Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Barang Bekas dan Perjuangan Bertahan Hidup

by eko
Agustus 15, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on Facebook
Share on Twitter
Zono bertahan di Pasar Ledoksari dengan menjual kabel, charger, dan jack audio bekas mulai Rp5.000.

Tabooo.id – Di Pasar Ledoksari, Jebres, Surakarta, kabel bekas bisa menjadi sumber penghidupan. Bagi Zono (52), kabel cas, kepala charger, hingga jack audio punya nilai selama masih berfungsi. Dari barang-barang kecil itu, ia mencoba menjaga kehidupan tetap berjalan.

Lapak Zono tidak menawarkan barang mahal. Kabel, kepala charger, jack audio, dan berbagai aksesori elektronik kecil memenuhi ruang dagangnya. Ia memasang harga mulai Rp5.000 untuk sejumlah barang.

Nominal itu memang kecil. Namun, setiap barang punya cerita sebelum sampai ke tangan pembeli. Zono tidak mengambil stok dari distributor atau tempat kulakan. Ia membeli barang langsung dari warga yang datang ke lapaknya.

Sebagian warga menjual barang karena membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari sana, barang berpindah tangan dan kembali masuk ke perputaran ekonomi.

Bukan Kulakan, Tapi Membeli dari Orang yang Butuh Uang

Zono menjalankan bisnisnya dengan cara sederhana. Warga datang membawa barang yang masih punya nilai. Ia kemudian menawar dan membeli barang tersebut untuk dijual kembali.

Ini Belum Selesai

30 Menit Anak-anak Najaten Melawan Jarak

Dua Penyandang Disabilitas Masuk Dunia Kerja, Kesempatan Jadi Nyata

“Saya tidak pernah kulakan. Saya biasanya membeli barang orang yang butuh uang, yang biasanya buat beli beras,” terang Zono.

Kalimat itu memperlihatkan sisi lain perdagangan barang bekas. Transaksi tersebut tidak hanya mempertemukan penjual dan pembeli. Ada kebutuhan hidup yang ikut bergerak di antara keduanya.

Seseorang membutuhkan uang untuk membeli beras. Barang yang masih berfungsi kemudian masuk ke lapak Zono. Setelah itu, barang tersebut mencari pemilik baru.

Rantainya pendek. Tetapi denyut ekonominya nyata.

Kabel Cas Rp5.000, Murah Belum Tentu Cepat Laku

Belakangan, kabel cas, kepala charger, dan jack audio menjadi beberapa barang yang sering dicari pembeli. Zono menjual barang-barang itu mulai Rp5.000.

“Di hari-hari ini yang laku kabel cas, kepala charger dan jack audio. Semua harga Rp5.000,” ungkapnya.

Harga murah membuat barang tersebut menarik bagi pembeli yang ingin berhemat. Mereka bisa mencari pengganti tanpa harus mengeluarkan uang lebih banyak.

Namun, harga murah tidak menjamin penjualan setiap hari. Pembeli datang sesuai kebutuhan. Karena itu, pemasukan Zono juga terus berubah.

Hari ramai bisa membawa transaksi jualan sepi hanya menyisakan waktu panjang di lapak.

Hari Ini Rp10 Ribu, Besok Bisa Pulang Kosong

Zono mengaku penghasilannya tidak menentu. Dalam sehari, ia terkadang mendapat Rp5.000 hingga Rp10.000 dari hasil berjualan.

Ada pula hari ketika ia pulang tanpa membawa uang dari lapaknya.

“Jualan hari ini sulit. Baru bisa dapat uang ya enggak tentu. Kadang sehari dapat Rp5.000-Rp10.000 per hari, pernah juga enggak bawa uang,” terangnya.

Angka itu mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan omzet toko besar. Namun, pedagang kecil memiliki ukuran keberhasilan sendiri.

Ada barang yang terjual berarti ada uang yang masuk. Ada uang yang masuk berarti usaha hari itu menghasilkan sesuatu.

Jika tidak ada transaksi, Zono hanya punya satu pilihan: kembali mencoba esok hari.

Ekonomi Tidak Selalu Bergerak Lewat Angka Besar

Kita sering membicarakan ekonomi melalui angka besar. Pertumbuhan ekonomi, investasi, industri, hingga transaksi miliaran rupiah memenuhi ruang berita.

Namun, pasar menunjukkan wajah ekonomi yang berbeda.

