Rabu, Oktober 21, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dari Toba hingga Dairi: Saat Kesabaran Publik Mulai Retak

by dimas
November 17, 2025
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Edge – Warga negeri ini seolah tumbuh dengan satu kemampuan istimewa tahan banting level dewa. Listrik naik, mereka diam. Harga beras melambung, mereka menarik napas panjang. Janji politik basi, mereka masih disuruh sabar.

Setiap kali muncul masalah, satu kalimat selalu muncul: “Prosesnya sedang berjalan.”
Masalahnya, “proses” itu terasa seperti menunggu balasan chat dari gebetan tidak jelas progresnya, tidak jelas kapan selesai, dan selalu sukses membuat hidup tambah tegang.

Di tengah absurditas itu, kutipan Martin Luther King Jr terdengar seperti notifikasi yang mengingatkan semua orang bahwa kesabaran ada batasnya:
“There comes a time when the cup of endurance runs over…”
Kalau cawan terus diisi tanpa jeda, ia tidak hanya meluap ia pecah.

Gelombang Sumatera Utara: Saat Cawan Benar-Benar Tumpah

Pada awal November 2025, Sumatera Utara menunjukkan betapa publik sudah tidak ingin diam.

Pada 10 November, ribuan warga Tapanuli mendatangi kantor Gubernur Sumut. Mereka menuntut PT Toba Pulp Lestari (TPL) keluar dari Tanah Batak setelah lebih dari empat dekade konflik. Konsorsium Pembaruan Agraria mencatat bahwa TPL menguasai 291.263 hektar, termasuk 33.422 hektar tanah adat. Akibat konflik panjang itu, 470 warga menjadi korban, termasuk dua meninggal dan ratusan lainnya mengalami kriminalisasi.

Ini Belum Selesai

Api Dipadamkan, Masalahnya Jangan Ikut Dibiarkan

Survei SMRC: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Anjlok ke 44,5 Persen

Hanya dua hari kemudian, protes kembali muncul. Kali ini ratusan warga Parbuluan VI, Dairi, mendatangi Polres Dairi. Mereka meminta ketua PETABAL dibebaskan. Warga menilai PT GRUTI merampas 600-700 hektar hutan adat, mengeringkan sumber air, dan meningkatkan risiko banjir.
Akibatnya, masyarakat semakin solid, sementara pemerintah terlihat bergerak lambat.

Dari dua kejadian tersebut, pola konfliknya jelas: perusahaan menyerobot ruang hidup, tokoh lokal ditangkap, masyarakat bersatu, dan negara hanya bergerak setengah hati.

RUU Masyarakat Adat: Jalan Panjang yang Tidak Kunjung Selesai

Di tengah konflik yang meluas, RUU Masyarakat Adat tetap terjebak dalam ketidakjelasan. Selama 15 tahun, parlemen hanya memindahkannya dari meja ke meja. Proses ini berjalan lebih lambat daripada update game online.

Padahal Mahkamah Konstitusi sudah menegaskan sejak 2013 bahwa hutan adat bukan hutan negara. Namun pengakuan legal berjalan tersendat. Menurut AMAN, baru 2% wilayah adat yang mendapat legitimasi. Sisanya harus berhadapan dengan izin perusahaan yang justru keluar lebih cepat daripada KTP elektronik generasi pertama.

Karena tidak ada dasar hukum yang kuat, masyarakat adat tetap terjebak dalam ketidakpastian dan rentan kehilangan ruang hidup.

Dipuji Dunia, Diabaikan di Rumah Sendiri

Sementara itu, forum-forum internasional seperti COP30 menjadikan masyarakat adat sebagai aktor penting penyelamat hutan. Dunia mengakui bahwa mereka adalah “penjaga ekosistem paling efektif”.

Namun ironi muncul ketika mereka justru harus membuktikan hak hidup di negara sendiri. Banyak komunitas tidak menolak pembangunan; mereka hanya mempertahankan tanah leluhur. Jika hutan ditebang dan mata air hilang, bagaimana mungkin mereka bertahan?

Plot twist ini terlalu absurd bahkan untuk sinetron azab yang paling dramatis.

Ketika Cawan Itu Tak Lagi Mampu Menampung

Selama puluhan tahun, publik terus diminta bersabar:
– menghadapi perampasan tanah,
– melihat tokoh adat ditahan,
– menunggu konflik diselesaikan,
– menyaksikan RUU mangkrak,
– mendengar janji pengakuan 1,4 juta hektar tanpa kepastian.

Namun setiap wadah memiliki batas. Ketika ketidakadilan terus mengalir tanpa henti, cawan itu bukan hanya meluap ia hancur.

Pada akhirnya, pertanyaan ini muncul dan sulit dihindari:

Apakah kita akan menunggu sampai cawan itu pecah seluruhnya, atau mulai memperbaiki kebocorannya sebelum semuanya terlambat? @dimas

Kamu Melewatkan Ini

Starbucks Global Pangkas Gerai, Lalu Indonesia?

Starbucks Global Pangkas Gerai, Lalu Indonesia?

by Waras
Oktober 21, 2026

Starbucks mulai memangkas gerai di pasar global yang dinilai kurang menguntungkan. Di tengah perubahan strategi perusahaan induk, pasar domestik punya...

Dua Tahun Prabowo–Gibran, Demo DPRD DIY Dua Kali Ricuh

Demo Dua Tahun Prabowo-Gibran di DPRD DIY Diwarnai Kericuhan

by teguh
Oktober 20, 2026

Dua tahun Prabowo–Gibran diwarnai demonstrasi yang memanas di Yogyakarta, Selasa 20/10/2026. Berdasarkan pantauan langsung tim Tabooo.id, kericuhan terjadi dua kali...

Aksi Mahasiswa di Yogyakarta: Gedung Dewan Terbuka, Jawaban Kebijakan Masih Dinanti

Aksi Mahasiswa di Yogyakarta: Gedung Dewan Terbuka, Jawaban Kebijakan Masih Dinanti

by teguh
Oktober 20, 2026

Gedung wakil rakyat kembali menjadi tempat aksi mahasiswa menyuarakan kegelisahan. Sejumlah kelompok mahasiswa mendatangi Gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY),...

Next Post
“Billar Ditangkap Lagi”, Beneran atau Halu Berjamaah?

“Billar Ditangkap Lagi”, Beneran atau Halu Berjamaah?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id