Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dari WFH ke Work From Cafe, BBM Tetap Terbakar Diam-Diam

by dimas
Maret 27, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Pagi itu, laptop langsung menyala dan notifikasi pekerjaan bermunculan tanpa jeda. Namun, fokus tidak ikut hadir. Seekor kucing di sudut kamar terus mengeong mencari perhatian, sementara playlist musik di layar lain berganti tanpa henti. Dari dapur, suara wajan panas seolah ikut memanggil.

Hari kerja terasa longgar, hampir menyerupai hari libur.

Wacana work from home (WFH) satu hari dalam sepekan yang rencananya jatuh setiap Jumat muncul sebagai solusi untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Pemerintah mendorong aparatur sipil negara (ASN) menjalankan skema ini, lalu mengajak sektor swasta mengikuti ritme yang sama.

Secara konsep, logikanya sederhana: kurangi mobilitas, tekan konsumsi energi.

Sayangnya, realitas di lapangan bergerak ke arah yang berbeda.

Ini Belum Selesai

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

Pusaka Milik Raja atau Dinasti? Konflik Lama Karaton Solo yang Tak Pernah Selesai

Krisis Global, Solusi Lokal yang Goyah

Lonjakan harga minyak dunia setelah konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada Februari lalu mendorong pemerintah mencari cara cepat menahan konsumsi energi. Pengurangan perjalanan harian pekerja menjadi opsi paling praktis.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mendorong skema WFH satu hari setiap pekan. ASN menjadi target utama, sementara pekerja swasta menerima dorongan untuk menyesuaikan.

Kebijakan ini bertumpu pada satu asumsi penting: pekerja akan tetap berada di rumah.

Namun, asumsi itu mulai goyah bahkan sebelum kebijakan benar-benar berjalan.

Multitasking: Produktivitas atau Sekadar Terlihat Sibuk

Bagi banyak pekerja, WFH membuka ruang baru yang sebelumnya terkunci oleh rutinitas kantor. Lala, 24 tahun, langsung membayangkan skenario Jumatnya: menyelesaikan pekerjaan sambil bermain dengan kucing, sambil menjelajah musik baru.

Ia tidak sendirian.

Fenomena ini mencerminkan pola umum. Pekerjaan tetap berjalan, tetapi perhatian terpecah. Otak manusia tidak benar-benar bekerja secara paralel; ia hanya berpindah fokus dengan cepat. Setiap perpindahan itu mengurangi ketajaman kerja.

Bagi pekerja, kondisi ini terasa seperti kompromi yang nyaman. Tugas tetap selesai, hidup pribadi ikut bergerak. Namun, kualitas sering menjadi korban yang tidak terlihat.

Dari Rumah ke Kafe: Mobilitas yang Tak Pernah Hilang

Ketika suasana rumah tidak lagi mendukung, banyak pekerja mencari alternatif. Kafe menjadi pilihan yang terasa lebih “serius” sekaligus santai. Lingkungan baru memberi dorongan fokus yang sulit ditemukan di rumah.

Dari sini, muncul pola baru work from cafe (WFC).

Perubahan ini menggeser tujuan awal kebijakan. Alih-alih menekan mobilitas, WFH justru memindahkan mobilitas ke bentuk lain. Perjalanan tetap terjadi, hanya dengan alasan berbeda.

Sebagian pekerja memang menggunakan transportasi umum. Namun, banyak di antaranya tetap mengandalkan ojek online sebagai pelengkap perjalanan. BBM tetap terpakai, meski tidak selalu terlihat dalam hitungan sederhana.

Long Weekend yang Datang Lebih Awal

Penempatan WFH pada hari Jumat membuka celah lain. Hari kerja ini menempel langsung dengan akhir pekan, sehingga batas antara kerja dan libur mulai melebur.

Sebagian pekerja memanfaatkan momentum ini untuk bepergian lebih awal atau memperpanjang waktu istirahat. WFH perlahan bergeser menjadi work from anywhere (WFA), bahkan mendekati pola libur terselubung.

Ekonom energi dari UGM, Fahmy Radhi, melihat potensi ini sebagai masalah utama. Tanpa faktor paksaan seperti pandemi, pekerja tidak memiliki dorongan kuat untuk menahan mobilitas.

Akibatnya, konsumsi BBM tidak benar-benar turun. Pergerakan hanya berubah bentuk, bukan berkurang.

Pekerja di Antara Fleksibilitas dan Kelonggaran

Di tingkat pekerja, WFH menghadirkan dilema yang nyata. Salsa, 25 tahun, melihat peluang untuk mengatur hidup lebih fleksibel. Ia ingin bekerja sambil memasak, bahkan menyempatkan diri pergi ke pasar di pagi hari.

