Pasar Buku Sriwedari pernah menjadi tujuan utama mencari buku di Solo. Kini, pembeli beralih ke online dan pedagang mencari cara baru untuk tetap bertahan.
Tabooo.id – Dulu, mencari buku di Solo hampir selalu punya satu arah: Sriwedari. Menjelang tahun ajaran baru, orang datang membawa daftar kebutuhan sekolah, menyusuri kios, membandingkan harga, lalu pulang dengan tangan penuh buku.
Pasar Buku Sriwedari pernah begitu ramai hingga pengunjung kesulitan mencari tempat parkir. Kini, suasananya berubah. Rak buku masih berdiri dan pedagang masih membuka kios, tetapi pembeli tidak lagi datang seperti masa kejayaannya.
Purwadi, Ketua Paguyuban Pedagang Buku Belakang Sriwedari, merasakan perubahan itu secara langsung. Tahun ajaran baru masih menaikkan penjualan, tetapi lonjakannya tidak lagi sebesar masa sebelum 2006.
Tahun Ajaran Baru Masih Membawa Kenaikan
Juli dan Agustus masih menjadi bulan yang dinanti pedagang buku. Purwadi mengatakan penjualan biasanya naik sekitar 20 persen ketika masyarakat mulai mencari kebutuhan sekolah.
Namun, kenaikan itu belum mampu menghadirkan keramaian seperti dulu. “Juli Agustus ada peningkatan tapi tidak signifikan, dan tidak sebanyak dulu di tahun 2006 ke bawah,” tuturnya, Selasa (18/8/2026).
Dulu, tahun ajaran baru membawa gelombang pembeli ke Sriwedari. Kini, musim tersebut hanya memberi tambahan penjualan tanpa mengembalikan kejayaan pasar buku itu.
Dulu Parkir Sulit, Kini Toko Lebih Sepi
Perubahan paling mudah terlihat dari suasana pasar. Hari yang dulu ramai kini sering terasa seperti hari biasa, bahkan saat pedagang berharap lebih banyak pembeli datang.
Purwadi mengatakan penjualan offline sebanyak lima hingga sepuluh buku kini sudah menjadi hasil yang cukup baik. Angka itu menunjukkan betapa besar perubahan yang terjadi sejak masa ketika pembeli memenuhi kawasan Sriwedari.
“Sekarang offline bisa menjual 5-10 buku itu sudah baik,” jelasnya. Buku tetap tersedia dan pedagang tetap bertahan, tetapi kebiasaan pembeli telah berubah.
Pembeli Tidak Berhenti Membeli, Mereka Berpindah
Masyarakat sebenarnya tidak berhenti membeli buku. Buku pelajaran tetap dibutuhkan dan tahun ajaran baru tetap menciptakan permintaan setiap tahun.
Namun, pembeli kini tidak selalu datang ke pasar. Mereka membuka ponsel, mengetik judul buku, membandingkan harga, lalu memasukkan barang ke keranjang digital.
Masalahnya bukan orang berhenti membeli buku. Mereka hanya berhenti datang ke pasar.
Internet mengubah cara masyarakat berbelanja. Marketplace menawarkan pilihan cepat, harga yang mudah dibandingkan, dan proses belanja tanpa mengharuskan pembeli meninggalkan rumah.
Ketika Pedagang Masuk ke Dunia Digital
Perubahan itu membuat pedagang harus mencari cara baru. Purwadi memilih mengikuti perpindahan pasar dengan memanfaatkan berbagai platform digital.
Ia menggunakan Shopee, Tokopedia, serta SIPLah untuk menjangkau kebutuhan sekolah. Namun, ia lebih memusatkan perhatian pada kanal yang sesuai dengan jenis buku yang ia jual.
“Kita pakai media Shopee, Tokopedia dan lain-lain, tapi saya fokus kedua pakai aplikasi yang khusus sekolah Siplah dan Shopee,” ungkapnya. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi bertahan ketika penjualan offline semakin sulit diandalkan.
