Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Buku Masih Dicari, Pasar Sriwedari Mulai Ditinggal

by eko
Agustus 18, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on Facebook
Share on Twitter
Pasar Buku Sriwedari Solo masih mencatat kenaikan penjualan saat tahun ajaran baru. Namun, pembeli kini lebih banyak bertransaksi secara online daripada datang ke kios.

Tabooo.id: Surakarta – Pasar Buku Sriwedari pernah menjadi salah satu tujuan utama masyarakat Solo untuk mencari buku. Menjelang tahun ajaran baru, kawasan ini ramai oleh pembeli yang berburu buku pelajaran hingga mencari tempat parkir pun tidak mudah.

Kondisi itu kini berubah. Pedagang masih mencatat kenaikan penjualan pada Juli dan Agustus, tetapi jumlah pembeli yang datang langsung ke pasar tidak lagi seperti masa kejayaannya.

Purwadi, Ketua Paguyuban Pedagang Buku Belakang Sriwedari, mengatakan penjualan biasanya meningkat sekitar 20 persen saat tahun ajaran baru. Namun, peningkatan tersebut tidak sebesar kondisi sebelum 2006.

“Juli Agustus ada peningkatan tapi tidak signifikan, dan tidak sebanyak dulu di tahun 2006 ke bawah,” kata Purwadi.

Tahun Ajaran Baru Masih Dorong Penjualan

Tahun ajaran baru masih menjadi momentum penting bagi pedagang buku. Kebutuhan buku sekolah mendorong penjualan naik pada Juli dan Agustus.

Ini Belum Selesai

BBM Belum Normal, ASN Jember WFH: Siapa Menjamin Layanan Publik Tetap Jalan?

Prabowo dan Guterres Bertemu di Hambalang, Apa Agenda Indonesia di Panggung Dunia?

Namun, kenaikan itu tidak lagi membawa lonjakan pembeli ke Pasar Buku Sriwedari. Purwadi mengatakan suasana pasar saat ini jauh berbeda dibandingkan masa ketika kawasan tersebut menjadi tujuan utama warga Solo.

Dulu, pedagang bahkan melihat pengunjung kesulitan mencari tempat parkir. Kini, keramaian pada hari-hari tertentu juga tidak lagi setinggi sebelumnya.

Penjualan Offline Kini Hanya 5 hingga 10 Buku

Perubahan paling terlihat dari jumlah transaksi langsung di kios. Purwadi mengatakan penjualan offline sebanyak lima hingga sepuluh buku kini sudah menjadi capaian yang baik.

“Sekarang offline bisa menjual 5-10 buku itu sudah baik,” jelasnya.

Menurut Purwadi, hari yang dulu ramai kini bisa terasa seperti hari biasa. Kondisi tersebut membuat pedagang tidak bisa lagi mengandalkan penjualan langsung sebagai sumber utama pemasukan.

Buku tetap tersedia di kios-kios Sriwedari. Namun, pembeli kini memilih cara berbeda untuk mendapatkannya.

Pedagang Beralih ke Platform Online

Purwadi kemudian menyesuaikan cara berjualan dengan perubahan kebiasaan pembeli. Ia memanfaatkan sejumlah platform digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Ia menggunakan Shopee, Tokopedia, serta SIPLah untuk mendukung penjualan. Namun, Purwadi mengaku lebih fokus pada SIPLah dan Shopee karena keduanya sesuai dengan kebutuhan penjualan buku sekolah.

“Kita pakai media Shopee, Tokopedia dan lain-lain, tapi saya fokus kedua pakai aplikasi yang khusus sekolah Siplah dan Shopee,” ungkapnya.

Langkah tersebut membantu pedagang menjangkau pembeli yang tidak datang langsung ke Pasar Buku Sriwedari. Penjualan digital kini mengambil peran lebih besar dalam aktivitas perdagangan buku.

Penjualan Online Bisa Mencapai 100 Buku

Perbedaan transaksi online dan offline terlihat jelas saat tahun ajaran baru. Purwadi mengatakan penjualan melalui platform digital bisa mencapai sekitar 100 buku pada periode tersebut.

Sementara itu, penjualan langsung di kios berada jauh di bawah angka tersebut. Pada hari biasa, penjualan online juga turun dan berada di kisaran lima hingga sepuluh buku.

