Kamis, September 17, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Bonus Rp3 Miliar untuk Emas: Prestasi Dihargai, Pembinaan Dipertanyakan

by dimas
September 10, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter
Bonus Rp3 miliar untuk emas Asian Games menjadi apresiasi bagi atlet. Namun, pembinaan dan sistem prestasi juga perlu mendapat perhatian.

Tabooo.id – Ada satu angka yang langsung mencuri perhatian dari Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Angka itu mencapai Rp3 miliar.

Presiden Prabowo Subianto menjanjikan bonus tersebut bagi atlet Indonesia yang meraih medali emas Asian Games 2026.

Nilainya tiga kali lipat dari bonus emas SEA Games yang disebut Prabowo mencapai Rp1 miliar.

Kabar ini tentu terdengar menyenangkan bagi para atlet.

Ini Belum Selesai

Sopir Disandera, Mobil Dibakar: Tragedi Aris Sanda di Wamena

KPK Bongkar Dugaan Suap HGB: Urusan Tanah Berujung Koper Uang

Namun, ada pertanyaan lain yang jauh lebih besar.

Kalau emas dihargai Rp3 miliar, siapa yang membiayai jalan panjang menuju emas?

432 Atlet Membawa Nama Indonesia

Prabowo melepas kontingen Indonesia di Istana Merdeka.

Sebanyak 281 atlet hadir dalam acara tersebut.

Jumlah itu menjadi bagian dari total 432 atlet yang akan mewakili Indonesia di Asian Games 2026.

Mereka tidak sekadar membawa seragam pertandingan.

Para atlet membawa nama Indonesia ke panggung Asia.

Prabowo bahkan mengaku bangga kepada mereka.

Ia menyebut dirinya memiliki pangkat tertinggi di militer dan kini menjabat Presiden RI.

Namun, Prabowo merasa belum tentu mampu melakukan hal yang dilakukan para atlet.

“Saya sekarang Presiden Republik Indonesia, saya di tentara dapat pangkat yang tertinggi, tapi saya sebetulnya dalam hati saya, saya belum bisa seperti kalian ini mewakili bangsa,” kata Prabowo.

Kalimat itu menunjukkan satu hal.

Medali memang bukan sekadar benda.

Di baliknya ada representasi negara, kerja keras, dan pengorbanan.

Ketika Bonus Menjadi Sorotan

Prabowo kemudian mengumumkan bonus Rp3 miliar bagi peraih emas Asian Games.

Ia membandingkannya dengan bonus emas SEA Games.

“Untuk SEA Games medali emas dapat Rp1 miliar. Tapi ini Asian Games, medali emas Rp3 miliar,” ujar Prabowo.

Angka tersebut tentu menarik perhatian.

Namun, olahraga tidak bekerja seperti mesin sederhana.

Atlet tidak memasukkan latihan lalu menerima medali.

Mereka harus melewati proses panjang.

Medali lahir dari latihan, pelatih, fasilitas, kompetisi, serta nutrisi dan pemulihan yang terjaga.

Semua bagian itu membutuhkan dukungan.

Karena itu, bonus seharusnya menjadi penghargaan atas prestasi.

Bonus bukan fondasi yang menciptakan prestasi.

Medali Tidak Lahir di Podium

Di sinilah persoalan mulai terasa lebih serius.

Publik mudah melihat atlet ketika mereka berdiri di podium.

Kamera menangkap ekspresi bahagia.

Medali menggantung di leher.

Nama mereka memenuhi pemberitaan.

Namun, proses panjang sebelum momen itu sering luput dari perhatian.

Seorang atlet membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapai level tertinggi.

Mereka menghadapi latihan berat dan kompetisi berulang.

Mereka juga harus menjaga kondisi tubuh serta mental.

Pelatih ikut menyusun strategi dan menjaga konsistensi latihan.

Karena itu, pembinaan menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju medali.

Negara tidak cukup hadir saat atlet menang. Negara juga harus hadir sebelum kemenangan datang.

Prabowo Bicara Percepatan Karier

Perhatian pemerintah juga menyentuh pelatih dan pemimpin cabang olahraga.

Prabowo mengatakan prestasi dapat membuka jalan bagi percepatan karier.

Ia menyinggung permintaannya kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Menurut Prabowo, personel kepolisian yang berprestasi bisa mendapat percepatan karier.

Ia juga menyinggung pelatih dari kepolisian yang menghadapi persoalan kenaikan pangkat.

Pesan tersebut memperlihatkan bahwa prestasi melibatkan banyak orang.

Atlet memang berdiri di garis depan.

Namun, pelatih dan ekosistem olahraga ikut menentukan hasil.

Sayangnya, publik sering hanya mengingat nama yang naik podium.

Orang-orang di belakang layar kemudian menghilang dari sorotan.

Ini Bukan Sekadar Rp3 Miliar

Di sinilah twist-nya.

Ini bukan sekadar cerita tentang bonus. Ini cerita tentang cara negara membangun prestasi.

Bonus Rp3 miliar memang menunjukkan penghargaan negara.