Dulu, pedagang cukup membuka kios dan menunggu pembeli datang. Kini, mereka juga harus memahami toko digital dan memastikan calon pembeli bisa menemukan produk mereka.
Online Bisa Menjual Hingga 100 Buku
Perbedaan penjualan online dan offline menunjukkan perubahan itu dengan jelas. Purwadi mengatakan penjualan online bisa mencapai sekitar 100 buku saat musim tahun ajaran baru.
Sementara itu, penjualan offline sebanyak lima hingga sepuluh buku sudah menjadi hasil yang cukup baik. Pada hari biasa, penjualan online juga turun ke kisaran lima hingga sepuluh buku.
“Online kalau tahun ajaran baru ya bisa 100 buku, tapi kalau hari biasa paling 5-10 buku,” ucapnya. Angka itu menunjukkan bahwa pembeli tidak menghilang, tetapi mereka memindahkan transaksi ke ruang digital.
“Ya saat ini ya lebih laku online, dan offline sekarang tidak bisa diandalkan,” tuturnya. Karena itu, Purwadi mencoba menembus sistem baru agar usahanya tidak hanya bergantung pada pembeli yang datang langsung.
Ini Bukan Sekadar Pasar yang Sepi
Persoalan ini lebih besar daripada jumlah buku yang terjual setiap hari. Pasar Buku Sriwedari kini menghadapi perubahan cara masyarakat menggunakan ruang kota.
Dulu, orang datang ke pasar karena mereka harus mencari barang secara langsung. Kini, mereka bisa memesan banyak barang dari rumah dan menunggu kurir membawanya ke depan pintu.
Ini bukan sekadar pasar yang sepi. Ini pola tentang ruang lama yang harus mengejar kebiasaan baru.
Namun, pasar fisik menawarkan pengalaman yang berbeda. Orang bisa berjalan dari kios ke kios, melihat buku yang tidak mereka rencanakan, lalu menemukan sesuatu secara tidak sengaja.
Marketplace Memberi Pilihan, Pasar Memberi Pengalaman
Marketplace membuat transaksi lebih cepat dan praktis. Namun, pasar fisik memberi ruang bagi pengalaman yang tidak selalu bisa dihitung dari jumlah transaksi.
Di Sriwedari, orang tidak hanya membeli buku. Mereka juga bisa melihat, bertanya, berbincang, dan menemukan judul yang sebelumnya tidak pernah masuk daftar belanja.
Seseorang bisa datang mencari buku pelajaran, lalu pulang membawa novel. Orang lain mungkin datang tanpa rencana, tetapi menemukan buku yang kemudian mengubah cara pandangnya.
Algoritma menawarkan barang berdasarkan apa yang pernah kita cari. Sementara rak buku kadang mempertemukan kita dengan sesuatu yang belum pernah kita pikirkan.
Karena itu, Sriwedari tidak perlu melawan internet. Pasar ini perlu menemukan kekuatannya sendiri dan memberi alasan baru bagi orang untuk datang.
Pedagang Buku Mulai Terlibat dalam Kegiatan Kota
Purwadi melihat perubahan dalam hubungan antara pedagang dan pemerintah. Ia mengapresiasi Pemerintah Kota Solo, terutama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo, yang mulai merangkul pedagang buku.
“Yang sebelumnya kurang merangkul, lah yang saat ini Pak Maretha merangkul dengan baik ke pedagang buku khususnya,” katanya. Menurutnya, pedagang kini ikut dalam beberapa agenda dan kegiatan kota.
Ia menyebut Jamasan Gongso dan sejumlah lomba sebagai contoh kegiatan yang membuka ruang bagi pedagang. Keterlibatan ini memberi peluang agar pasar buku bisa terhubung dengan aktivitas budaya kota.
Pasar buku tidak harus berdiri sendiri sebagai tempat jual beli. Buku, sejarah, komunitas, dan kegiatan publik bisa bertemu dalam satu ruang.
