Tabooo.id: Entertainment – Pernah dimarahi sebelum bikin salah? GTA 6 lagi-lagi mengalami itu. Game paling ditunggu tahun ini bahkan belum resmi rilis. Namun, kritik sudah berdatangan dari segala arah. Bukan dari emak-emak gamer. Bukan juga dari netizen Twitter. Kali ini, suara keras datang langsung dari pejabat Rusia.
Padahal Rockstar masih menyimpan rapat-rapat banyak detail GTA 6. Trailer masih terbatas. Gameplay belum terbuka penuh. Tanggal rilis pun masih jadi bahan tebak-tebakan. Tapi satu hal pasti: GTA selalu berhasil bikin orang panas.
GTA dan Drama yang Selalu Datang Lebih Awal
Sejak dulu, seri Grand Theft Auto memang akrab dengan kontroversi. Kekerasan, narkotika, kriminalitas semua hadir tanpa sensor manja.
Rockstar tidak pernah menjual dunia yang suci. Mereka menawarkan potret realitas yang kasar, absurd, dan kadang bikin tidak nyaman.
Kini, GTA 6 kembali jadi sasaran.
Dalam wawancara yang dilaporkan Dexerto, Mikhail Ivanov, Deputy Chairman World Russian People’s Council, menyebut GTA 6 sebagai “perangkat berbahaya dengan pengaruh besar”.
Ivanov menilai Rockstar sengaja memasukkan konten vulgar. Ia khawatir game ini bisa merusak kesehatan moral masyarakat Rusia. Bahkan, ia menyoroti satu detail yang cukup spesifik: keberadaan stripper lelaki.
Ya. Stripper lelaki.
Bukan perampokan. Bukan tembak-tembakan. Tapi itu yang bikin alarm moral berbunyi.
Bocoran Lama, Kepanikan Baru
Detail tersebut sebenarnya muncul dari bocoran Juni 2025. Seorang leaker bernama Gameroll_ membagikan sejumlah informasi soal GTA 6. Mulai dari dua karakter utama, sistem relationship meter, klaim 700 lebih toko yang bisa dimasuki, sampai kabar soal stripper lelaki.
Rockstar belum mengonfirmasi semua itu. Namun, bocoran tersebut sudah cukup memicu reaksi keras.
Ivanov bahkan meminta Rockstar menyediakan versi “bersih” khusus untuk Rusia. Versi GTA tanpa konten yang dianggap tidak bermoral.
Kalau itu terjadi, GTA mungkin masih GTA. Tapi tanpa taring.
Sensor, Moral, dan Ketakutan Kolektif
Sikap Rusia ini sebenarnya bukan kejutan. Negara tersebut terkenal ketat terhadap konten hiburan yang dianggap mengancam generasi muda. Film, musik, sampai game sering kena imbas.
Karena itu, peluang pemblokiran GTA 6 di Rusia bukan hal mustahil.
Ironisnya, GTA selama ini justru rajin menyindir politik, kapitalisme, media, dan kekerasan sosial. Ia bekerja sebagai satire. Namun banyak pihak hanya melihat permukaannya.
Mungkin masalahnya bukan pada gamenya.
Mungkin masalahnya ada pada ketakutan terhadap kebebasan berekspresi.
Ketika GTA Menunjukkan Sisi Paling Manusiawi
Di tengah tudingan soal moral, Rockstar justru melakukan hal yang menyentuh. Mereka memberi kesempatan memainkan GTA 6 lebih awal kepada seorang gamer pengidap kanker terminal.
Tanpa panggung. Tanpa drama.
Hanya empati.
Kontras ini terasa tajam. Di satu sisi, orang menuduh GTA merusak nilai hidup. Di sisi lain, game yang sama memberi kebahagiaan terakhir untuk seseorang.
Mungkin GTA memang seperti dunia nyata: kotor, kompleks, tapi tetap punya sisi hangat.
Sekarang giliran kamu.
Menurutmu, apakah game harus selalu tampil “aman”?
Atau justru perlu jujur menggambarkan realitas meski terasa pahit? @eko




