Tabooo.id: Regional – Drama politik di Kabupaten Pati akhirnya mencapai klimaks. Setelah dua bulan panas oleh isu pemakzulan, Bupati Sudewo berhasil lolos dari ancaman “kursi goyah”. Rapat paripurna DPRD Pati pada Jumat (31/10/2025) memutuskan: Sudewo tidak dimakzulkan, melainkan hanya ditegur halus lewat rekomendasi perbaikan kinerja.
Keputusan ini keluar setelah 49 anggota dewan bersuara. Hasil voting jelas: 36 anggota dari enam fraksi Gerindra, PKB, PPP, Golkar, Demokrat, dan PKS memilih opsi “rekomendasi”. Sementara Fraksi PDI Perjuangan, satu satunya yang ngotot memakzulkan, harus puas jadi minoritas di ruang sidang yang panas namun “terkendali”.
Ketua DPRD Pati, Ali Badrudin, berdalih semuanya berjalan sesuai prosedur. “Semuanya sudah dijadwalkan. Tidak ada rekayasa,” ujarnya dengan wajah tenang di tengah kerumunan wartawan.
Namun di luar gedung, suasana jauh dari tenang. Ribuan massa pendukung pemakzulan berorasi di bawah terik matahari, menuduh keputusan DPRD “melempem” dan “tidak berpihak pada rakyat”.
Sementara itu, Bupati Sudewo yang sempat disebut arogan dan suka memanipulasi kebijakan publik, justru tampil percaya diri. Ia berjanji akan memperbaiki kinerja. Janji yang, bagi sebagian warga, terdengar seperti lagu lama dengan irama baru.
Panitia Khusus (Pansus) hak angket sendiri sebenarnya telah membuka 12 temuan serius: mulai dari dugaan pembohongan publik, proyek infrastruktur yang tak transparan, pemecatan pegawai RSUD, mutasi ASN bermasalah, hingga kebijakan Pajak Bumi dan Bangunan yang bikin warga mengeluh. Tapi alih alih menjadi alasan pemakzulan, semua itu justru “disulap” menjadi bahan refleksi bersama.
Dari keputusan ini, satu hal jelas:
Yang diuntungkan tentu saja Sudewo, yang masih bisa duduk manis di kursi bupati sambil mengatur langkah politik berikutnya. Yang dirugikan publik Pati, yang sudah lama menanti akuntabilitas berubah jadi realita, bukan sekadar rekomendasi.
Dan seperti biasa, drama politik lokal berakhir dengan kalimat klise: “Kami akan memperbaiki diri.” Sayangnya, rakyat sudah terlalu sering mendengar janji itu dari orang yang sama, di kursi yang sama. @yudi




