Tabooo.id: Vibes – Saat orang menyebut candi, imajinasi kita kerap melompat pada bangunan batu raksasa yang menjulang, penuh relief, dan berlapis aura mistis. Namun bayangan itu langsung runtuh saat kaki melangkah ke Dusun Santan, Desa Wonorejo, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun. Di tempat inilah Candi Wonorejo berdiri sunyi, sederhana, tetapi menyimpan sejarah yang berlapis-lapis.
Alih-alih memamerkan kemegahan ala Borobudur atau Prambanan, Candi Wonorejo justru mengajak siapa pun untuk menunduk. Bukan karena bangunannya rendah, melainkan karena kisahnya tumbuh dari tanah, keyakinan lokal, dan kesetiaan warga yang menjaganya lintas generasi.

Punden yang Hidup Lebih Dulu dari Negara
Sebelum para arkeolog datang, warga Dusun Santan telah mengenal kawasan ini sebagai punden. Mereka melihatnya sebagai gundukan tanah yang dinaungi dua pohon besar nangka dan sepren. Di bawahnya, warga meletakkan altar batu kecil sebagai tempat sesaji bagi danyang atau leluhur pembabat wilayah.
Lebih dari sekadar tempat keramat, warga memperlakukan punden sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka membersihkannya secara rutin, menjaganya bersama-sama, dan menghormatinya lewat tradisi lisan. Bahkan ketika istilah “cagar budaya” belum dikenal, masyarakat telah lebih dulu merawatnya lewat praktik hidup dan keyakinan kolektif.
Wangsit yang Menggerakkan Tanah
Seiring waktu, kepercayaan itu bertemu peristiwa yang mengubah arah sejarah. Pada malam Jumat Wage, 30 Juni 1989, Sukarto Simun sesepuh Desa Wonorejo mengalami mimpi yang kemudian dipercaya sebagai wangsit. Dalam mimpi itu, seorang kakek memperkenalkan diri sebagai Buyut Resi Santanu Murti atau Mbah Buyut Bejo.
Pesannya sederhana namun kuat “degno omahku” dirikan rumahku. Sosok itu juga menuntun Sukarto menuju lokasi punden di Dusun Santan. Keesokan harinya, Sukarto langsung menggali gundukan tanah di sekitar punden. Pada kedalaman sekitar satu setengah meter, ia menemukan batu besar dengan posisi miring dan tidak lazim.
Penemuan tersebut segera menggerakkan warga dan perangkat desa. Lurah Wonorejo dan Lurah Kuncen kemudian mendorong penggalian lanjutan. Dari sinilah, cerita tentang Candi Wonorejo mulai menyebar perlahan, dari obrolan kampung menuju perhatian publik yang lebih luas.
Ilmu Pengetahuan Menyusul Keyakinan
Beberapa tahun setelah penemuan awal, negara akhirnya hadir. Pada 16 Maret 1996, Dinas Suaka Purbakala Jawa Timur memulai penelitian arkeologis di lokasi tersebut. Selanjutnya, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur melanjutkan kajian pada 1997-1998 sekaligus melakukan pemugaran serta membangun pelindung dan pagar pembatas.
Melalui penelitian itu, tim arkeolog menemukan Lingga dan Yoni di pusat bangunan. Lingga setinggi sekitar 70 sentimeter berdiri berdampingan dengan Yoni berukuran lebih besar. Temuan ini menegaskan fungsi situs sebagai tempat peribadatan Hindu. Sejak saat itu, publik mengenal situs ini sebagai Candi Wonorejo atau Candi Lingga Yoni.
Lingga, Yoni, dan Makna Kesuburan
Dalam kosmologi Hindu, Lingga melambangkan perwujudan Dewa Siwa, sementara Yoni merepresentasikan Dewi Durga sebagai pasangan sekaligus sumber kehidupan. Keduanya menyatu sebagai simbol kesuburan, penciptaan, dan kesinambungan hidup.
Makna tersebut selaras dengan fungsi awal kawasan ini sebagai punden. Spiritualitas di Candi Wonorejo berakar kuat pada tanah, alam, dan siklus hidup masyarakat agraris. Dengan demikian, keyakinan di tempat ini tidak lahir dari kemegahan arsitektur, melainkan dari relasi manusia dengan lingkungannya.
Candi Tanpa Tubuh, Ibadah Tanpa Gemerlap
Menariknya, Candi Wonorejo juga mematahkan bayangan umum tentang bentuk candi. Bangunan ini tidak memiliki tubuh dan atap batu. Sebaliknya, umpak-umpak batu berdiri di keempat sudut sebagai alas tiang penyangga.
Fakta ini menguatkan dugaan bahwa atap candi dahulu terbuat dari kayu. Oleh karena itu, Candi Wonorejo kemungkinan hanya berupa altar bertingkat tiga yang melindungi Lingga dan Yoni dari panas dan hujan. Kesederhanaan bentuk tersebut justru menegaskan bahwa fungsi spiritual lebih penting daripada simbol monumental.
Dari Punden Sunyi ke Ruang Refleksi
Kini, Candi Wonorejo terbuka bagi publik. Situs ini berfungsi sebagai destinasi wisata budaya, lokasi penelitian, sekaligus ruang refleksi. Sejarah di sini tidak hadir dengan nada menggurui. Sebaliknya, ia berbicara lewat keheningan yang mendorong siapa pun untuk berhenti sejenak.
Pada akhirnya, Candi Wonorejo mengajarkan bahwa warisan budaya tidak selalu lahir dari bangunan megah. Terkadang, ia tumbuh dari punden kecil yang dijaga keyakinan, lalu perlahan membuka diri sebagai jejak peradaban.
Di tengah dunia yang bergerak cepat, Candi Wonorejo memilih berdiri pelan. Ia seolah berbisik bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar pergi ia hanya menunggu kita datang, menunduk, dan mau mendengarkan. @dimas




