Tabooo.id: Talk – Siapa bilang beres-beres rumah itu kegiatan netral dan minim drama? Bohong besar. Terutama ketika rak buku yang kamu bongkar. Lebih tepatnya, sisa-sisa koleksi buku yang masih selamat dari air, rayap, dan keputusan renovasi ala “ah nanti aja dipikirin”. Nah, tepat di momen itu, saya akhirnya sadar: swing mood menulis yang macet 3,5 bulan ternyata tidak benar-benar pergi. Dia cuma ngambek, duduk di pojokan, sambil nunggu dipancing memori.
Buku Rusak, Hati Ikut Retak
Mari jujur. Kita sering sok tegar sambil bilang, “Ya sudahlah, nggak apa-apa,” saat buku-buku favorit rusak. Padahal, hati jelas perih. Apalagi kalau buku-buku itu bukan sekadar bacaan, melainkan peta hidup. Hampir semua karya John Grisham lenyap. Full set Harry Potter kini cuma menyisakan buku ke-7 ironis, ya, yang bertahan justru penutup. Karya Dan Brown? Tinggal dua buku entah nyempil di mana.
Namun, yang paling bikin nyesek tetap James Redfield. The Celestine Prophecy dan saudara-saudaranya bukan bacaan iseng. Buku-buku itu berfungsi seperti kompas batin. Gara-gara Redfield, saya mulai lebih peka pada suara halus dalam diri suara yang sering kalah oleh notifikasi dan timeline.
Ketika Buku Mengajak Jalan-Jalan
Menariknya, buku-buku itu tidak berhenti bekerja meski fisiknya mati. The Historian mendorong saya napak tilas dari Turki ke Hungaria, dari Edirne sampai Brasov. Bahkan, saya sempat nengokin kastil cicitnya Dracula, Elizabeth Bathory, di Bratislava. Dari rasa kagum itu, pikiran mulai liar. Alhasil, lahirlah novel Cachtice Castle Blood Countess de Ecsed.
Novel itu kemudian dapat kontrak non-eksklusif di beberapa platform. Saya sengaja menghindari kontrak eksklusif 30 tahun. Maaf ya, hidup saya nggak sepanjang itu buat setia secara legal.
Kepo yang Mahal, Tapi Berfaedah
Selanjutnya, Dan Brown sukses bikin saya kepo akut. Saya sampai menghafal lokasi-lokasi fiksi, lalu nekat blusukan ke pemakaman pagan di Roma. Apakah saya menemukan lorong rahasia lintas negara tanpa imigrasi? Tentu tidak. Namun, rasa penasarannya justru mahal nilainya.
Sementara itu, Bhagavad Gita, Ramayana, dan Mahabharata mendorong saya keliling India dan Nepal. Di sisi lain, buku anak-anak karya HC Andersen menanamkan memori kastil yang terus memanggil setiap kali saya menginjak Eropa. Seolah-olah ada benang tipis yang mengikat imajinasi bocah dengan langkah kaki dewasa.
Dari Komik ke Kesadaran Menulis
Kalau kita tarik mundur, semua kebiasaan ini bermula dari komik. RA Kosasih, Petruk Gareng, Wiro Sableng, Si Buta dari Gua Hantu sekitar 400 komik saya koleksi saat usia 10 tahun. Saya menyewakannya ke teman-teman. Kapitalisme kecil-kecilan demi menambah koleksi. Dari situ, saya belajar satu hal penting: cerita bukan cuma untuk dibaca, tapi juga untuk dibagikan, diputar ulang, dan kalau berani ditulis.
Tentu saja, ada yang nyeletuk, “Ngapain sih segitunya sama buku? Isinya kan bisa dicari online.” Argumen ini sah. Akses informasi sekarang memang lebih cepat, murah, dan instan.
Namun, buku fisik bukan sekadar konten. Buku berfungsi sebagai saksi. Ia menyimpan lipatan, coretan, aroma kertas tua, dan jejak siapa diri kita saat membacanya. Kehilangan buku rasanya seperti kehilangan foto lama. Bisa kamu scan ulang, tapi rasanya tetap beda.
Swing Mood Bukan Musuh
Di tengah rak yang setengah kosong, saya menemukan beberapa buku karya saya sendiri terbit, nyata. Saya tersenyum tipis. Lalu, nasihat guru itu kembali terngiang:
“Menulislah, meskipun hanya untuk dirimu sendiri. Imajinasi adalah satu-satunya hal yang tak bisa dibatasi.”
Saat itu juga saya paham. Swing mood ini bukan musuh. Dia alarm. Dia penanda bahwa ada cerita menumpuk dan minta dikeluarkan.
Pin di Globe dan Imajinasi yang Konsisten
Oh ya, ada satu benda lagi: globe tua hadiah ulang tahun ke-13. Dulu, saya menancapkan pin di negara-negara impian. Sekarang? Lebih dari 45 negara sudah saya kunjungi. Semua pin tercapai. Not bad. Artinya, imajinasi bocah itu bekerja dengan konsisten diam-diam tapi nyata.
Jadi, Kamu Pilih yang Mana?
Pada akhirnya, mungkin inti persoalannya bukan meratapi buku yang rusak. Justru, kita perlu menghargai jejak yang mereka tinggalkan. Ketika menulis macet, barangkali kita cuma perlu kembali ke rak atau ke memori dan bertanya pelan-pelan: cerita mana yang belum kita balas jasanya?
Swing mood, ayo kerja sama. Hiatusnya kelamaan.
Sekarang giliran kamu. Kamu di kubu mana: move on dan beli lagi, atau biarkan kenangan yang bicara? @Risa Bluesaphier