Namun, angka itu tidak otomatis menyelesaikan persoalan pembinaan.

Justru sebaliknya, bonus membuka pertanyaan baru.

Apa yang terjadi kepada atlet sebelum mereka menjadi juara?

Bagaimana negara menemukan bibit baru?

Apakah fasilitas latihan mampu menjawab kebutuhan atlet?

Bagaimana nasib pelatih yang bekerja jauh dari sorotan?

Pertanyaan tersebut mungkin tidak sepopuler angka Rp3 miliar.

Tetapi pertanyaan itu menentukan masa depan olahraga Indonesia.

Jangan Jadikan Atlet Mesin Medali

Prabowo meminta atlet menunjukkan ketangguhan Indonesia.

Ia juga menekankan semangat pantang menyerah.

Pesan tersebut penting.

Namun, negara juga perlu melihat sisi lainnya.

Jangan sampai kalimat “pantang menyerah” berubah menjadi tuntutan tanpa batas.

Atlet memang harus disiplin.

Sistem pembinaan juga harus disiplin.

Atlet harus konsisten.

Pendanaan olahraga juga harus konsisten.

Prabowo mengutip rumus sederhana untuk menjadi juara.

“Latihan, latihan, latihan.”

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun, latihan membutuhkan ekosistem yang serius.

Tanpa fasilitas, pelatih, kompetisi, dan dukungan yang memadai, latihan tidak cukup.

Jadi, jika atlet harus latihan, latihan, latihan, sistem juga harus bekerja, bekerja, bekerja.

Lalu, Apa Dampaknya Buat Kamu?

Kamu mungkin bukan atlet.

Kamu mungkin juga tidak pernah mengikuti pemusatan latihan.

Namun, prestasi olahraga tetap punya hubungan dengan publik.

Sebab negara menggunakan sumber daya untuk membangun olahraga nasional.

Ketika pembinaan berjalan baik, lebih banyak anak muda mendapat kesempatan.

Bakat baru bisa muncul.

Karier baru bisa tumbuh.

Prestasi juga tidak lagi bergantung pada segelintir nama.

Karena itu, publik tidak hanya perlu melihat nominal bonus.

Kita juga perlu melihat investasi sebelum kemenangan.

Berapa banyak bakat yang terhenti karena fasilitas dan sistem gagal menemukan potensinya?

Pertanyaan itu memang tidak semeriah pengumuman bonus.

Namun, jawabannya jauh lebih menentukan.

Jangan Tunggu Medali untuk Hadir

Prabowo benar ketika menyebut perjuangan atlet sebagai kehormatan besar.

Mereka pantas mendapat penghargaan.

Mereka juga pantas mendapat dukungan yang layak.

Namun, negara seharusnya hadir jauh sebelum podium.

Negara perlu hadir ketika seorang anak mulai menunjukkan bakat.

Dukungan harus muncul ketika pelatih mulai melihat potensi.

Fasilitas harus tersedia ketika latihan semakin berat.

Pendampingan juga harus berjalan ketika kegagalan mulai datang.

Sebab medali tidak lahir di podium.

Medali lahir dari perjalanan panjang yang sering tidak terlihat kamera.

Rp3 miliar mungkin menjadi angka paling mudah diingat dari pelepasan kontingen Asian Games.

Namun, angka itu seharusnya tidak menutup pertanyaan yang lebih penting.

Seberapa serius negara membangun jalan menuju kemenangan?

Kalau atlet diminta latihan, latihan, latihan, negara juga punya tugas sendiri bina, dukung, dan pastikan mereka tidak berjuang sendirian. @dimas

Tags: Asian Games 2026Bonus Rp3 MiliarOlahraga IndonesiaPembinaan AtletPrestasi Atlet

Kamu Melewatkan Ini

Tiga Atlet Pertacami Membawa Merah Putih ke Asian Games 2026

Tiga Atlet Pertacami Membawa Merah Putih ke Asian Games 2026

by dimas
September 9, 2026

Tiga atlet PB Pertacami siap membawa nama Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026, bertarung di tiga nomor MMA dan mengejar...

Prabowo Lepas 432 Atlet ke Asian Games: Latihan, Mental dan Beban Harapan

Prabowo Lepas 432 Atlet ke Asian Games: Latihan, Mental dan Beban Harapan

by dimas
September 9, 2026

Prabowo melepas 432 atlet Indonesia menuju Asian Games 2026. Latihan, mental, dan beban harapan menjadi tantangan sebelum Merah Putih bertanding....

Kota Tanpa Arena Memanah: Ironi di Balik Prestasi Atlet Panahan Solo

Kota Tanpa Arena Memanah: Ironi di Balik Prestasi Atlet Panahan Solo

by teguh
Agustus 7, 2026

Sore mulai turun di sebuah lahan kosong di Kota Solo. Puluhan anak calon atlet panahan Solo berdiri berjajar sambil menggenggam...

Next Post
Tiga Pegawai Tewas di Papua, Ketika Pengabdian Tak Lagi Aman

Tiga Pegawai Tewas di Papua, Ketika Pengabdian Tak Lagi Aman

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id