Rabu, Juni 24, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Demam Korea dan Lupa Hangatnya Budaya Sendiri

by teguh
Oktober 30, 2025
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Edge – “Annyeonghaseyo!” Suara gadis-gadis SMA itu memecah udara siang di depan sebuah minimarket di Jakarta Selatan. Mereka berlarian sambil membawa cup ramyeon panas, tawa mereka menggema bersama musik Seventeen yang bocor dari speaker. Tak ada yang aneh, kecuali satu hal, mereka tak pernah mendengar lagu daerah dari kampung halaman mereka sendiri.

“Kalau disuruh nyanyi lagu daerah, paling cuma Ampar-Ampar Pisang, itu juga salah lirik,” kata salah satu dari mereka, tertawa canggung. Kita hidup di zaman ketika kimchi lebih mudah ditemukan daripada gethuk, dan Hanbok lebih familiar di kepala generasi muda daripada Kebaya Kartini.

Gelombang yang Datang dari Utara

Dalam sebuah workshop yang digelar Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan Korea Foundation, Gangsim Eom, kandidat PhD dari Harvard University, mengungkap hal yang bikin banyak orang tertegun. Menurut risetnya, 53,5% orang Indonesia merasa budaya Korea sudah tidak asing sama sekali bagi mereka.

Sebaliknya, hanya 15,8% yang merasa tak asing dengan kebudayaan daerah Indonesia lain di luar tempat asalnya. Lebih parah lagi, 27,2% justru mengaku cukup asing dengan budaya Indonesia sendiri.

“Saya cukup kaget dengan hasil survei ini,” kata Gangsim, dalam nada yang setengah kagum, setengah heran.
Bagaimana tidak? Ia datang ke Indonesia untuk meneliti pengaruh K-wave, tapi malah menemukan cerminan globalisasi yang begitu telanjang: sebuah bangsa yang lebih mengenal orang lain daripada dirinya sendiri.

Ini Belum Selesai

Bayar Tepat Waktu, Layanan Kapan Tepat?

Reformati: Ketika Jalanan Menjadi Pengadilan Kekuasaan

Korea di Mana-Mana

Gangsim menceritakan, selama tinggal di Indonesia, ia tidak merasa jauh dari rumah. “Di minimarket dekat rumah saya saja sudah ada mi instan Korea. Di mana-mana ada restoran Korea, dari tenda kaki lima sampai yang berkelas tinggi.”

Dan data mendukung cerita itu.
Indonesia menempati urutan pertama dunia dalam jumlah penggemar BTS, mencapai 20% dari total fans global sekitar 80,8 ribu orang aktif terdata.
Bahkan menurut Spotify, empat dari sepuluh kota dengan pendengar terbanyak grup Seventeen berasal dari Indonesia: Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Semarang.

K-wave bukan lagi sekadar gelombang budaya pop. Ia telah menjelma jadi infrastruktur emosi kolektif, dari playlist Spotify sampai feed Instagram politikus.
Ingat waktu Ganjar Pranowo memposting pendukungnya yang membawa poster bertuliskan Hangul saat kampanye?
Ya, bahkan panggung politik pun kini ikut menari dengan irama Korea.

Antara Panggung dan Identitas

Konser pertama penyanyi Rain di Jakarta pada 2009 membuka pintu yang lebih besar dari sekadar musik. Setelah itu, Blackpink, SM Town, Twice, hingga deretan fan meeting artis Korea jadi fenomena rutin.
Tiap konser K-pop besar bukan cuma hiburan, tapi juga ritual sosial antre tiket, dandan ala idol, lightstick serempak, dan air mata bahagia di akhir lagu.

Di sisi lain, ada keheningan di ruang-ruang budaya lokal. Sanggar tari tradisional makin sepi, anak-anak muda lebih hafal nama member EXO daripada tokoh pewayangan.
Kita menukar kendhang dengan headset, dan mengganti pelajaran budaya dengan dance cover.

Namun apakah ini salah? Tidak sesederhana itu. K-pop tidak hanya menjual musik, ia menjual mimpi yang tertata dengan sistem estetika, disiplin, narasi sukses, dan solidaritas komunitas. Itu semua hal yang sering gagal disediakan oleh sistem budaya kita sendiri.

Sistem yang Diam

“Indonesia punya 200 bahasa lokal dan ribuan tradisi seni bernilai tinggi,” kata Muhammad Neil El Himam, Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kemenparekraf.
Sekitar 25 juta masyarakat Indonesia bergantung pada industri kreatif, dua kali lipat dibanding 10 tahun lalu.

Artinya, potensi itu ada. Tapi kenapa yang lebih kita rayakan justru budaya asing?

