Tabooo.id – Check: Beberapa waktu terakhir, media sosial ramai oleh klaim mengejutkan: “Program Makanan Bergizi (MBG) disabotase oleh jaringan PKI.” Kabar ini muncul setelah sejumlah kasus keracunan massal di sekolah yang menjalankan program makan gratis.
Dalam unggahan Facebook dan WhatsApp, narasi itu disebar dengan nada menakutkan, seolah ada gerakan bawah tanah yang sengaja meracuni anak-anak bangsa. Tapi apakah benar ini ulah PKI? Atau sekadar paranoia lama yang dihidupkan ulang demi kepentingan politik?
Fakta Resmi: Hoaks Ideologis, Bukan Sabotase
Hasil verifikasi dari Badan Gizi Nasional (BGN), BPKP, dan KPK menyebutkan:
- Tidak ada bukti sabotase.
- Insiden keracunan yang terjadi disebabkan kelalaian SOP (prosedur dapur SPPG baru), bukan sabotase terencana.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menegaskan bahwa seluruh kasus yang muncul diinvestigasi dan pelaksana lapangan yang lalai langsung dihentikan operasionalnya selama minimal 14 hari untuk perbaikan. Sedangkan BPKP — lembaga pengawas internal negara — memastikan bahwa setiap rantai distribusi, dari pengadaan bahan sampai distribusi ke sekolah, diaudit berlapis.
Dengan sistem pengawasan ganda antara BGN, BPKP, dan BPK, kemungkinan sabotase ideologis nyaris mustahil dilakukan tanpa jejak audit. Jadi, kalau pun ada kegagalan, itu murni salah manusia, bukan konspirasi komunis.
Dari Gizi ke Ideologi: Parasitisme Disinformasi
Narasi “PKI sabotase MBG” adalah contoh klasik dari hoaks ideologis — kabar palsu yang menumpang pada insiden nyata untuk memantik ketakutan kolektif. Ketika publik mendengar “keracunan makanan anak sekolah”, emosi langsung naik. Ketika label “PKI” ditambahkan, logika langsung mati.
Faktanya, Partai Komunis Indonesia sudah dibubarkan secara hukum sejak 1966 melalui TAP MPRS XXV/1966. Tidak ada entitas legal bernama PKI yang eksis hari ini, apalagi mampu menjalankan operasi sabotase nasional. Namun, istilah “PKI” tetap dipakai sebagai senjata politik, alat yang ampuh untuk mendeligitimasi pemerintah dan memancing kemarahan moral publik.
Hoaks semacam ini tidak butuh data, cukup nostalgia trauma.
Celah yang Dimanfaatkan
Laporan KPK sempat menemukan adanya pengurangan harga porsi makan dari Rp10.000 menjadi Rp8.000 — indikasi korupsi kecil yang nyata. Nah, celah inilah yang dieksploitasi penyebar hoaks: mereka mengubah kesalahan administratif menjadi “bukti sabotase ideologis.”
Padahal kasus itu bersifat teknis dan sudah ditindak oleh pemerintah, bukan konspirasi rahasia.
Kesimpulan
Klaim bahwa PKI menyabotase Program Makanan Bergizi adalah narasi rekayasa yang memanfaatkan ketakutan masa lalu. Masalah gizi, audit, dan pengawasan memang perlu dikritisi, tapi menuduh ada gerakan ideologis di baliknya hanyalah pengalihan dari substansi.
Yang merusak bangsa bukan sisa komunisme, tapi komunisme hoaks yang terus memakan akal sehat publik. @tabooo





