Tabooo.id: Deep – Sore itu, langit Aceh Utara kelabu. Air sungai mengaum keras sambil menyeret serpihan kayu yang tak terhitung jumlahnya. Warga Kecamatan Langkahan dan Paya Bakong hanya bisa menatap, terdiam di pinggir aliran sungai. Baru belakangan, mereka menyadari belasan hektare kayu terbawa arus banjir ledakan efek samping dari bencana yang menghancurkan rumah, sawah, dan harapan.
Kayu Terpendam, Ancaman Bencana Susulan
Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil akrab disapa Ayahwa mengungkap fakta mengejutkan. Kayu-kayu itu muncul setelah banjir mereda. Desa Buket Linteung di Langkahan dan pinggiran Krueng Keureuto di Paya Bakong menampung tumpukan kayu sisa banjir seluas 13 hektare. Tidak hanya menambah kerusakan, kayu-kayu itu berpotensi memicu bencana susulan jika tidak segera dibersihkan.
“Temuan kayu baru sudah kami laporkan ke Menteri Kehutanan. Alat berat kini membersihkan tumpukan di Desa Geudumbak, dan selanjutnya akan digeser ke Buket Linteung yang baru diketahui warganya,” ujar Ayahwa saat ditemui di Kantor Bupati, Senin (16/2/2026).
Kronologi dan Dampak Nyata
Banjir Aceh Utara menelan 247 korban jiwa, tertinggi di Provinsi Aceh. Hingga kini, sekitar 19.000 warga masih bertahan di tenda darurat menunggu pemulihan. Kayu yang hanyut menimbulkan kerusakan tambahan, menyumbat aliran sungai, dan memperbesar risiko banjir lanjutan.
Selain itu, warga setempat menceritakan pengalaman getir mereka.
“Air datang tiba-tiba, rumah kami terendam, dan kayu-kayu itu hampir menimpa kami. Kami tidak mendapat peringatan yang cukup,” ungkap seorang warga Langkahan.
Setiap batang kayu yang melintas membawa rasa takut, kerugian materi, dan trauma psikologis.
Mengapa Kayu Begitu Banyak?
Para analis lingkungan menilai kelalaian manusia ikut memperparah dampak banjir. Penebangan liar dan pengelolaan hutan yang lemah membuat sungai penuh material kayu. Akibatnya, saat banjir datang, kayu-kayu itu hanyut dan memperbesar efek bencana.
“Kelalaian dalam pengelolaan hutan langsung menimpa masyarakat kecil,” kata aktivis lingkungan lokal.
Selain itu, Ayahwa menekankan pentingnya pembersihan cepat. Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah pusat, termasuk Presiden Prabowo Subianto, yang memfasilitasi alat berat dan koordinasi kementerian terkait.
Perspektif Korban: Kehilangan dan Ketidakpastian
Bagi korban, setiap hari membawa ketidakpastian. Tenda darurat hanya menampung sebagian keluarga. Anak-anak bermain di antara puing, sementara warga tua menatap sisa rumah mereka dengan cemas.
“Kami berharap pemerintah tidak hanya membersihkan kayu, tapi juga memberi kepastian kapan kami bisa kembali menempati rumah,” kata seorang ibu pengungsi di Paya Bakong.
Ironi Bencana dan Tata Kelola
Di balik upaya cepat pemerintah, tersimpan ironi pahit. Hutan dirusak, sungai penuh sampah kayu, dan bencana menghantam warga yang tak bersalah. Sistem pengawasan yang lemah memberi ruang bagi efek domino ini. Banjir bukan sekadar fenomena alam ia mencerminkan ketidakpedulian manusia terhadap lingkungan dan perlindungan warga kecil.
Selain itu, dalam konteks politik, banjir Aceh Utara menguji kemampuan pejabat lokal dan pusat. Siapa yang bertanggung jawab ketika kelalaian menyebabkan kerugian besar bagi warga rentan? Dan mengapa kayu-kayu baru ditemukan belakangan? Semua pertanyaan ini membuka debat serius tentang tata kelola hutan dan sungai.
Banjir, Kayu, dan Pertanyaan untuk Publik
Ketika alat berat akhirnya mulai membersihkan tumpukan kayu, warga menyaksikan aksi heroik yang terlambat. Bencana ini mengingatkan bahwa di negara yang katanya peduli lingkungan, manusia kecil selalu membayar mahal akibat kelalaian sistem.
Aceh Utara kini belajar pelajaran pahit kayu hanyut bisa merampas rumah, menghancurkan sawah, dan menelan nyawa. Namun pertanyaan penting tetap: siapa yang benar-benar bertanggung jawab? Apakah hanya alam, atau juga tata kelola yang gagal menahan kehancuran?
Banjir Aceh Utara bukan hanya soal air yang meluap, tetapi soal kayu-kayu yang menjadi simbol kegagalan manusia menata bumi dan melindungi warganya. @dimas




