• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Selasa, Maret 24, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Vibes

Dari Ledakan ke Perdamaian: Makna Tugu Ground Zero di Jalan Legian

Maret 20, 2026
in Vibes
A A
Dari Ledakan ke Perdamaian: Makna Tugu Ground Zero di Jalan Legian

Ground Zero, menumen untuk mengenang korban tragedi Bom Bali I. (Foto:Nem/Tabooo)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Di Jalan Legian, Kuta, ada satu sudut yang terasa ganjil. Bukan karena ramai justru karena terlalu biasa. Orang lewat, motor hilir-mudik, turis selfie, lampu toko menyala terang seolah tak pernah terjadi apa-apa. Namun, di tengah semua itu, berdiri sebuah tugu yang diamnya lebih keras dari suara klakson: Ground Zero, Tugu Peringatan Bom Bali I.

Di titik ini, waktu seperti menahan napas.

Bentuknya bukan sekadar monumen batu. Ia menyerupai kayonan gunungan dalam tradisi pewayangan Bali, simbol alam semesta, siklus hidup, dan keseimbangan. Putih, menjulang, seperti daun besar yang membingkai langit. Sementara itu, di bagian bawahnya, prasasti panjang memuat nama-nama. Bukan sekadar daftar; di baliknya ada manusia, cerita, dan rencana yang tak sempat selesai.

2002: Saat Dunia Mendadak Berhenti di Legian

Pada 12 Oktober 2002, Bali retak. Ledakan mengguncang Legian, merenggut 202 nyawa dari 22 negara. Angka itu memang dingin, tetapi di baliknya tersimpan 88 warga Australia, ratusan korban luka, serta ribuan keluarga yang hidupnya berubah selamanya. Sejak saat itu, dunia menoleh ke Bali—bukan karena pantainya, melainkan karena duka yang terlalu besar untuk diabaikan.

Tak lama berselang, Pemerintah Kabupaten Badung bergerak. Mereka membentuk tim, mengumpulkan gagasan, lalu menyaring berbagai masukan. Dari 17 desain yang diajukan, karya Ir. Wayan Gomudha akhirnya dipilih. Kemudian, dua tahun setelah tragedi, tepatnya pada 12 Oktober 2004, monumen itu diresmikan.

Dengan demikian, monumen ini bukan hanya penanda kehilangan, melainkan juga jawaban atas pertanyaan yang sulit: bagaimana cara hidup setelah luka sebesar itu?

RelatedPosts

Pantai Kuta Bali: Surga yang Dijual, atau Ilusi yang Disepakati?

Menunggu Ombak: Pelajaran Sunyi dari Senja dan Sebuah Organisasi

Alih-alih melupakan, Bali memilih untuk mengingat.

Monumen yang Berbicara dengan Bahasa Bali

Menariknya, cara mengingat itu tidak dilakukan dengan kemarahan, melainkan dengan simbol.

Di bagian bawah terdapat altar tempat sesaji, ruang sunyi untuk menghormati yang telah pergi. Selain itu, ada tiang bendera, tugu utama, serta tri kona nemu gelang, tembok setengah lingkaran yang melambangkan siklus kehidupan. Di tengahnya, kolam dengan sembilan pancuran air mengalir pelan, menjadi simbol roh.

Dengan kata lain, setiap elemen bukan sekadar hiasan, melainkan bahasa.

Bahasa yang menyampaikan satu hal sederhana: hidup tidak berhenti di tragedi.

Lebih jauh lagi, kayonan yang menjulang di pusat monumen membawa makna yang dalam. Dalam filosofi Bali, kayonan melambangkan kendali—tentang kehendak yang perlu diarahkan dan emosi yang harus dijaga. Karena itu, ia seakan berbisik bahwa bahkan dalam duka, manusia tetap memiliki pilihan: hancur atau bertahan.

