Tabooo.id: Vibes – Di linimasa hari ini, orang sering melihat kerbau hanya sebagai emoji, logo partai lama, atau ornamen rumah adat di buku IPS. Namun jauh sebelum itu, kerbau pernah menjadi pusat hidup masyarakat agraris. Ia menentukan panen, menjaga ritme kerja, dan bahkan menandai harga diri petani. Di balik tubuhnya yang besar dan langkahnya yang lamban, kerbau menyimpan cerita panjang tentang kerja keras, kuasa, dan kehilangan.
Kerbau tidak sekadar hidup di sawah. Ia hidup di ingatan kolektif. Ia bergerak pelan, tetapi sejarah mengikutinya dari dekat.
Dari Kotak Suara ke Lambang Aspirasi
Ketika Indonesia menggelar Pemilu pertama pada 1955, lebih dari 30 partai politik ikut bertarung. Salah satunya, Partai Tani Indonesia (PTI), memilih simbol yang langsung berbicara kepada rakyat desa padi berbuah dan kepala kerbau dalam segitiga. PTI tidak mencari lambang abstrak. Partai itu mengambil simbol dari ladang yang nyata.
Raden Achmad Wangsadikarta, tokoh utama PTI, memahami posisi kerbau dalam hidup petani. Petani tidak menganggap kerbau sebagai aset tambahan. Mereka menggantungkan hidup padanya. Tanpa kerbau, mereka tidak mengolah tanah. Tanpa tanah, hidup mereka runtuh.
Melalui simbol itu, PTI menyampaikan pesan sederhana petani tidak meminta belas kasihan, mereka menuntut ruang dan keadilan.
Saidjah, Pantang, dan Pola Kehilangan
Sastra lebih dulu merekam nasib kerbau jauh sebelum poster kampanye memenuhi tembok kota. Dalam Max Havelaar (1860), Multatuli menghadirkan kisah Saidjah dan kerbau kesayangannya, Pantang. Ketika para priayi merampas Pantang demi pesta, mereka tidak sekadar mengambil seekor hewan. Mereka menghancurkan hidup seorang petani.
Tanpa kerbau, Saidjah kehilangan kemampuan mengolah ladang. Tanpa panen, ia gagal membayar pajak. Rantai penderitaan pun bergerak rapi, tanpa perlu kekerasan terbuka.
Hampir 150 tahun berlalu, tetapi pola itu tetap terasa akrab. Jika dulu para penguasa merampas kerbau, hari ini banyak pihak merampas tanah. Bentuknya berubah, logikanya tetap sama.
Menang karena Kerbau di Minangkabau
Di Sumatra Barat, kerbau membentuk identitas kolektif masyarakat Minangkabau. Nama Minangkabau sendiri lahir dari kisah adu kerbau. Ketika pasukan dari Jawa datang membawa kerbau besar bernama Binuang Sati, orang Minang memilih strategi cerdik alih-alih kekuatan militer.
Mereka menurunkan anak kerbau yang kelaparan dan mengikatkan pisau kecil di tanduknya. Hasilnya mengejutkan. Kerbau kecil itu menang. Pasukan lawan mundur. Dari peristiwa itu, lahirlah nama Minangkabau menang karena kerbau.
Sejak saat itu, masyarakat Minang mengangkat tanduk kerbau ke atap rumah gadang. Simbol itu bukan sekadar ornamen. Ia menjadi penanda kecerdikan, ketahanan, dan daya hidup.
Atap Rumah sebagai Arsip Budaya
Jejak kerbau juga membentang ke tanah Batak dan Toraja. Masyarakat Batak membentuk rumah adat menyerupai tubuh kerbau. Atap melengkung menjadi punggungnya, tiang-tiang menjelma kaki-kakinya, dan tanduk kerbau menghiasi bagian depan rumah.
Di Toraja, kerbau melampaui fungsi simbolik. Ia menjadi pusat ritual kematian. Kerbau belang tertentu memiliki nilai ratusan juta rupiah. Dalam upacara rambu solo, keluarga menyembelih kerbau sebagai bentuk penghormatan terakhir sekaligus penanda status sosial.
Ritual kematian di Toraja bahkan sering menelan biaya lebih besar daripada pernikahan. Kerbau mengantar arwah, mengikat keluarga, dan menyatukan kampung dalam satu peristiwa besar.
Dari Dapur ke Statistik Negara
Kerbau juga hidup di dapur masyarakat. Orang Minangkabau, Batak, Toraja, hingga Kudus mengolah daging kerbau sebagai sumber gizi dan identitas kuliner. Soto Kudus, misalnya, memilih daging kerbau sebagai tradisi yang terus bertahan.
Dalam setiap 100 gram daging kerbau, terkandung kalori, protein, dan kalsium yang cukup tinggi. Namun modernisasi pertanian terus menggeser peran kerbau.
Data BPS 2023 mencatat populasi kerbau Indonesia sekitar 1,1 juta ekor, dengan Nusa Tenggara Timur sebagai provinsi pemilik terbanyak. Angka itu tampak besar di tabel statistik, tetapi terasa kecil jika dibandingkan dengan peran historis kerbau dalam membentuk masyarakat agraris.
Refleksi Tabooo: Kerbau dan Kita Hari Ini
Hari ini, pembangunan jarang menyebut kerbau. Traktor menggantikannya. Proyek infrastruktur menggeser ladangnya. Petani kembali berdiri sendiri, berhadapan dengan pasar dan kebijakan.
Namun simbol kerbau tetap muncul, meski sering kehilangan konteks. Banyak orang memakainya tanpa memahami beban sejarah yang ia pikul. Kerbau mengajarkan satu hal penting: yang menopang peradaban sering berjalan paling pelan, paling sunyi, dan paling jarang mendapat sorotan.
Ia bekerja tanpa pidato. Ia berkorban tanpa unggahan viral.
Kerbau Tak Pernah Benar-Benar Pergi
Kerbau mungkin tidak lagi memenuhi sawah seperti dulu. Namun jejaknya tetap hidup di atap rumah, cerita rakyat, arsip sejarah, dan luka sosial yang belum sembuh.
Selama tanah masih diperebutkan, selama petani terus berjuang, dan selama ingatan kolektif belum benar-benar lupa, kerbau tidak pernah pergi. Ia hanya berganti peran dari tenaga kerja menjadi simbol, dari daging menjadi cerita.
Dan barangkali, dalam diamnya, kerbau terus mengingatkan kita bahwa sejarah selalu lahir dari mereka yang paling sering diabaikan. @dimas