Fasilitas Belakang Sriwedari Masih Perlu Perhatian
Kegiatan saja belum cukup untuk menghidupkan kawasan. Purwadi berharap pemerintah juga memperbaiki fasilitas umum di Belakang Sriwedari agar pedagang dan pengunjung merasa lebih nyaman.
Menurutnya, beberapa bagian kawasan masih membutuhkan perhatian. Ia menyebut area sisi timur dan barat belum mengalami pembenahan seperti lokasi tempatnya berdagang yang sudah mendapat renovasi setelah kebakaran.
“Sebelah timur dan barat kan belum ada renovasi, kalau tempat saya setelah kebakaran direnovasi, harapan saya pemerintah dapat memperbaiki kondisi fisik Belakang Sriwedari,” terangnya. Ia berharap pemerintah melanjutkan perbaikan ke bagian lain di kawasan tersebut.
Sebuah pasar tidak cukup hanya menyediakan kios dan barang dagangan. Pasar juga harus memberi kenyamanan agar masyarakat ingin datang dan kembali.
Sriwedari Tidak Bisa Hidup dari Nostalgia
Ada satu kalimat yang mudah muncul ketika orang membicarakan Pasar Buku Sriwedari: dulu ramai. Namun, kenangan tidak bisa menjadi strategi untuk menghadapi perubahan.
Masa ketika pengunjung kesulitan mencari parkir tidak akan kembali dengan sendirinya. Generasi baru memiliki kebiasaan baru dan mereka membutuhkan alasan berbeda untuk datang ke sebuah ruang fisik.
Sriwedari tidak perlu menghapus masa lalunya. Justru sejarah itu bisa menjadi modal untuk membangun identitas baru yang lebih relevan.
Pasar bisa menggelar pameran buku, diskusi, bazar kreatif, atau kegiatan komunitas literasi. Pemerintah, pedagang, dan komunitas juga bisa membangun agenda budaya yang membuat kawasan ini lebih hidup.
Pasar Buku Harus Punya Alasan Baru
Sriwedari perlu menawarkan lebih dari sekadar tempat membeli buku. Di tengah persaingan dengan marketplace, pasar fisik harus memberi pengalaman yang tidak bisa diberikan oleh layar.
Penjualan online dapat menjadi jalur transaksi utama bagi pedagang. Sementara itu, pasar fisik dapat menjadi ruang pertemuan antara pembaca, buku, pedagang, komunitas, dan kegiatan budaya.
Bayangkan seseorang datang untuk mengikuti acara budaya. Setelah acara selesai, ia berjalan ke deretan kios dan menemukan buku yang menarik perhatiannya.
Pertemuan seperti itu sulit dirancang oleh algoritma. Namun, pasar fisik bisa menciptakan kesempatan untuk mengalaminya.
Jangan Biarkan Sriwedari Hanya Menjadi Cerita Dulu
Pasar Buku Sriwedari pernah menjadi tujuan utama masyarakat Solo. Kini, tantangannya bukan hanya meningkatkan transaksi, tetapi mencari kembali alasan agar masyarakat mau datang.
Pedagang sudah mulai beradaptasi dengan dunia digital. Pemerintah juga mulai membuka ruang keterlibatan dalam sejumlah kegiatan, sementara kondisi fasilitas kawasan masih membutuhkan perhatian.
Mungkin Sriwedari tidak akan kembali persis seperti masa ketika mencari parkir saja terasa sulit. Namun, masa depan sebuah pasar tidak harus berarti mengulang masa lalu.
Yang dibutuhkan adalah cara baru untuk membuat ruang lama tetap berarti.
Di tengah dunia ketika hampir semua barang bisa dibeli melalui layar, pasar fisik harus menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar barang. Pasar harus menjadi tempat untuk datang, berjalan, bertemu, berbincang, dan menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dicari.
Pasar Buku Sriwedari masih memiliki buku, kios, dan pedagang yang memilih bertahan. Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah pasar itu pernah berjaya.
Pertanyaannya, apakah Solo siap memberi Pasar Buku Sriwedari alasan baru untuk kembali hidup?@eko








