Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Di Balik Jaket Bekas, Ada Cerita Eksistensi: Kenapa Gen Z Tak Mau Berhenti Thrift

by dimas
Mei 8, 2026
in Culture
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Fahsion – Pernah nggak sih kamu ngerasa nggak jadi diri sendiri gara-gara baju yang kamu pakai? Kayak, outfit kamu rapi banget tapi kok rasanya kayak bukan kamu aja. Nah, di situlah thrifting muncul jadi penyelamat bukan cuma buat isi dompet, tapi juga buat identitas diri. Tapi kabar buruknya, gaya hidup ini lagi di ujung tanduk gara-gara wacana larangan impor pakaian bekas ilegal.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bilang kalau pengawasan barang impor termasuk pakaian bekas bakal diperketat. Tujuannya sih mulia, melindungi produk lokal dan mencegah penyelundupan. Tapi di lapangan, anak muda kayak Novi (18), salah satu penggemar thrifting di Depok Town Square, mulai panik.

“Bakal berpengaruh banget sih. Soalnya buat aku, fashion itu cara aku mengekspresikan diri. Kalau nggak bisa thrift, rasanya kayak kehilangan ruang buat jadi diri sendiri,” kata Novi sambil melipat jaket denim hasil buruan di toko thrift-nya.

Dari Hemat Jadi Gaya Hidup

Awalnya thrifting itu identik sama “belanja hemat” beli baju preloved dengan harga miring. Tapi seiring waktu, ia berubah jadi budaya anak muda. Thrifting bukan cuma soal cari murah, tapi soal self-expression, keberlanjutan, dan bahkan eksistensi sosial.

Menurut data dari ThredUp 2025 Resale Report, pasar pakaian bekas global diprediksi tumbuh tiga kali lipat lebih cepat dibandingkan industri fashion baru dalam lima tahun ke depan. Di Indonesia, hal ini makin terasa di kalangan Gen Z. Dari Depok sampai Jogja, toko-toko thrift bermunculan, bahkan menjelma jadi spot nongkrong yang instagramable.

“Sekarang thrift itu udah gaya hidup. Aku dan teman-temanku punya style yang sama, dan thrifting bikin kita bisa tampil sesuai karakter masing-masing tanpa harus mahal,” tambah Novi.

Jadi jangan heran kalau thrifting sekarang bukan cuma urusan mode, tapi juga bagian dari identitas sosial. Di tengah ekonomi yang makin sulit, thrifting jadi jalan tengah antara ekspresi diri dan realitas finansial.

Ini Belum Selesai

Kenapa Kucumbu Tubuh Indahku Membuat Banyak Orang Tidak Nyaman?

Amir Syarifuddin: Tokoh Komunis yang Membawa Injil saat Eksekusi

Ketika Kebijakan Ketemu Gaya Hidup

Nah, di sinilah benturannya mulai terasa. Pemerintah ingin melindungi industri lokal, sementara anak muda merasa kebijakan ini bisa mematikan ruang ekspresi mereka. Dua-duanya nggak salah.

Kalau dilihat dari sisi pemerintah, impor pakaian bekas ilegal memang punya banyak dampak negatif. Bisa menurunkan penjualan produk lokal, menciptakan persaingan harga yang nggak sehat, bahkan berpotensi membawa limbah tekstil dari luar negeri. Tapi di sisi lain, thrifting juga punya nilai sosial dan lingkungan yang besar dari mengurangi limbah mode (fashion waste), mendukung ekonomi kecil, sampai membangun komunitas kreatif baru.

Psikolog gaya hidup, kalau kita kutip dari berbagai riset, menyebut bahwa fashion adalah bentuk ekspresi identitas personal. Baju bukan sekadar kain penutup tubuh, tapi juga simbol tentang siapa kita dan bagaimana kita ingin dilihat. Jadi ketika ruang ekspresi itu dibatasi, bukan cuma gaya yang matitapi sebagian kecil dari kepribadian seseorang juga ikut tergerus.

Industri Lokal Harus Naik Kelas

Novi sendiri nggak menolak kebijakan pemerintah. Ia justru melihat peluang.

“Sebenarnya ada dua sisi. Produk lokal bisa naik, tapi anak muda tetap butuh yang sesuai selera dan budget. Jadi, kalau mau produk lokalnya laku, harus bisa baca tren dan berinovasi,” ujarnya.

Dan dia ada benarnya. Anak muda sekarang suka produk lokal as long as tampilannya modern, nyaman, dan punya nilai cerita. Coba lihat brand lokal seperti Erigo, Monstore, atau Buttonscarves mereka tumbuh karena ngerti pasar muda: fun, kreatif, dan punya makna.

Kalau produsen lokal bisa meniru semangat itu, larangan impor pakaian bekas bisa jadi titik balik bukan akhir dari thrifting, tapi awal dari revolusi mode lokal yang lebih berkelanjutan dan keren.

Jadi, Apa Dampaknya Buat Kamu?

Larangan impor pakaian bekas mungkin bikin sedih buat para penggemar thrift, tapi ini juga kesempatan buat refleksi: apa benar ekspresi diri kita cuma bisa lewat baju bekas dari luar negeri? Atau sebenarnya, kita bisa menciptakan gaya baru dari karya anak bangsa sendiri?

Yang jelas, thrifting udah ngasih pelajaran penting: gaya nggak harus mahal, tapi harus bermakna. Dan entah pakai baju preloved, lokal brand, atau bikin sendiri, yang paling penting kamu tetap bisa jadi diri sendiri di tengah arus tren yang terus berubah.

Mungkin, ini saatnya thrifting bukan sekadar berburu label vintage, tapi berburu makna baru tentang siapa kita di balik setiap potong kain yang kita pakai. Karena pada akhirnya, gaya hidup adalah pernyataan tentang keberanian untuk tetap autentik, bukan cuma tentang apa yang lagi tren di Depok Town Square. @dimas

Kamu Melewatkan Ini

Anak Muda Melawan Juri: Mengapa Pendidikan Kita Masih Sulit Menerima Kritik?

Anak Muda Melawan Juri: Mengapa Pendidikan Kita Masih Sulit Menerima Kritik?

by teguh
Mei 14, 2026

Di sebuah ruang lomba yang semestinya merayakan pengetahuan, suara keberatan seorang siswa justru memecah suasana. dan langsung menggambarkan bahwa Pendidikan...

VOC Runtuh karena Korupsi, Kenapa Indonesia Mengulang Pola yang Sama?

VOC Runtuh karena Korupsi, Kenapa Indonesia Mengulang Pola yang Sama?

by dimas
Mei 13, 2026

VOC runtuh karena korupsi besar, penggelapan uang, dan permainan elite kekuasaan. Dua abad berlalu, Indonesia masih menghadapi pola lama jabatan...

Kenapa Kucumbu Tubuh Indahku Membuat Banyak Orang Tidak Nyaman?

Kenapa Kucumbu Tubuh Indahku Membuat Banyak Orang Tidak Nyaman?

by eko
Mei 13, 2026

Kucumbu Tubuh Indahku bukan sekadar film yang memancing kontroversi. Film karya Garin Nugroho itu berubah menjadi simbol benturan besar antara...

Next Post
DPR Dapat Skors, Rakyat Dapat Tontonan Gratis

DPR Dapat Skors, Rakyat Dapat Tontonan Gratis

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id