Tabooo.id: Regional – Lebih dari dua pekan, banjir terus melanda sejumlah wilayah di Kota Pekalongan. Pada Minggu (1/2/2026), laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mencatat 35.993 kepala keluarga terdampak, dengan 14.397 rumah tergenang air setinggi 10-50 sentimeter.
Ratusan warga masih bertahan di pengungsian. Kepala Bidang Pengendalian Operasi dan Pengelolaan Data Informasi BPBD Jawa Tengah, Armin Nugroho, menyebutkan, “Sebanyak 297 jiwa masih mengungsi di lima titik penampungan, meski sebagian warga sudah mulai kembali ke rumah masing-masing.” ujarnya
Genangan air setengah meter membuat warga belum bisa kembali beraktivitas normal. BPBD bersama aparat terkait terus memantau wilayah terdampak, mendata pengungsi, menyalurkan logistik, dan mengoperasikan pompa air agar banjir surut lebih cepat. Armin menegaskan, kesiapsiagaan tetap penting karena curah hujan masih berpotensi tinggi di Pekalongan.
Tangisan Sungai Bremi dan Kisah Warga
Sujatmiko (60), salah satu warga Tirto yang rumahnya terendam, menuturkan penyebab banjir.
“Tanggul Sungai Bremi jebol. Air merambah, ditambah hujan deras. Rumah saya tenggelam, cuma atap genteng yang terlihat,” ujarnya.
Meski begitu, Sujatmiko menilai kebutuhan dasar di pengungsian masih terpenuhi.
“Konsumsi dan obat-obatan aman. Warga saling membantu. Mudah-mudahan banjir tidak kembali lagi. Daerah Tirto langganan banjir, tapi yang sekarang paling besar,” tambahnya.
Kisah warga ini memberi gambaran nyata bagaimana masyarakat paling terdampak ibu rumah tangga, lansia, dan anak-anak menanggung risiko sekaligus menahan stres akibat kehilangan tempat tinggal sementara.
Operasi Modifikasi Cuaca Diperpanjang
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperpanjang pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Pantura. Semula dijadwalkan 15-20 Januari, OMC kini diperpanjang hingga 24 Januari karena banjir belum surut dan potensi hujan ekstrem masih tinggi.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin, menegaskan, “Operasi Modifikasi Cuaca akan menyesuaikan perkembangan cuaca berdasarkan informasi dari BMKG.” tegasnya.
Langkah ini menunjukkan pemerintah berusaha merespons bencana secara dinamis, meski fakta di lapangan masih menantang warga untuk bertahan.
Dampak dan Refleksi
Banjir Pekalongan bukan sekadar masalah genangan air; ini ujian sistem tanggul, kesiapsiagaan pemerintah, dan ketahanan masyarakat. Warga yang kehilangan akses rumah, sekolah, dan mata pencaharian menjadi pihak yang paling menderita, sementara operasi pemerintah berupaya menambal sistem yang rapuh.
Jika air bisa berbicara, mungkin ia akan tersenyum melihat drama manusia yang mencoba menaklukkannya sambil tetap membasahi lantai rumah mereka. @dimas