“Online kalau tahun ajaran baru ya bisa 100 buku, tapi kalau hari biasa paling 5-10 buku,” ucapnya.

Purwadi mengakui penjualan online kini lebih kuat dibandingkan transaksi langsung. Kondisi itu mendorongnya untuk terus mencari cara agar usaha buku tetap berjalan di tengah perubahan pola belanja.

“Ya saat ini ya lebih laku online, dan offline sekarang tidak bisa diandalkan,” tuturnya.

Pedagang Buku Ikut Kegiatan Pemerintah

Selain mengembangkan penjualan digital, Purwadi melihat adanya perubahan dalam hubungan pedagang buku dengan Pemerintah Kota Solo. Ia mengapresiasi langkah pemerintah yang mulai melibatkan pedagang dalam sejumlah kegiatan.

Ia secara khusus menyebut dukungan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo. Menurutnya, pedagang buku kini mendapat kesempatan untuk ikut dalam beberapa agenda.

“Yang sebelumnya kurang merangkul, lah yang saat ini Pak Maretha merangkul dengan baik ke pedagang buku khususnya,” katanya.

Purwadi menyebut pedagang buku terlibat dalam beberapa kegiatan, termasuk Jamasan Gongso dan lomba yang digelar dinas. Keterlibatan tersebut membuka ruang bagi pedagang untuk hadir dalam aktivitas budaya kota.

Pedagang Harapkan Perbaikan Kawasan

Purwadi juga berharap pemerintah memperbaiki fasilitas umum di kawasan Belakang Sriwedari. Ia menilai beberapa bagian kawasan masih membutuhkan pembenahan agar lebih nyaman bagi pedagang dan pengunjung.

Menurutnya, bagian timur dan barat kawasan belum mendapat perhatian fisik seperti lokasi tempatnya berdagang. Area tempatnya berjualan telah mengalami renovasi setelah kebakaran.

“Sebelah timur dan barat kan belum ada renovasi, kalau tempat saya setelah kebakaran direnovasi, harapan saya pemerintah dapat memperbaiki kondisi fisik Belakang Sriwedari,” terangnya.

Pedagang berharap perbaikan kawasan dapat menciptakan suasana yang lebih nyaman. Di tengah pergeseran transaksi ke platform digital, kondisi fisik pasar juga menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi minat masyarakat untuk datang.

Pasar Buku Sriwedari kini menghadapi perubahan besar dalam cara masyarakat membeli buku. Tahun ajaran baru masih meningkatkan penjualan, tetapi sebagian besar transaksi mulai bergerak ke ruang digital.

Bagi pedagang seperti Purwadi, perubahan itu menuntut penyesuaian. Mereka tidak hanya membuka kios dan menunggu pembeli, tetapi juga masuk ke platform online untuk menjaga penjualan tetap berjalan.

Buku masih dicari. Pembelinya juga masih ada. Namun, cara mereka membeli telah berubah.@eko

Tags: BukuOnlinepasar buku sriwedariSolosriwedari

Kamu Melewatkan Ini

Museum ke Hotel: Budaya Solo atau Pajangan Wisata?

Museum ke Hotel: Budaya Solo atau Pajangan Wisata?

by teguh
Oktober 13, 2026

Museum tak harus menunggu pengunjung datang. Kali ini, koleksi sejarah dan budaya Solo yang biasanya tersimpan di gedung museum justru...

Patriot Bengawan Bidik Posisi Kedua PORPROV Jateng

Patriot Bengawan Bidik Posisi Kedua PORPROV Jateng

by eko
Oktober 8, 2026

Patriot Bengawan siap berlaga di PORPROV Jateng 2026. Kontingen Surakarta membidik posisi kedua dengan target 95 medali emas. Tabooo.id: Surakarta...

Api Padam, Panas Belum Pergi: Apa yang Sebenarnya Terjadi di TPA Putri Cempo?

Api Padam, Panas Belum Pergi: Apa yang Sebenarnya Terjadi di TPA Putri Cempo?

by teguh
September 25, 2026

Api kembali muncul di TPA Putri Cempo, Solo, Kamis 24/9/2026. Petugas sebelumnya terus membasahi titik panas setelah kebakaran besar melanda...

Next Post
Rp5.000 yang Menggerakkan Ekonomi Kecil

Rp5.000 yang Menggerakkan Ekonomi Kecil

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id