Banjir Nepal-China menewaskan sedikitnya 162 orang dan membuat ratusan lainnya belum ditemukan. Bencana dipicu longsoran es dan batu di kawasan Himalaya.
Tabooo.id: Nepal – Banjir bandang dahsyat menerjang kawasan perbatasan Nepal dan China pada Rabu (26/8/2026). Sedikitnya 162 orang tewas di Nepal, sementara ratusan orang masih hilang setelah air bah membawa lumpur, batu, es, dan puing dari kawasan Himalaya.
Bencana terutama menghantam Distrik Rasuwa dan Nuwakot serta sejumlah wilayah di sepanjang Sungai Bhotekoshi.
Arus deras menyapu permukiman, kendaraan, jalan, jembatan, fasilitas perdagangan, dan berbagai infrastruktur di kawasan perbatasan.
Medan pegunungan yang curam membuat air bergerak sangat cepat. Kondisi itu memangkas waktu warga untuk menyelamatkan diri.
Ratusan Orang Masih Hilang
Sebelumnya, Nepal Tourism Board mencatat 403 orang belum diketahui keberadaannya. Dari jumlah itu, 341 merupakan warga negara asing dan 62 lainnya warga Nepal.
Warga India menjadi kelompok asing dengan jumlah terbesar dalam daftar pencarian. Otoritas Nepal mencatat 133 warga India masih belum ditemukan.
Selain itu, daftar pencarian mencakup 47 warga Amerika Serikat, 34 warga Australia, 33 warga Inggris, dan 24 warga Kanada.
Warga Malaysia, Ukraina, Afrika Selatan, Singapura, Selandia Baru, Jepang, dan sejumlah negara lain juga masuk dalam daftar.
Juru bicara Dewan Pariwisata Nepal, Sunil Sharma, mengatakan sebagian besar warga asing tersebut merupakan wisatawan atau peziarah.
Mereka melakukan perjalanan menuju kawasan Gosaikunda dan Kailash Mansarovar ketika bencana terjadi.
Kondisi itu membuat banjir Nepal berkembang menjadi persoalan lintas negara. Pemerintah sejumlah negara kini ikut berkoordinasi dengan otoritas Nepal untuk mencari warganya.
Air Bah Datang Seperti Dinding
Banjir kali ini memiliki karakter yang berbeda dari banjir akibat hujan biasa.
Material es dan batu dari kawasan gletser runtuh lalu mengganggu aliran Sungai Lhende. Material tersebut kemudian membendung sungai sebelum air menerobos dan bergerak menuju Sungai Bhotekoshi.
Gelombang air membawa material dalam jumlah besar menuju kawasan hilir.
Kombinasi air, batu, lumpur, es, dan puing membuat arus memiliki daya rusak sangat besar.
Pejabat bea cukai Rasuwa, Rajendra Dhungana, menggambarkan kedatangan air seperti dinding yang bergerak cepat.
Menurut Dhungana, ratusan kendaraan dan truk di sekitar pos perbatasan ikut terseret arus.
Dalam waktu singkat, arus menghancurkan kawasan pasar Timure.
Peristiwa tersebut menjelaskan mengapa banyak warga tidak sempat menghindar. Kecepatan gelombang membuat waktu antara peringatan dan bencana menjadi sangat pendek.
Sistem Peringatan Tak Mampu Mengejar Bencana
Persoalan terbesar muncul pada sistem peringatan dini.
Kepala Divisi Peramalan Banjir Nepal, Binod Parajuli, mengatakan lembaganya baru menerima informasi mengenai banjir sekitar pukul 08.56 waktu setempat.
Petugas kemudian meneruskan peringatan ke wilayah hilir beberapa menit setelah informasi masuk.
Namun, air sudah lebih dahulu mencapai sejumlah kawasan di Rasuwa.
Stasiun pemantauan otomatis di hulu Sungai Bhotekoshi juga gagal mengirimkan peringatan. Banjir lebih dahulu menyapu sejumlah stasiun sebelum perangkat tersebut mengirim data.
“None of the stations was able to send us an alert,” kata Parajuli dikutip dari Reuters.
Kegagalan tersebut memperlihatkan satu masalah penting sistem peringatan harus mampu bertahan ketika bencana justru menghantam titik pemantauan.
Sensor saja tidak cukup.
Pemerintah membutuhkan kamera, sensor, jaringan komunikasi, pusat data, serta jalur peringatan yang mampu bekerja secara real time.
Lebih jauh lagi, Nepal membutuhkan koordinasi cepat dengan China karena sumber ancaman berada di kawasan lintas batas.
19 Jembatan dan 40 Kilometer Jalan Rusak
Banjir juga menghantam infrastruktur utama di kawasan perbatasan.
Sedikitnya 19 jembatan kendaraan dan sekitar 40 kilometer jalan mengalami kerusakan atau hanyut.