Sementara itu, Nanda, 24 tahun, memilih pendekatan berbeda. Ia tetap bekerja, tetapi membuka ruang untuk bermain gim di sela waktu.

Keduanya menunjukkan hal yang sama: batas kerja menjadi lebih cair.

WFH memberi otonomi, tetapi juga membuka celah kelonggaran. Tanpa pengawasan langsung, disiplin sepenuhnya bergantung pada individu. Tidak semua orang siap mengelola kebebasan ini dengan konsisten.

Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?

Jika dilihat dari atas, semua pihak tampak mendapat manfaat. Pemerintah memperoleh narasi efisiensi energi. Perusahaan bisa mengurangi biaya operasional. Pekerja menikmati fleksibilitas.

Namun, di balik itu, muncul konsekuensi yang tidak sederhana.

Produktivitas berpotensi menurun. Konsumsi BBM tidak benar-benar hilang. Mobilitas tetap terjadi dalam bentuk yang lebih tersebar. Batas antara kerja dan kehidupan pribadi semakin kabur, menciptakan kelelahan baru yang sulit diukur.

WFH memang menawarkan kebebasan, tetapi sekaligus mengikis struktur yang selama ini menjaga ritme kerja.

Sikap Tabooo: Solusi Cepat, Masalah yang Berulang

Kebijakan WFH satu hari dalam sepekan terlihat seperti jawaban instan untuk persoalan energi. Gagasan ini mudah dipahami, tetapi sulit dikontrol.

Budaya kerja yang masih menilai kehadiran fisik sebagai ukuran produktivitas membuat perubahan ini tidak cukup kuat jika hanya mengandalkan imbauan. Tanpa sistem evaluasi yang jelas, kebijakan ini berisiko menjadi simbol semata.

Alih-alih mengurangi konsumsi energi, pendekatan ini justru menyerupai upaya memindahkan masalah ke tempat lain. Angka mungkin terlihat turun di satu sisi, tetapi muncul kembali di sisi lain.

Ketika Rumah Kehilangan Makna

Perubahan ini tidak hanya menyentuh cara bekerja, tetapi juga cara manusia memaknai ruang hidupnya.

Rumah tidak lagi sepenuhnya menjadi tempat istirahat. Ia berubah menjadi ruang kerja yang terus aktif. Di sisi lain, pekerjaan kehilangan batas yang dulu jelas.

Ketika garis pemisah itu menghilang, fleksibilitas memang muncul, tetapi kebingungan ikut datang.

WFH terlihat modern dan adaptif. Namun tanpa kesiapan sistem dan budaya, ia berpotensi menjadi paradoks bekerja di mana saja, tetapi tidak benar-benar fokus di mana pun.

Di negara yang kerap memilih solusi cepat, pola ini terasa akrab. Kebijakan terlihat menjanjikan di awal, tetapi menyisakan pertanyaan di akhir.

Pertanyaannya kini tidak berubah kita benar-benar ingin menghemat energi, atau sekadar ingin terlihat sedang berusaha? @dimas

Tags: BBMFleksibelHematJakartaKerjaKopiKotamobilitaspekerjaProduktivitas

Kamu Melewatkan Ini

Ketika Waktu Dijual: Siapa yang Sebenarnya Memiliki Hidup Para Pekerja?

Ketika Waktu Dijual: Siapa yang Sebenarnya Memiliki Hidup Para Pekerja?

by teguh
Juni 2, 2026

Lampu minimarket yang biasanya menyala hampir tanpa jeda mendadak padam saat libur nasional 31 Mei hingga 1 Juni 2026 karena...

Patung Pancoran: Monumen Pengorbanan atau Tamparan untuk Pemimpin?

Patung Pancoran: Monumen Pengorbanan atau Tamparan untuk Pemimpin?

by teguh
Juni 2, 2026

Di tengah badai ekonomi, ketegangan politik, dan masa depan Indonesia yang penuh ketidakpastian pada pertengahan 1960-an, Presiden Soekarno mengambil langkah...

Patung Pancoran yang Dibayar dengan Pengorbanan

Patung Pancoran yang Dibayar dengan Pengorbanan

by teguh
Juni 1, 2026

Jakarta memiliki banyak bangunan yang menjulang tinggi. Sebagian menjadi simbol kekuasaan. Lainnya tumbuh sebagai pusat ekonomi dan aktivitas masyarakat. Namun...

Next Post
Ruang Aman yang Dikhianati: Kasus Pemerkosaan Guncang Pariwisata Bali

Ruang Aman yang Dikhianati: Kasus Pemerkosaan Guncang Pariwisata Bali

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id