapangan, anak muda kayak Novi (18), salah satu penggemar thrifting di Depok Town Square, mulai panik.

“Bakal berpengaruh banget sih. Soalnya buat aku, fashion itu cara aku mengekspresikan diri. Kalau nggak bisa thrift, rasanya kayak kehilangan ruang buat jadi diri sendiri,” kata Novi sambil melipat jaket denim hasil buruan di toko thrift-nya.

Dari Hemat Jadi Gaya Hidup

Awalnya thrifting itu identik sama “belanja hemat” beli baju preloved dengan harga miring. Tapi seiring waktu, ia berubah jadi budaya anak muda. Thrifting bukan cuma soal cari murah, tapi soal self-expression, keberlanjutan, dan bahkan eksistensi sosial.

Menurut data dari ThredUp 2025 Resale Report, pasar pakaian bekas global diprediksi tumbuh tiga kali lipat lebih cepat dibandingkan industri fashion baru dalam lima tahun ke depan. Di Indonesia, hal ini makin terasa di kalangan Gen Z. Dari Depok sampai Jogja, toko-toko thrift bermunculan, bahkan menjelma jadi spot nongkrong yang instagramable.

“Sekarang thrift itu udah gaya hidup. Aku dan teman-temanku punya style yang sama, dan thrifting bikin kita bisa tampil sesuai karakter masing-masing tanpa harus mahal,” tambah Novi.

Jadi jangan heran kalau thrifting sekarang bukan cuma urusan mode, tapi juga bagian dari identitas sosial. Di tengah ekonomi yang makin sulit, thrifting jadi jalan tengah antara ekspresi diri dan realitas finansial.

Ini Belum Selesai

Nginang di Sekaten: Saat Sirih Menjaga Jejak Tradisi

Ritek Surakarta Kenalkan Jaranan Sentherewe di Pakuwon Mall Solo

Ketika Kebijakan Ketemu Gaya Hidup

Nah, di sinilah benturannya mulai terasa. Pemerintah ingin melindungi industri lokal, sementara anak muda merasa kebijakan ini bisa mematikan ruang ekspresi mereka. Dua-duanya nggak salah.

Kalau dilihat dari sisi pemerintah, impor pakaian bekas ilegal memang punya banyak dampak negatif. Bisa menurunkan penjualan produk lokal, menciptakan persaingan harga yang nggak sehat, bahkan berpotensi membawa limbah tekstil dari luar negeri. Tapi di sisi lain, thrifting juga punya nilai sosial dan lingkungan yang besar dari mengurangi limbah mode (fashion waste), mendukung ekonomi kecil, sampai membangun komunitas kreatif baru.

Psikolog gaya hidup, kalau kita kutip dari berbagai riset, menyebut bahwa fashion adalah bentuk ekspresi identitas personal. Baju bukan sekadar kain penutup tubuh, tapi juga simbol tentang siapa kita dan bagaimana kita ingin dilihat. Jadi ketika ruang ekspresi itu dibatasi, bukan cuma gaya yang matitapi sebagian kecil dari kepribadian seseorang juga ikut tergerus.

Industri Lokal Harus Naik Kelas

Novi sendiri nggak menolak kebijakan pemerintah. Ia justru melihat peluang.

“Sebenarnya ada dua sisi. Produk lokal bisa naik, tapi anak muda tetap butuh yang sesuai selera dan budget. Jadi, kalau mau produk lokalnya laku, harus bisa baca tren dan berinovasi,” ujarnya.

Dan dia ada benarnya. Anak muda sekarang suka produk lokal as long as tampilannya modern, nyaman, dan punya nilai cerita. Coba lihat brand lokal seperti Erigo, Monstore, atau Buttonscarves mereka tumbuh karena ngerti pasar muda: fun, kreatif, dan punya makna.

Kalau produsen lokal bisa meniru semangat itu, larangan impor pakaian bekas bisa jadi titik balik bukan akhir dari thrifting, tapi awal dari revolusi mode lokal yang lebih berkelanjutan dan keren.

Jadi, Apa Dampaknya Buat Kamu?

Larangan impor pakaian bekas mungkin bikin sedih buat para penggemar thrift, tapi ini juga kesempatan buat refleksi: apa benar ekspresi diri kita cuma bisa lewat baju bekas dari luar negeri? Atau sebenarnya, kita bisa menciptakan gaya baru dari karya anak bangsa sendiri?

Yang jelas, thrifting udah ngasih pelajaran penting: gaya nggak harus mahal, tapi harus bermakna. Dan entah pakai baju preloved, lokal brand, atau bikin sendiri, yang paling penting kamu tetap bisa jadi diri sendiri di tengah arus tren yang terus berubah.

Mungkin, ini saatnya thrifting bukan sekadar berburu label vintage, tapi berburu makna baru tentang siapa kita di balik setiap potong kain yang kita pakai. Karena pada akhirnya, gaya hidup adalah pernyataan tentang keberanian untuk tetap autentik, bukan cuma tentang apa yang lagi tren di Depok Town Square. @dimas

Kamu Melewatkan Ini

Pengungsi Gempa NTT Makan Nasi Campur Kopi, Negara ke Mana?

Pengungsi Gempa NTT Makan Nasi Campur Kopi, Negara ke Mana?

by dimas
Agustus 22, 2026

Pengungsi gempa NTT di Manggarai Timur kesulitan pangan hingga anak-anak makan nasi campur kopi. Bantuan dinilai belum merata. Tabooo.id -...

Warga Pati Kepung Senayan, RUU Perampasan Aset Jadi Tuntutan

AMPB Tinggalkan DPR, Mengapa Warga Pati Memilih Mengalah?

by dimas
Agustus 22, 2026

AMPB meninggalkan DPR bukan karena dibubarkan aparat, tetapi untuk menghindari benturan. Gerakan warga Pati tetap berlanjut menuju aksi 27 Agustus....

Apa Itu Masyarakat Prismatik dan Mengapa Masih Relevan?

Apa Itu Masyarakat Prismatik dan Mengapa Masih Relevan?

by dimas
Agustus 22, 2026

Masyarakat prismatik menjelaskan benturan institusi modern dengan perilaku lama. Mengapa konsep Fred W. Riggs masih relevan membaca realitas Indonesia? Tabooo.id...

Next Post
DPR Dapat Skors, Rakyat Dapat Tontonan Gratis

DPR Dapat Skors, Rakyat Dapat Tontonan Gratis

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id