Pasar Buku Sriwedari Solo masih mencatat kenaikan penjualan saat tahun ajaran baru. Namun, pembeli kini lebih banyak bertransaksi secara online daripada datang ke kios.
Tabooo.id: Surakarta – Pasar Buku Sriwedari pernah menjadi salah satu tujuan utama masyarakat Solo untuk mencari buku. Menjelang tahun ajaran baru, kawasan ini ramai oleh pembeli yang berburu buku pelajaran hingga mencari tempat parkir pun tidak mudah.
Kondisi itu kini berubah. Pedagang masih mencatat kenaikan penjualan pada Juli dan Agustus, tetapi jumlah pembeli yang datang langsung ke pasar tidak lagi seperti masa kejayaannya.
Purwadi, Ketua Paguyuban Pedagang Buku Belakang Sriwedari, mengatakan penjualan biasanya meningkat sekitar 20 persen saat tahun ajaran baru. Namun, peningkatan tersebut tidak sebesar kondisi sebelum 2006.
“Juli Agustus ada peningkatan tapi tidak signifikan, dan tidak sebanyak dulu di tahun 2006 ke bawah,” kata Purwadi.
Tahun Ajaran Baru Masih Dorong Penjualan
Tahun ajaran baru masih menjadi momentum penting bagi pedagang buku. Kebutuhan buku sekolah mendorong penjualan naik pada Juli dan Agustus.
Namun, kenaikan itu tidak lagi membawa lonjakan pembeli ke Pasar Buku Sriwedari. Purwadi mengatakan suasana pasar saat ini jauh berbeda dibandingkan masa ketika kawasan tersebut menjadi tujuan utama warga Solo.
Dulu, pedagang bahkan melihat pengunjung kesulitan mencari tempat parkir. Kini, keramaian pada hari-hari tertentu juga tidak lagi setinggi sebelumnya.
Penjualan Offline Kini Hanya 5 hingga 10 Buku
Perubahan paling terlihat dari jumlah transaksi langsung di kios. Purwadi mengatakan penjualan offline sebanyak lima hingga sepuluh buku kini sudah menjadi capaian yang baik.
“Sekarang offline bisa menjual 5-10 buku itu sudah baik,” jelasnya.
Menurut Purwadi, hari yang dulu ramai kini bisa terasa seperti hari biasa. Kondisi tersebut membuat pedagang tidak bisa lagi mengandalkan penjualan langsung sebagai sumber utama pemasukan.
Buku tetap tersedia di kios-kios Sriwedari. Namun, pembeli kini memilih cara berbeda untuk mendapatkannya.
Pedagang Beralih ke Platform Online
Purwadi kemudian menyesuaikan cara berjualan dengan perubahan kebiasaan pembeli. Ia memanfaatkan sejumlah platform digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Ia menggunakan Shopee, Tokopedia, serta SIPLah untuk mendukung penjualan. Namun, Purwadi mengaku lebih fokus pada SIPLah dan Shopee karena keduanya sesuai dengan kebutuhan penjualan buku sekolah.
“Kita pakai media Shopee, Tokopedia dan lain-lain, tapi saya fokus kedua pakai aplikasi yang khusus sekolah Siplah dan Shopee,” ungkapnya.
Langkah tersebut membantu pedagang menjangkau pembeli yang tidak datang langsung ke Pasar Buku Sriwedari. Penjualan digital kini mengambil peran lebih besar dalam aktivitas perdagangan buku.
Penjualan Online Bisa Mencapai 100 Buku
Perbedaan transaksi online dan offline terlihat jelas saat tahun ajaran baru. Purwadi mengatakan penjualan melalui platform digital bisa mencapai sekitar 100 buku pada periode tersebut.
Sementara itu, penjualan langsung di kios berada jauh di bawah angka tersebut. Pada hari biasa, penjualan online juga turun dan berada di kisaran lima hingga sepuluh buku.
“Online kalau tahun ajaran baru ya bisa 100 buku, tapi kalau hari biasa paling 5-10 buku,” ucapnya.
Purwadi mengakui penjualan online kini lebih kuat dibandingkan transaksi langsung. Kondisi itu mendorongnya untuk terus mencari cara agar usaha buku tetap berjalan di tengah perubahan pola belanja.
“Ya saat ini ya lebih laku online, dan offline sekarang tidak bisa diandalkan,” tuturnya.
Pedagang Buku Ikut Kegiatan Pemerintah
Selain mengembangkan penjualan digital, Purwadi melihat adanya perubahan dalam hubungan pedagang buku dengan Pemerintah Kota Solo. Ia mengapresiasi langkah pemerintah yang mulai melibatkan pedagang dalam sejumlah kegiatan.
Ia secara khusus menyebut dukungan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo. Menurutnya, pedagang buku kini mendapat kesempatan untuk ikut dalam beberapa agenda.
“Yang sebelumnya kurang merangkul, lah yang saat ini Pak Maretha merangkul dengan baik ke pedagang buku khususnya,” katanya.
Purwadi menyebut pedagang buku terlibat dalam beberapa kegiatan, termasuk Jamasan Gongso dan lomba yang digelar dinas. Keterlibatan tersebut membuka ruang bagi pedagang untuk hadir dalam aktivitas budaya kota.
Pedagang Harapkan Perbaikan Kawasan
Purwadi juga berharap pemerintah memperbaiki fasilitas umum di kawasan Belakang Sriwedari. Ia menilai beberapa bagian kawasan masih membutuhkan pembenahan agar lebih nyaman bagi pedagang dan pengunjung.
Menurutnya, bagian timur dan barat kawasan belum mendapat perhatian fisik seperti lokasi tempatnya berdagang. Area tempatnya berjualan telah mengalami renovasi setelah kebakaran.
“Sebelah timur dan barat kan belum ada renovasi, kalau tempat saya setelah kebakaran direnovasi, harapan saya pemerintah dapat memperbaiki kondisi fisik Belakang Sriwedari,” terangnya.
Pedagang berharap perbaikan kawasan dapat menciptakan suasana yang lebih nyaman. Di tengah pergeseran transaksi ke platform digital, kondisi fisik pasar juga menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi minat masyarakat untuk datang.
Pasar Buku Sriwedari kini menghadapi perubahan besar dalam cara masyarakat membeli buku. Tahun ajaran baru masih meningkatkan penjualan, tetapi sebagian besar transaksi mulai bergerak ke ruang digital.
Bagi pedagang seperti Purwadi, perubahan itu menuntut penyesuaian. Mereka tidak hanya membuka kios dan menunggu pembeli, tetapi juga masuk ke platform online untuk menjaga penjualan tetap berjalan.
Buku masih dicari. Pembelinya juga masih ada. Namun, cara mereka membeli telah berubah.@eko








