Tabooo.id: Vibes – Di era digital, kita mungkin lebih sering dihantui urban legend ala “Kuntilanak di Lift Malang” atau “Nyi Roro Kidul versi AI TikTok filter.” Namun jauh sebelum meme horor berseliweran di Reels, Jawa sudah punya season finale horornya sendiri lebih epik, lebih politis, dan lebih teatrikal daripada cinematic universe mana pun.
Bayangkan saja,
Seorang raja muda, kerajaan kacau, Kraton runtuh, dan satu-satunya tanah yang dianggap cocok untuk istana baru ternyata… rawa berlumpur penuh tanaman talas. Menurut cerita, rawa itu adalah “alamat kantor” para lelembut pimpinan Uling Putih dan Nyi Blorong.
Terdengar seperti pilot episode serial fantasi?
Nyatanya ini adalah sejarah Jawa abad ke-18.
Seperti banyak kisah Nusantara lainnya, batas antara kekuasaan dan dunia gaib tak pernah benar-benar jelas. Politik berjalan berdampingan dengan ritual, dan pembangunan istana dimulai dengan mengusir mereka yang tak kasatmata.
Rawa, krisis, dan Kraton yang kehilangan aura
Di pertengahan abad ke-18, Pakoe Boewono II menghadapi bencana besar. Geger Pecinan (1740-1743) tidak hanya meratakan Kraton Kartasura, tetapi juga meruntuhkan wibawa sang raja. Dalam kosmologi Jawa, Kraton yang rusak bukan sekadar bangunan runtuh itu pertanda spiritual bahwa pusat kekuasaan kehilangan pamornya.
Kraton yang “sudah tidak angker” bagi raja bukan lagi tempat yang layak ditinggali.
Solusinya sederhana namun penuh risiko
bangun Kraton baru di tanah dengan energi baru.
Pilihan jatuh pada Kedunglumbu tempat yang ironisnya dipenuhi rawa, talas, dan mitologi makhluk halus. Sebuah wilayah liminal antara dunia manusia dan dunia lain.
Namun bagi seorang raja, rintangan tak kasatmata bukan alasan untuk mundur.
Dari ritual Kraton ke narasi ruang kota: pemindahan kuasa sepanjang zaman
Jika dilihat dari perspektif hari ini, perpindahan Kraton bukan hanya kisah mistis. Ini adalah tata kelola krisis versi Jawa klasik. Alih-alih survei elektabilitas atau pidato stabilitas nasional, pemulihan wibawa dilakukan lewat ritual, prajurit simbolik, dan negosiasi dengan ranah spiritual.
Bandingkan dengan era modern:
Ketika negara memindahkan ibu kota atau membangun kawasan baru, bahasa yang dipakai lebih teknokratis: “kota hijau,” “masterplan,” “visi 2045.”
Namun intinya tetap sama.
memindahkan pusat kuasa demi mengembalikan aura kepemimpinan.
Zaman dulu, gusur lelembut.
Zaman sekarang, gusur polemik dan kritik publik.
Narasi tentang ruang selalu menjadi narasi tentang siapa yang berhak mengatur hidup orang banyak.
Mengusir para penghuni halus: drama ritual yang menjadi strategi komunikasi
Pembangunan Kraton Surakarta adalah operasi budaya berskala besar. Para penasihat raja melakukan apa yang kini bisa disebut sebagai cultural engineering:
- mengeringkan rawa
- menata ulang mitologi lokal
- menghadirkan prajurit ritual
- menciptakan visual kekuasaan
Bagian paling teatrikal adalah ritual pengusiran lelembut oleh pasukan Cantang Balung, Panyutro, hingga Prawirotomo. Mereka bukan sekadar prajurit; mereka adalah narasi berjalan, mitos yang diberi tubuh.
Cantang Balung dengan topi kerucut tinggi dan kalung melati?
Bukan kostum itu simbol dominasi spiritual.
Panyutro dengan bedak kuning dan keris?
Itu pernyataan bahwa raja datang membawa cahaya.
Prawirotomo serba hitam?
Itu visualisasi kekuatan yang tak perlu diterjemahkan.
Tabuhan gamelan menggema hingga langit gaduh, membuat para lelembut setidaknya menurut cerita rakyat kabur terbirit-birit sebelum sempat berkemas.
Legenda bahkan mencatat bahwa Nyi Roro Kidul memperingatkan penghuni Kedunglumbu agar pindah sebelum murka raja datang.
Semacam eviction notice supernatural.
Ritual-ritual itu akhirnya berhasil mengubah rawa talas menjadi pusat wibawa baru sebuah panggung bagi kekuasaan, dan panggung selalu membutuhkan narasi yang kuat.
Makna hari ini: ritual, ruang, dan hantu yang tetap menyertai kuasa
Apa makna budaya dari semua ini?
Kisah Pakoe Boewono II mengingatkan bahwa pembangunan ruang selalu melibatkan cerita baik narasi resmi negara maupun bisikan masyarakat. Bahkan hari ini kita masih percaya pada “energi tempat,” “lokasi hoki,” atau feng shui kantor startup.
Ruang fisik selalu berkelindan dengan yang metafisik.
Rawa Kedunglumbu mengajarkan bahwa pemimpin membutuhkan lebih dari sekadar bangunan untuk mempertahankan otoritas. Mereka membutuhkan cerita yang membuat rakyat percaya bahwa tempat itu layak menjadi pusat dunia mereka.
Narasi lelembut zaman dulu hanyalah metafora besar yang ditakuti bukan makhluk halus, melainkan runtuhnya wibawa.
Dan bukankah itu masih berlaku hingga sekarang?
Kraton yang tumbuh dari rawa, dan kuasa yang tumbuh dari cerita
Kraton Surakarta berdiri hingga hari ini kokoh, anggun, dan tenang. Tidak ada lagi talas, tidak ada lagi tanah becek, dan para lelembut sudah lama berpindah (atau setidaknya begitu katanya).
Namun mungkin, yang paling sulit diusir bukan makhluk dari dunia lain,
melainkan rasa takut manusia terhadap rapuhnya kekuasaan.
Setiap era punya “lelembut” sendiri
zaman Pakoe Boewono II berupa roh-roh Kedunglumbu,
zaman sekarang berupa kritik, krisis, dan komentar netizen.
Rakyat berubah, teknologi berkembang, tetapi kuasa selalu lahir dari satu hal:
cerita yang mampu dipercaya.
Dan kadang, cerita itu bisa menggeser rawa, menenangkan hantu,
bahkan mendirikan Kraton baru. @dimas