Tat Twam Asi: Melawan Luka dengan Empati

Di titik ini, konsep Tat Twam Asi menemukan relevansinya. “Aku adalah kamu, kamu adalah aku.” Sebuah gagasan sederhana, tetapi sekaligus radikal. Sebab, ketika seseorang menyakiti orang lain, sejatinya ia juga menyakiti dirinya sendiri. Sebaliknya, saat menolong, ia sedang menyelamatkan dirinya.

Oleh karena itu, monumen ini menjadi unik. Ia lahir dari tragedi terorisme, tetapi tidak dibangun dengan kemarahan. Sebaliknya, ia berdiri di atas empati.

Di tengah dunia yang sering membalas kekerasan dengan kekerasan, Bali justru memilih jalur yang lebih sunyi namun jauh lebih dalam.

Antara Tempat Suci dan Spot Foto

Seiring waktu, Ground Zero berubah wajah. Kini, tempat itu tidak lagi sepenuhnya sunyi. Wisatawan datang silih berganti. Sebagian memahami sejarahnya, sementara yang lain mungkin hanya melihatnya sebagai latar foto.

Sekilas, ini terasa ironis. Namun demikian, di situlah realitas bekerja.

Di satu sisi, monumen ini tetap menjadi arsip rasa menyimpan duka kolektif dan jejak kehilangan. Di sisi lain, ia telah menjadi bagian dari denyut pariwisata Bali. Orang berhenti, memotret, lalu berjalan lagi.

Meski begitu, justru dalam pertemuan dua dunia itulah maknanya berkembang.

Bali Tidak Melupakan, Bali Mengolah

Mengingat, ternyata, tidak selalu harus sunyi. Terkadang, ingatan justru hidup di tengah keramaian.

Luka pun tidak selalu menuntut kesedihan yang abadi. Dalam banyak kasus, ia bisa berdampingan dengan tawa meski pelan, meski hati-hati.

Dengan demikian, tempat yang dulu menjadi titik nol kehancuran kini bertransformasi menjadi ruang temu. Orang-orang dari berbagai negara datang, berdiri di depan deretan nama, lalu diam sejenak.

Hanya beberapa detik. Namun, sering kali itu sudah cukup.

Yang Tersisa Setelah Segalanya Pergi

Barangkali, di situlah makna kebangkitan Bali berada.

Ia tidak hadir dalam teriakan, melainkan dalam ketenangan. Ia tidak tumbuh dari kebencian, tetapi dari pemahaman.

Ground Zero di Legian, pada akhirnya, bukan sekadar monumen. Ia adalah cara Bali berdamai dengan masa lalu tanpa menghapusnya. Ia juga menjadi pengingat bahwa dunia pernah runtuh di titik ini, tetapi manusia selalu punya cara untuk menyusun kembali puing-puingnya.

Pelan, memang. Namun justru karena itu, ia terasa lebih dalam.

Dan ketika malam turun, cahaya lampu menyinari kayonan yang putih itu. Pantulannya lembut, hampir seperti bisikan. Seolah ia ingin mengatakan bahwa di balik segala kehilangan, masih ada satu hal yang tersisa kemampuan untuk tetap menjadi manusia. @eko

Tags: baliGround ZeroKayonan BaliLegianMonumen Tragedi KemanusiaanTugu Bom Balitugu Peringatan
Next Post
Kabar Duka: Bos Djarum Bambang Hartono Meninggal Dunia di Singapura

Kabar Duka: Bos Djarum Bambang Hartono Meninggal Dunia di Singapura

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • SSD Lebih Awet dari HDD? Atau Kita yang Makin Takut Kehilangan Data?

    SSD Lebih Awet dari HDD? Atau Kita yang Makin Takut Kehilangan Data?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuta Not Crime: Kenapa Muncul di Tembok Poppies?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga Bitcoin Melemah di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KPK Buka Peluang Tahanan Rumah, Kasus Yaqut Jadi Sorotan Publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Trump Beri Ultimatum 48 Jam ke Iran untuk Buka Selat Hormuz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.