Karena sistem kita masih berpikir budaya adalah “warisan”, bukan “masa depan.” Kita masih menaruh kesenian tradisional di panggung seremonial, bukan di algoritma TikTok.
Kita menunggu anak muda datang ke museum, tapi tidak pernah membawa museum ke tempat anak muda berada.

K-wave berhasil karena mereka menjadikan budaya sebagai produk hidup dalam drama, fashion, makanan, bahkan kebijakan nasional. Kita? Kadang masih berdebat siapa yang “paling asli”, padahal dunia sudah bicara siapa yang paling kreatif.

Tubuh, Rasa, dan Identitas yang Terbentuk

Di jalanan kota besar, generasi muda tumbuh dalam suasana hibrida Makan nasi padang sambil dengerin New Jeans, nonton drama Korea sambil pakai mukena, belajar Hangul tapi lupa aksara Jawa. Kita jadi produk globalisasi yang indah tapi juga rapuh.

Ada kebanggaan baru yang muncul dari konsumsi budaya asing: “Aku suka Korea” bisa berarti “aku modern, up to date Identitas, dan terbuka.”
Sementara “aku suka budaya Indonesia” sering terdengar kuno, atau bahkan dianggap nasionalis berlebihan.

Mungkin di sinilah ironi itu berakar kita mencari identitas yang mudah diakses, terkurasi dengan rapi, dan punya estetika yang bisa dijual.
Kita ingin sesuatu yang bisa diunggah, bukan sesuatu yang perlu dipelajari pelan-pelan.

Mencari Rumah di Antara Dua Dunia

Gangsim Eom menutup presentasinya dengan kalimat sederhana, “Saya merasa seperti di rumah sendiri di Indonesia.”
Ironis, ya? Orang Korea merasa di rumah di Indonesia. Sementara banyak orang Indonesia merasa asing di negerinya sendiri.

Tapi mungkin, ini bukan cerita tentang kehilangan. Ini cerita tentang pergeseran. Budaya tidak mati ia hanya bergerak ke tempat di mana orang mau mendengarnya.
Dan kalau budaya lokal kita terasa hilang, mungkin karena kita terlalu sibuk menatap layar yang menampilkan wajah orang lain.

Pertanyaan yang Tertinggal

Bayangkan kalau semangat yang sama yang membuat jutaan orang rela begadang demi live streaming konser BTS kita salurkan untuk menonton pertunjukan Saman Dance atau mendukung musisi daerah. Bayangkan kalau kampanye budaya lokal punya produksi seindah video Blackpink dan sistem promosi serapi SM Entertainment.

Apa yang akan terjadi dengan wajah budaya kita?Mungkin ini saatnya berhenti menyalahkan K-pop, dan mulai belajar dari keberhasilannya. Karena di balik layar cerah dan koreografi sempurna, Korea menunjukkan satu hal penting: bahwa budaya bisa jadi kekuatan ekonomi, sosial, bahkan politik kalau kita menanganinya dengan serius.

Dan buat kita, mungkin pertanyaannya bukan lagi, Kenapa kita lebih kenal Korea Tapi kapan kita mau mengenal diri sendiri dengan semangat yang sama?

“Budaya bukan sesuatu yang diwariskan, tapi sesuatu yang dihidupi. Dan selama kita hanya jadi penonton, kita akan terus lupa seperti apa panggung kita sendiri.” @teguh

Tags: BTSBudayaK-PopTikTok

Kamu Melewatkan Ini

Malam Satu Suro: Horor atau Sekadar Mitos?

Malam Satu Suro: Horor atau Sekadar Mitos?

by dimas
Juni 18, 2026

Benarkah Malam Satu Suro identik dengan makhluk gaib dan kesialan? Simak fakta sejarah, tradisi, dan mitos yang selama ini bercampur...

Sesaji, Tradisi, atau Syirik? Perdebatan Bersih Desa Tak Pernah Usai

Bersih Desa: Antara Tradisi, Sesaji, dan Tuduhan Syirik

by dimas
Juni 17, 2026

Perdebatan Bersih Desa tak pernah usai. Tradisi sesaji, ajaran agama, dan identitas Jawa terus bertemu dalam ritual yang memicu pro...

Malam 1 Suro dan Jejak Sultan Agung Menyatukan Peradaban Jawa

Malam 1 Suro dan Jejak Sultan Agung Menyatukan Peradaban Jawa

by dimas
Juni 13, 2026

Malam 1 Suro bukan sekadar kisah mistis. Di baliknya tersimpan sejarah Sultan Agung menyatukan Jawa melalui budaya, tradisi, dan kalender...

Next Post
Nasib Sudewo di Ujung Sidang: Pati Memanas, Luthfi Minta Warga Tak Terprovokasi

Nasib Sudewo di Ujung Sidang: Pati Memanas, Luthfi Minta Warga Tak Terprovokasi

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id