Euforia di Museum Nasional
Tabooo/id: Talk – Di Museum Nasional, Selasa itu, Indonesia menerima sertifikat ICH dalam suasana super-meriah. Pejabat menebar senyum, kamera memotret tanpa jeda, dan kata “momentum” bergaung di setiap sudut ruangan. Perayaan itu memuncak dengan ucapan yang terasa seperti alarm halus.
Endah Tjahjani Dwirini Retnoastuti dari Kementerian Kebudayaan menyampaikan sebuah kebenaran yang sulit kita abaikan.
“Masuk daftar UNESCO bukan akhir perjalanan. Ini baru awal dari tanggung jawab lebih besar.”
Benar sekali. Namun sebelum kita larut dalam semangat seremonial itu, mari berhenti sebentar. Kita perlu mengingat bahwa menjaga budaya bukan sekadar menaruh sertifikat di lemari kaca. Kita perlu menyediakan ruang latihan yang layak, mendukung komunitas, mengalokasikan dana, dan mengajak generasi muda untuk benar-benar belajar. Semua itu tidak hadir otomatis begitu UNESCO menandatangani dokumen.
Bangga Secara Global, Tapi Bagaimana Secara Lokal?
Pengakuan global memang membanggakan. Namun apakah kita sudah merawat pengakuan yang jauh lebih penting: pengakuan dari warga sendiri? Tanpa keterlibatan masyarakat, penghargaan dunia hanya terasa seperti bingkai cantik tanpa isi.
Coba kita jujur budaya kita hidup atau hanya tampil saat acara besar?
Kolintang dan Reog lahir dari ritual, komunitas leluhur, serta sejarah panjang yang tidak bisa kita ringkas dalam satu panggung singkat. Namun sayangnya, kita lebih sering melihat keduanya dalam festival tahunan atau konten viral berdurasi 30 detik. Begitu layar gelap, perhatian langsung hilang.
Dan di situlah masalahnya. Budaya yang jarang tampil dalam kehidupan sehari-hari perlahan melemah meski tidak mati. Ia menunggu panggilan, sementara dunia terus bergerak cepat.
Realitas Komunitas: Kerja Sunyi yang Tidak Terekam Kamera
Banyak komunitas seni terus berlatih dengan alat seadanya. Mereka menambal atap aula desa, merawat kostum, dan mengajar anak-anak tanpa jaminan bantuan. Mereka tidak menunggu UNESCO memberikan label kehormatan. Mereka menunggu negara hadir dengan komitmen nyata, bukan sekadar ucapan di podium.
Karena itu, ketika Endah menyebut sertifikat itu sebagai “mandat internasional”, ucapan itu mengingatkan kita bahwa pekerjaan berat baru dimulai dari titik ini.
Kubu yang Menganggap Ini Hanya Simbol
Di sisi lain, muncul suara yang berkata, “UNESCO itu simbol saja ngapain dibesar-besarkan?” Ada juga yang percaya pemerintah pasti menangani urusan budaya setelah masuk daftar internasional. Pandangan itu masuk akal, tapi tidak sepenuhnya tepat.
Tidak semua tradisi memiliki potensi wisata. Tidak semua seni mendapat tempat di kurikulum. Tidak semua komunitas mampu bertahan tanpa dukungan luas. Dan tidak semua warisan budaya mendapat panggung yang cukup untuk tumbuh.
Bahkan anak-anak kita lebih mengenal karakter Marvel daripada warisan seni lokal. Mereka bingung membedakan Kolintang dari Angklung atau melihat Reog dan menganggapnya mirip cosplay. Mereka tidak salah mereka hanya kurang akses.
Saatnya Kita Bicara Tanpa Basa-basi
Budaya Indonesia memegang keragaman yang luar biasa. Kita punya suara, warna, dan bentuk yang tidak pernah habis untuk dipelajari. Namun negara perlu bergerak lebih konkret: membangun ruang budaya, memberi insentif yang jelas, dan merancang program yang tidak hanya seremonial.
Generasi muda juga perlu bergerak. Mereka perlu ikut latihan, bukan hanya menonton. Mereka perlu bertemu langsung dengan para pelaku budaya, bukan hanya melihatnya di video pendek.
Masyarakat pun memegang peran penting. Kita perlu berhenti menganggap budaya sebagai “hiasan museum”. Karena budaya itu hidup dan kehidupan hanya berjalan ketika ada partisipasi, bukan sekadar tepuk tangan.
UNESCO menawarkan panggung. Kita yang menentukan apakah panggung itu akan terisi dengan masa depan, atau hanya dengan nostalgia.

16 Warisan UNESCO. Lalu yang Lainnya?
Saat ini Indonesia memiliki 16 Warisan Budaya Takbenda yang sudah masuk daftar UNESCO dari Wayang, Pencak Silat, Jamu, hingga Noken. Daftar ini membanggakan, tetapi tidak bisa menjadi satu-satunya fokus.
Tradisi yang belum masuk daftar pun tetap membutuhkan perhatian. Sertifikat bukan standar cinta. Bangsa yang matang justru merawat tradisi kecil yang jauh dari sorotan, yang hidup di kampung-kampung dengan komunitas mungil namun tekun.
Kita Ada di Persimpangan
Kita perlu menentukan arah. Apakah kita hanya bersorak setiap kali UNESCO mengumumkan pengakuan baru lalu melupakan pekerjaan lanjutan Atau kita ingin budaya ini hidup, tumbuh, dan hadir dalam keseharian?
Ini bukan pertanyaan tentang benar atau salah. Ini soal prioritas dan sikap kita terhadap identitas sendiri.
Jadi setelah Kolintang dan Reog masuk UNESCO, apa pilihanmu? Kamu ingin budaya ini hanya memegang sertifikat Atau kamu ingin melihatnya melahirkan masa depan?
Akhirnya, pertanyaannya sederhana Kamu di kubu yang mana?. @teguh




