Tabooo.id: Global – Rencana pembangunan bandar antariksa di Indonesia kembali memanas. Kali ini, Rusia secara terbuka menyatakan kesiapan untuk ikut terlibat dalam proyek strategis tersebut. Pernyataan itu datang langsung dari Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, kepada kantor berita RIA Novosti.
Tolchenov menegaskan Moskow siap berbagi teknologi dan pengalaman jika pemerintah Indonesia membuka peluang kerja sama. Ia juga menekankan bahwa kedua negara sudah lama menjalin kemitraan eksplorasi antariksa damai, termasuk rencana peluncuran satelit orbit rendah Bumi.
Namun hingga kini, pemerintah belum mengambil keputusan final terkait proyek bandar antariksa di Pulau Biak. Karena itu, tawaran Rusia masih berada pada tahap penjajakan.
BRIN Ngebut Siapkan Regulasi dan Lahan
Di sisi lain, pemerintah melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai mempercepat persiapan. Dalam Rakornas Bandar Antariksa akhir 2025, Kepala BRIN Arif Satria menegaskan bahwa proyek ini merupakan amanah strategis negara untuk mencapai kemandirian akses antariksa menuju visi Indonesia Emas 2045. BRIN kini menyusun regulasi turunan dengan target pembukaan lahan pada 2026.
Plt Deputi Kebijakan Pembangunan BRIN, Anugerah Widiyanto, menjelaskan bahwa proyek ini sudah memiliki dasar hukum kuat, mulai dari UU Keantariksaan hingga Perpres rencana induk 2016–2040 yang akan diperbarui sampai 2045.
Biak: Surga Roket di Garis Khatulistiwa
Pulau Biak memiliki posisi geografis yang sangat strategis karena berada dekat garis khatulistiwa. Lokasi ini memungkinkan roket meluncur dengan konsumsi energi lebih efisien dan biaya lebih rendah, keunggulan yang sangat diburu dalam industri peluncuran global bernilai ratusan miliar dolar.
BRIN memperkirakan ekonomi antariksa global dapat mencapai sekitar 5% PDB dunia. Jika Indonesia berhasil masuk ke pasar ini, manfaatnya bisa meluas ke berbagai sektor, mulai dari investasi, penciptaan lapangan kerja, hingga penguatan diplomasi teknologi.
Siapa Paling Terdampak? Warga Lokal di Garis Depan
Di balik peluang besar tersebut, masyarakat lokal Biak menjadi pihak yang paling merasakan dampak langsung. Pembukaan lahan, pembangunan fasilitas teknologi skala besar, serta masuknya investasi asing berpotensi mengubah struktur sosial dan ekonomi setempat. Nelayan, komunitas adat, dan ekosistem pesisir menghadapi risiko paling awal sebelum manfaat ekonomi benar-benar terasa.
Selain itu, keterlibatan negara besar seperti Rusia juga membawa dimensi geopolitik. Infrastruktur antariksa bukan sekadar proyek teknologi; sektor ini berkaitan erat dengan keamanan nasional, pengawasan satelit, dan posisi tawar politik internasional.
Indonesia kini berada di persimpangan: menjadi pemain industri antariksa global atau hanya menjadi lokasi strategis bagi kepentingan negara lain.
Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana bandar antariksa ini akan benar-benar meluncurkan kemandirian Indonesia ke orbit, atau justru menjadi landasan peluncuran kepentingan pihak luar? Waktu yang akan menjawab, sementara roket politiknya sudah mulai menyala. @eko