Kerusakan tersebut mengisolasi sejumlah wilayah.
Tim penyelamat kemudian menghadapi persoalan ganda. Mereka harus mencari korban sekaligus membuka kembali jalur menuju lokasi bencana.
Di Rasuwa, Timure dan Syaphrubesi menjadi dua kawasan yang mengalami kerusakan parah.
Air bah menyapu permukiman, pos keamanan, kantor bea cukai, kendaraan, serta fasilitas lain di sepanjang sungai.
Jalur menuju perbatasan Nepal-China juga mengalami kerusakan.
Akibatnya, kendaraan penyelamat menghadapi hambatan besar untuk mencapai wilayah terdampak.
Bencana Juga Menghantam Tibet
Dampak banjir tidak berhenti di Nepal.
Wilayah Tibet di China juga menghadapi banjir dan longsoran material dari kawasan pegunungan.
Associated Press melaporkan sedikitnya tiga orang tewas di Tibet. Ratusan orang lain juga masih hilang.
Dengan demikian, korban meninggal di kedua sisi perbatasan mencapai sedikitnya 165 orang berdasarkan angka yang tersedia dari kedua wilayah.
Namun, angka tersebut masih dapat berubah.
Tim penyelamat terus menyisir wilayah terdampak. Mereka juga menghadapi longsor, cuaca buruk, kerusakan jalan, dan gangguan komunikasi.
China juga mengerahkan tim penyelamat untuk mencari korban di wilayah Tibet.
Bencana ini sekaligus mengganggu jalur perdagangan dan mobilitas antara Nepal dan China.
Mengapa Himalaya Makin Rentan?
Banjir ini membuka persoalan yang jauh lebih besar daripada kerusakan satu kawasan.
Himalaya menghadapi kombinasi risiko: perubahan kondisi gletser, hujan ekstrem, longsoran, lembah sempit, serta keterbatasan sistem pemantauan.
Para ahli melihat perubahan iklim sebagai salah satu faktor yang dapat meningkatkan ketidakstabilan lingkungan gletser.
Namun, perubahan iklim tidak otomatis menjadi penyebab tunggal setiap bencana.
Dalam kasus Nepal, runtuhnya material es dan batu memicu rangkaian peristiwa yang kemudian menghasilkan banjir besar.
Masalahnya terletak pada efek berantai.
Satu perubahan di kawasan gletser dapat mengganggu sungai. Sungai kemudian membawa material dalam jumlah besar menuju permukiman di hilir.
Jika sistem peringatan gagal bekerja, masyarakat hanya memiliki sedikit waktu untuk bereaksi.
Ini Bukan Sekadar Banjir. Ini Masalah Sistem.
Banjir Nepal-China menunjukkan bagaimana bencana alam dapat berubah menjadi krisis kemanusiaan ketika beberapa sistem gagal bekerja secara bersamaan.
Gletser memicu longsoran.
Longsoran mengganggu aliran sungai.
Air kemudian membawa material dalam jumlah besar menuju wilayah padat aktivitas manusia.
Pada saat yang sama, stasiun pemantauan kehilangan kemampuan mengirim peringatan.
Jalan dan jembatan ikut hancur.
Tim penyelamat akhirnya kesulitan mencapai korban.
Inilah pola yang harus dibaca.
Ancaman tidak lagi hanya datang dari hujan deras.
Kawasan Himalaya menghadapi risiko bencana berantai yang bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk merespons.
Karena itu, Nepal dan China membutuhkan sistem peringatan lintas batas yang tidak hanya mengandalkan satu jenis sensor.
Kedua negara perlu menghubungkan pemantauan gletser, sensor sungai, kamera, komunikasi darurat, pusat data, dan mekanisme peringatan masyarakat.
Sistem tersebut juga harus tetap bekerja ketika bencana menghantam infrastruktur pemantauan.
Pencarian Korban Jadi Pertaruhan Berikutnya
Untuk saat ini, prioritas utama tetap pencarian korban.
Setiap jam menjadi penting karena ratusan orang masih belum ditemukan.
Tim penyelamat harus bergerak di tengah jalan yang rusak, jembatan yang runtuh, komunikasi yang terganggu, dan ancaman longsor susulan.
Keluarga korban juga masih menunggu kepastian.
Bagi mereka, angka korban bukan sekadar statistik.
Setiap nama dalam daftar orang hilang mewakili keluarga yang belum mendapatkan jawaban.
Bencana ini akhirnya meninggalkan pertanyaan yang lebih besar bagi Himalaya.
Seberapa cepat sistem manusia mampu membaca tanda sebelum alam mengubahnya menjadi bencana?
Jawabannya akan menentukan apakah tragedi berikutnya hanya menjadi peristiwa yang kembali dicatat, atau menjadi pelajaran yang benar-benar mengubah sistem peringatan di kawasan Himalaya. @dimas








