Minggu, Juni 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Crypto Bisa Ambruk, Rupiah Bisa Loyo! Tapi Emas?

by Tabooo
Oktober 2, 2025
in Bisnis, Reality
A A
Home Reality Bisnis
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Bisnis – Emas. Logam kuning yang sejak ribuan tahun lalu jadi simbol kekayaan, maskawin politik, hingga “mata uang global” tanpa negara. Pertanyaannya sekarang: di tengah dunia yang makin gila dengan crypto, saham teknologi, dan investasi instan, masihkah emas relevan? Atau jangan-jangan, emas adalah satu-satunya aset yang benar-benar tahan banting ketika sistem keuangan modern ambruk?

Safe Haven Lama, Nafas Baru

Selama bertahun-tahun, emas dipandang kuno. Anak muda lebih tergoda trading saham, ngejar token digital, atau bikin portofolio startup. Tapi kenyataannya, data justru menunjukkan emas sedang menikmati renaissance. Bank sentral global, dari China sampai Turki, memborong emas dalam jumlah masif. Bahkan, catatan resmi menunjukkan pembelian emas bank sentral sejak 2022 konsisten di atas 1.000 ton per tahun, level tertinggi sejak 1950.

Pesannya jelas: ketika Dolar AS rapuh dan geopolitik makin panas, emas kembali jadi pegangan utama.

Di Indonesia, fakta ini lebih terasa. Harga emas Antam yang pada 2015 hanya sekitar Rp589 ribu per gram, kini sudah menembus lebih dari Rp2 juta. Dalam 10 tahun, emas naik 269%. Bandingkan dengan Rupiah yang melemah 13,8% terhadap Dolar AS di periode sama. Artinya, emas 19 kali lebih kuat dalam menjaga daya beli dibanding Rupiah.

Reformasi Pajak: Angin Segar Investor

Tak hanya global, domestik pun punya katalis baru. Mulai 1 Agustus 2025, pemerintah menurunkan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 untuk emas batangan dari 1,5% menjadi hanya 0,25%.

Ini Belum Selesai

Suran Agung PSHW ke-123: Madiun Mengawal Persaudaraan

TABOOO Corner Hadir di Winongo, Buka Ruang Membaca Realitas

Apa artinya? Margin keuntungan investor jadi lebih sehat, transaksi emas makin formal, dan beban pajak jauh lebih ringan. Investor besar, seperti high net worth individual (HNWI) atau institusi, jelas diuntungkan. Tapi jangan salah, rakyat biasa pun kecipratan manfaat, apalagi dengan menjamurnya emas digital.

Emas digital memungkinkan masyarakat berinvestasi mulai dari Rp10 ribu, bisa dicicil, likuid, bahkan bisa dikonversi jadi emas fisik kalau sudah terkumpul minimal 1 gram. Regulasi Bappebti membuatnya aman. Kombinasi ini bikin emas makin mudah diakses semua kalangan.

Risiko yang Tidak Bisa Diabaikan

Namun, jangan terlalu romantis. Emas tetap punya “harga tersembunyi.” Pertama, spread jual-beli emas fisik masih lebar. Kalau beli sekarang di harga Rp2,2 juta per gram, harga buyback bisa Rp100–200 ribu lebih rendah. Artinya, butuh horizon waktu cukup panjang sekadar untuk balik modal.

Kedua, emas adalah aset non-yield. Tidak memberi dividen, tidak memberi bunga. Jadi, bagi investor yang butuh arus kas, emas bukan jawabannya. Yang bisa diberikan emas hanyalah “rasa aman” — dan itu pun harus dibayar dengan biaya penyimpanan (safe deposit box) kalau disimpan fisik.

Ketiga, emas sangat sensitif terhadap pergerakan suku bunga riil. Ketika The Fed menurunkan bunga, emas biasanya terbang. Tapi ketika inflasi mereda atau data ekonomi AS menguat, emas bisa tertekan. Jadi, volatilitas jangka pendek tak bisa dihindari.

Game of Thrones Moneter Global

Dunia saat ini seperti panggung Game of Thrones. Resesi global mengintai, risiko stagflasi menghantui, dan perang dagang atau konflik geopolitik bisa pecah kapan saja. Di tengah ketidakpastian ini, emas kembali jadi bidak tua yang mampu bertahan, bahkan mendominasi papan permainan.

Bank investasi besar sekelas JPMorgan, Deutsche Bank, dan UBS kompak memproyeksikan harga emas bisa tembus $3.800–$4.000 per ons di 2026. Goldman Sachs bahkan mengeluarkan “peringatan ekstrem”: emas bisa menuju $5.000 per ons kalau independensi The Fed terguncang dan inflasi tak terkendali.

Artinya, emas bukan sekadar safe haven, tapi polis asuransi global terhadap krisis moneter.

Jangan Jadi Investor Latah!

Jadi, apakah emas masih relevan? Jawaban singkatnya: ya, tapi jangan salah kaprah. Emas bukan tiket cepat kaya. Dia adalah polis asuransi, yang mahal tapi terbukti ampuh.

Kalau tujuanmu cari cuan cepat, emas bisa bikin frustrasi. Tapi kalau kamu ingin jaga daya beli, lindungi Rupiah yang terus tergerus, dan tidur lebih nyenyak di tengah badai global, emas layak masuk portofolio.

Strateginya? Gunakan hybrid approach: emas fisik untuk jangka panjang (memanfaatkan reformasi pajak yang lebih ramah) dan emas digital untuk fleksibilitas harian. Tambahkan dengan reksa dana emas kalau ingin diversifikasi.

Akhirnya, keputusan kembali ke kamu: apakah kamu tipe investor yang rela menukar “kecepatan cuan” dengan “jaminan bertahan hidup”? @tabooo

Tags: BisnisEmasInvestasiNews

Kamu Melewatkan Ini

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

by Tabooo
Juni 10, 2026

DPR RI resmi sahkan RUU Polri menjadi undang-undang dalam rapat paripurna. DPR menyebut aturan baru ini memperkuat transformasi, pengawasan, netralitas,...

Dua Kirab Malam 1 Suro, Keraton Surakarta Masuk Zona Rawan?

Dua Kirab Malam 1 Suro, Keraton Surakarta Masuk Zona Rawan?

by Tabooo
Juni 9, 2026

Dua Kirab Malam 1 Suro di Keraton Surakarta disebut berpotensi digelar pada tanggal yang sama. Situasi ini memicu kekhawatiran karena...

Bundaran UGM Jadi Sorotan, Spanduk Permintaan Maaf Terbentang

Bundaran UGM Jadi Sorotan, Spanduk Permintaan Maaf Terbentang

by Tabooo
Mei 21, 2026

Spanduk bertuliskan “Surat Permohonan Maaf” muncul di Bundaran UGM, Yogyakarta. Isinya mengkritik pemerintahan Prabowo-Gibran dan sempat mencuri perhatian pengguna jalan...

Next Post
MBG = Makan Bergizi Gratis atau Makan Bergizi Gagal

MBG = Makan Bergizi Gratis atau Makan Bergizi Gagal

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id