Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dari Gelombang Demo ke OTT KPK: Kontroversi Bupati Pati Sudewo

by dimas
Januari 20, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengonfirmasi bahwa Bupati Pati Sudewo menjadi salah satu kepala daerah yang diamankan dalam operasi tangkap tangan (OTT). Kepastian itu disampaikan langsung oleh Juru Bicara KPK Budi Prasetyo, pada Senin (19/1/2026), meski lembaga antirasuah belum membeberkan detail perkara yang menjerat Sudewo.

“Benar, salah satu pihak yang diamankan dalam peristiwa tertangkap tangan di Pati adalah saudara SDW,” ujar Budi saat dikonfirmasi.

Saat ini, tim KPK masih melakukan pemeriksaan intensif terhadap Sudewo di Polres Kudus sebelum menentukan status hukum lebih lanjut.

Kepala Daerah yang Sejak Lama Disorot Warganya

OTT ini tidak datang dari ruang hampa. Nama Sudewo sudah lama berada di bawah sorotan publik, terutama sepanjang 2025. Berbagai kebijakan yang ia keluarkan memicu kemarahan warga dan menjadikan Pati sebagai perhatian nasional.

Gelombang protes terus membesar. Masyarakat menilai Sudewo memimpin dengan gaya arogan dan kebijakan yang jauh dari kepentingan publik. Ketegangan antara pemerintah daerah dan warga pun kian mengeras.

Ini Belum Selesai

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

Chatib Basri Dipanggil ke Istana, Apakah Purbaya Akan Diganti?

Kebijakan Pajak yang Menyulut Amarah Publik

Puncak kemarahan warga terjadi ketika Pemkab Pati menaikkan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP). Penyesuaian itu berdampak langsung pada lonjakan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) hingga 250 persen.

Bagi warga Pati, kebijakan tersebut terasa seperti pukulan telak. Beban ekonomi meningkat, sementara ruang dialog nyaris tertutup. Akibatnya, puluhan ribu warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Pati Bersatu turun ke jalan dan menuntut Sudewo mundur dari jabatannya.

Demonstrasi besar itu bukan sekadar luapan emosi, melainkan peringatan keras bahwa legitimasi politik Sudewo mulai rapuh.

Warga Desak Mundur demi Menjaga Martabat

Koordinator Lapangan Penggalangan Donasi Aliansi Masyarakat Pati Bersatu, Teguh Istiyanto, bahkan sempat menyarankan agar Sudewo mengundurkan diri secara sukarela demi menjaga martabatnya sendiri.

“Supaya tertib, aman, damai, sebelum 13 Agustus seharusnya dia menggelar konferensi pers dan menyatakan mundur,” ujar Teguh pada Agustus 2025.

Menurut Teguh, pemakzulan hanya akan mempermalukan kepala daerah tersebut. Namun jika pengunduran diri tak dilakukan, warga siap mendorong langkah lebih keras.

Dari Jalanan Pati ke Gedung Merah Putih KPK

Tekanan publik tidak berhenti di daerah. Pada 1 September 2025, ratusan warga Pati mendatangi Gedung Merah Putih KPK di Jakarta. Mereka membawa spanduk “Save Pati” dan “Masyarakat Pati Bersatu” sebagai simbol perlawanan terhadap kepemimpinan Sudewo.

Dalam audiensi itu, KPK menyatakan akan melakukan koordinasi internal terkait tuntutan warga, termasuk kemungkinan menerbitkan rekomendasi penonaktifan Sudewo dari jabatannya.

Bagi warga, langkah tersebut menjadi secercah harapan agar konflik berkepanjangan di daerah mereka segera berujung kejelasan.

Bayang-bayang Kasus DJKA

Sebelum OTT ini, Sudewo juga sempat diperiksa KPK sebagai saksi dalam kasus dugaan suap pembangunan jalur kereta api di Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan.

Usai pemeriksaan pada Agustus 2025, Sudewo mengklaim telah memberikan keterangan secara jujur. Ia juga menegaskan bahwa uang yang pernah diterimanya tidak berkaitan dengan kasus DJKA dan berasal dari pendapatan sah saat masih menjadi anggota DPR RI.

Namun, penjelasan itu tidak sepenuhnya meredam kecurigaan publik.

Dorongan Menetapkan Tersangka dan Penolakan DPRD

Aliansi Masyarakat Pati Bersatu kembali mendesak KPK agar segera menetapkan status hukum Sudewo. Warga mengaku tidak nyaman dipimpin oleh kepala daerah yang terus dibayangi dugaan korupsi.

Di sisi lain, upaya pemakzulan Sudewo di tingkat daerah justru kandas. DPRD Kabupaten Pati menolak wacana pemakzulan melalui rapat paripurna pada 31 Oktober 2025.

Dari 49 anggota dewan, sebanyak 36 menolak pemakzulan, sementara 13 menyatakan setuju. Seluruh penolakan datang dari fraksi Gerindra, PKB, PPP, Golkar, Demokrat, dan PKS. PDIP menjadi satu-satunya fraksi yang mendukung pemberhentian Sudewo.

Keputusan itu menambah jarak antara sikap elite politik dan keresahan warga.

OTT KPK dan Pertanyaan yang Menggantung

Kini, OTT KPK menjadikan semua polemik itu menemukan titik baru. Sudewo resmi masuk daftar kepala daerah yang diamankan dalam operasi tangkap tangan, meski detail kasusnya masih dirahasiakan.

“Yang bersangkutan sedang menjalani pemeriksaan intensif oleh tim,” pungkas Budi Prasetyo.

Bagi warga Pati, OTT ini bukan sekadar proses hukum. Ini adalah ujian bagi negara apakah suara publik yang sejak lama berteriak akhirnya akan bertemu keadilan, atau kembali tenggelam di balik prosedur.

Sebab, di daerah yang warganya pernah dipaksa menanggung pajak berlipat, pertanyaan paling sederhana kini menggantung siapa sebenarnya yang selama ini harus menanggung beban kekuasaan? @dimas

Tags: Bupati PatiDaerahJawa TengahKepala DaerahKorupsi di IndonesiaKPKKriminal & HukumLokalNasionalOTT KPKPemerintahanPolitik IndonesiaSudewo

Kamu Melewatkan Ini

Sosialisme: Kata Terlarang yang Terus Menghantui Kekuasaan

Sosialisme: Kata Terlarang yang Terus Menghantui Kekuasaan

by dimas
Juni 9, 2026

Sosialisme pernah menjadi bagian penting dari sejarah pergerakan Indonesia. Namun kekuasaan mengubahnya menjadi kata terlarang yang terus dibayangi stigma, ketakutan,...

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

by teguh
Juni 9, 2026

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membuka kembali perdebatan lama tentang hubungan politik dan birokrasi daerah. Dalam rapat bersama Komisi II...

Tan Malaka vs Soekarno-Hatta: Pertarungan Kuasa di Awal Republik

Tan Malaka vs Soekarno-Hatta: Pertarungan Kuasa di Awal Republik

by Tabooo
Juni 8, 2026

Di awal berdirinya republik, Tan Malaka menuntut Merdeka 100%, sementara Soekarno-Hatta memilih jalan negara, pengakuan internasional, dan kalkulasi politik yang...

Next Post
Pesawat ATR yang Hilang Kontak Ditemukan di Puncak Bulusaraung

Keluarga Kapten ATR Menunggu Mukjizat di Tengah Pencarian

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id