Seseorang menjual barang karena membutuhkan uang. Pedagang membeli karena melihat barang itu masih punya nilai. Kemudian, pembeli datang karena membutuhkan barang dengan harga lebih terjangkau.

Tidak ada angka fantastis dalam rantai tersebut.

Tetapi uang tetap berpindah dari satu tangan ke tangan lain barang juga terus mencari fungsi baru.

Barang Bekas Punya Kesempatan Kedua

Loak sering kehilangan perhatian ketika pemiliknya tidak lagi membutuhkan. Namun, Zono melihat nilai yang masih tersisa di dalamnya.

Selama kabel masih berfungsi, orang masih bisa memakainya. Selama kepala charger masih bekerja, pembeli masih mencarinya. Begitu pula dengan jack audio yang masih bisa menghubungkan perangkat.

Di tangan Zono, barang-barang itu mendapat kesempatan kedua.

Ini bukan sekadar cerita tentang barang bekas. Ini cerita tentang bagaimana sesuatu yang kecil tetap membantu orang bertahan.

Barang yang tidak lagi berguna bagi satu orang bisa menjadi kebutuhan bagi orang lain. Zono berada di tengah rantai itu.

Ia membeli dari warga yang membutuhkan uang. Ia kemudian menawarkan barang tersebut kepada pembeli yang membutuhkan harga murah.

Di Balik Rp5.000, Ada Orang yang Sedang Bertahan

Cerita Zono memperlihatkan sisi ekonomi yang sering luput dari perhatian. Tidak semua orang mengejar omzet besar. Tidak semua pekerja punya pemasukan yang pasti setiap hari.

Sebagian orang hanya ingin memastikan kebutuhan hari ini terpenuhi.

Zono menjalani hidup dari ruang kecil di Pasar Ledoksari. Ia membuka lapak, menunggu pembeli, menawarkan barang, lalu menghitung hasilnya.

Kadang hasilnya Rp5.000, kadang juga Rp10.000.

Kadang tidak ada sama sekali.

Namun, ia tetap datang.

Sebab, selama masih ada barang yang bisa ia jual dan pembeli yang mencari, ia masih punya alasan untuk membuka lapak.

Bertahan Tidak Harus Berarti Untung Besar

Dari luar, lapak barang bekas mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Zono, lapak itu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Ia tidak tahu berapa uang yang akan ia bawa pulang. Ia hanya tahu bahwa setiap hari membawa kemungkinan baru.

Mungkin ada pembeli yang datang, mungkin ada kabel yang laku dan mungkin ada warga yang membawa barang untuk dijual.

Atau mungkin hari itu kembali sepi.

Tetapi hidup tidak selalu memberi pilihan yang ideal. Kadang, bertahan berarti tetap datang meski hasilnya belum pasti.

Rp5.000 mungkin tidak mengubah hidup dalam sehari. Namun, uang itu menjadi tanda bahwa usaha hari tersebut tidak sia-sia.

Dan ketika sore datang, ukuran keberhasilan Zono mungkin bukan lagi soal besar kecilnya keuntungan.

Mungkin ukurannya jauh lebih sederhana. Hari ini masih ada hasil. Besok masih bisa kembali. @eko

Tags: Barang BekasJebresLoakPasar LedoksariSurakarta

Kamu Melewatkan Ini

Bunga Bisa Mahal, Pedagang Belum Tentu Untung

Bunga Bisa Mahal, Pedagang Belum Tentu Untung

by eko
Agustus 19, 2026

Hujan bisa mengubah harga bunga tabur di Pasar Ledoksari. Kualitas turun, risiko naik, dan pedagang menghadapi peluang rugi. Tabooo.id –...

Gamelan Kraton Ditabuh, Sekaten 2026 Dimulai

Gamelan Kraton Ditabuh, Sekaten 2026 Dimulai

by eko
Agustus 19, 2026

Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar Miyosaken Gongsa Sekati dan mulai menabuh dua gamelan pusaka untuk membuka rangkaian Sekaten 2026. Tabooo.id...

Rp5.000 yang Menggerakkan Ekonomi Kecil

Rp5.000 yang Menggerakkan Ekonomi Kecil

by eko
Agustus 18, 2026

Sebuah kabel bekas bisa berpindah tangan beberapa kali sebelum kembali menemukan pemilik baru. Bagi sebagian orang, benda itu mungkin sudah...

Next Post
Data Korban Gempa Flores Salah, BNPB Minta Maaf

Data Korban Gempa Flores Salah, BNPB Minta Maaf

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id